Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Quran Surat Ar Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Surat Ar Rum 21 Latin:

wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājal litaskunū ilaihā wa ja’ala bainakum mawaddataw wa raḥmah, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn

Arti Surat Ar Rum 21:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir,” (QS Ar Rum 21).

Tafsir, “Allah menciptakan untuk kalian dari diri kalian istri-istri”:

Tafsir At-Tabari:

يقول تعالى ذكره: ومن حججه وأدلته على ذلك أيضا خلقه لأبيكم آدم من نفسه زوجة ليسكن إليها، وذلك أنه خلق حوّاء من ضلع من أضلاع آدم.

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya dan bukti-bukti kebesaran-Nya yaitu Allah menciptakan pasangan untuk ayah kalian (Adam) dari dirinya, agar Adam merasa tenteram kepadanya, yaitu dengan menciptakan Hawa dari salah satu tulang rusuk Adam.”[1]

Tafsir Al-Qurtubi:

“Allah telah menciptakan kepada kalian perempuan-perempuan yang kalian merasa tenteram kepadanya, dari air mani kaum laki-laki dan dari jenis kalian.”[2]

Tafsir Ibnu Katsir:

حواء ، خلقها الله من آدم من ضلعه الأقصر الأيسر . ولو أنه جعل بني آدم كلهم ذكورا وجعل إناثهم من جنس آخر [ من غيرهم ] إما من جان أو حيوان ، لما حصل هذا الائتلاف بينهم وبين الأزواج ، بل كانت تحصل نفرة لو كانت الأزواج من غير الجنس

“Hawa, beliau diciptakan Allah dari tulang rusuk bagian kiri Adam. Seandainya Allah ta’ala menjadikan seluruh pejantan dari kalangan manusia, lalu menjadikan betina dari jenis yang lainnya, seperti dari jenis jin atau hewan, niscaya perasaan kasih sayang di antara mereka, dan di antara berbagai pasangan tidak akan tercapai. Bahkan dari situ akan terjadi ketidaksenangan seandainya pasangan-pasangan itu berbeda jenis.”[3]

Tafsir As-Sa’di:

تناسبكم وتناسبونهن وتشاكلكم وتشاكلونهن

“Kamu dan dia saling menjalin hubungan keluarga (besan). Kamu dan dia merasa saling cocok.”[4]

Tafsir Buya Hamka:

“Akan gelisahlah hidup kalau hanya seorang diri[5] karena kesepian, terpencil tidak berteman. Lalu si laki-laki mencari-cari si perempuan sampai dapat dan si perempuan menunggu-nunggu si laki-laki sampai datang. Maka hidup pun dipadukanlah jadi satu. Karena hanya dengan perpaduan jadi satu itulah akan dapat langsung pembiakan manusia.”[6]

Tafsir “Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa mawadah dan rahmah”:

Tafsir At-Tabari:

جعل بينكم بالمصاهرة والختونة مودة تتوادّون بها، وتتواصلون من أجلها

“Dengan menjalin hubungan kekeluargaan melalui perkawinan di antara kamu, dijadikan mawadah (kasih sayang) di antara kamu. Dengan itulah kamu menjalin hubungan. Dengan itu pula Allah jadikah rahmat di antara kamu sehingga kamu saling menyayangi.[7]

Tafsir Al-Qurtubi:

المودة الجماع ، والرحمة الولد

“Al-Mawaddah artinya hubungan intim, sedang rahmah artinya anak.”[8]

Tafsir Ibnu Katsir:

وجعل بينهم وبينهن مودة : وهي المحبة ، ورحمة : وهي الرأفة ، فإن الرجل يمسك المرأة إما لمحبته لها ، أو لرحمة بها ، بأن يكون لها منه ولد ، أو محتاجة إليه في الإنفاق ، أو للألفة بينهما ، وغير ذلك

“Dan Allah menjadikan di antara mereka Mawaddah, yaitu rasa cintah (mahabbah), juga Rahmah, yaitu kasih sayang. Seorang lelaki mengikat seorang wanita, adakalanya, dengan adanya rasa cinta atau kasih sayang. Yaitu dengan lahirnya seorang anak. Kadang kala dengan rasa saling membutuhkan nafkah, atau kasih sayang di antara keduanya, dsb.”[9]

Tafsir As-Sa’di:

فحصل بالزوجة الاستمتاع واللذة والمنفعة بوجود الأولاد وتربيتهم، والسكون إليها، فلا تجد بين أحد في الغالب مثل ما بين الزوجين من المودة والرحمة

Dengan adanya pasangan, kedua belah pihak dapat bersenang-senang, tidak kesepian, memperoleh manfaat adanya anak, serta mendidik mereka dan cenderung kepada pasangannya. Oleh karena itu, kita hampir tidak menemukan rasa cinta dan sayang lebih dalam seperti yang terdapat dalam pernikahan.[10]

Tafsir Buya Hamka:

Mawaddatan yang kita artikan dengan cinta adalah kerinduan seorang laki-laki kepada seorang perempuan dan seorang perempuan kepada seorang laki-laki yang dijadikan Allah tabiat atau kewajaran dari hidup itu sendiri.[11]

Tafsir, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir,”

Tafsir At-Tabari:

إن في فعله ذلك لعبرا وعظات لقوم يتذكرون في حجج الله وأدلته، فيعلمون أنه الإله الذي لا يُعجزه شيء أراده، ولا يتعذّر عليه فعل شيء شاءه

“Sesungguhnya dalam tindakan Allah itu terdapat pelajaran dan nasihat bagi kaum yang mau memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah, dan bukti bahwa kebenaran-Nya.[12] Dengan itulah mereka mengetahui bahwa Allah pasti melaksanakan kehendak-Nya dan tidak ada yang dapat menghalangi kehendak-Nya.”[13]

Tafsir Buya Hamka:

Ujung ayat ini memberi ingat kepada manusia agar mereka fikirkan ini kembali. Kenangkan baik-baik. Cobalah fikirkan bagaimana jadinya dunia ini, kalau kiranya manusia berhubungan di antara satu dengan yang lain, laki-laki dengan perempuan sesuka hatinya saja. Tidak ada peraturan yang bernama nikah dan tidak ada peraturan yang bernama talak. Lalu jika bertemu orang “mengawan”[14] saja laksana binatang, sampai perempuan itu hamil. Lalu si laki-laki pergi dan “mengawan” lagi dengan perempuan lain, dan seorang perempuan menyerahkan dirinya pula kepada segala laki-laki yang disukai atau menyukai dia. Kalau terjadi demikian, niscaya tidaklah begini dunia sekarang, dan tidaklah ada kebudayaan, tidaklah ada rasa cemburu.[15]

Kandungan Surat Ar Ruum 21


[1] Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam

[2] Selain Nabi Adam dan Hawa, semua manusia tercipta dari air mani

[3] Manusia hanya menikah dengan manusia. Laki-laki dari jenis manusia, menikah dengan wanita dari jenis manusia. Itulah mengapa pada ahli fikih menyebut haram seorang manusia menikah dengan jin atau bersetubuh dengan binatang

[4] Dalam urusan menikah, dua dari sekian banyak pertimbangan adalah, “Kecocokan dari keluarga kedua belah pihak, juga kecocokan dari kedua calon pengantin tersebut.”

[5] Pada dasarnya, orang yang menjomblo hingga berumur, dalam hatinya dia merasa gelisah.

[6] Inilah adat di Indonesia, yaitu laki-laki yang agresif mencari pasangan hidupnya, bukan sebaliknya, meski hal itu tidak dilarang dalam agama, tetapi apa yang disampaikan Buya Hamka ini adalah kebiasaan khas Indonesia.

[7] Rahmat Allah atas suatu pernikahan ialah berbuahnya rasa kasih sayang di antara anggota keluarga.

[8] Inilah penafsiran Imam Al-Qurtubi, bahwa mawaddah artinya hubungan intim, sedang rahmah artinya anak.

[9] Di antara beberapa hal, menurut Imam Ibnu Katsir, yang bisa menumbuhkan cinta dan kasih sayang adalah: 1) adanya anak dalam keluarga, 2) nafkah, dan 3) ingin dikasihi dan disayangi.

[10] Inilah di antara manfaat pernikahan menurut Syekh As-Sa’di.

[11] Inilah definisi cinta menurut Buya Hamka rahimahullah.

[12] Orang yang mau memikirkan tanda kebesaran Allah, dia akan mendapat pelajaran, nasihat, dan bukti kebenaran Allah. Tidak seperti orang atheis.

[13] Kehendak atau iradah Allah, pasti terlaksana, tidak ada yang bisa menghalangi kehendak Allah.

[14] Mengawan adalah bahasa melayu untuk menunjukkan perbuatan binatang jantan terhadap betina. Kalau manusia disebut bersetubuh atau hubungan intim.

[15] Dengan adanya pernikahan, nasab jadi terjaga. Sebaliknya, jika tidak ada pernikahan, lalu sex bebas di mana-mana, maka nasab atau garis keturunan menjadi rusak, pembagian hukum waris jadi berantakan, persaudaraan menjadi kacau. Nauzubillah.

Demikian tafsir dan kandungan surat ar ruum ayat 21. Semoga bermanfaat. Mohon selalu sertakan tautan ke situs ini jika mengopi atau menyalin bagian dari konten ini. Baarakallahu fiikum