Memperbaiki rumah di sini adalah memperbaiki rumah dari segi ruhani, bukan semata fisik atau bangunan. Ini adalah pengantar dari serial 40 Kiat Membangun Rumah Tangga Islami, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid hafizahullah.

Tulisan ini, dan tulisan-tulisan berikutnya, ditulis mengingat besarnya hajat keluarga muslim untuk memperbaiki sisi ruhani rumah tangga mereka. Betapa banyak keluarga muslim saat ini, yang secara biologis memiliki anak, tetapi secara ideologis mereka adalah keluarga yang mandul.

Betapa banyak dari keluarga muslim saat ini yang lambat laun mulai mengabaikan urusan tarbiyah, meremehkan pendidikan Islam terhadap anak, mengabaikan pengajaran masalah adab tata krama dan sopan santun.

Itu semua berangkat dari miskinnya kesadaran tentang arti penting rumah dan rumah tangga.

Mengawali nasihatnya, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid hafizahullah mengutip firman Allah ta’ala:

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا

“Dan Allah telah menjadikan bagi kalian rumah-rumah sebagai tempat tinggal,” (QS An-Nahl: 80).

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

Allah menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang serba lengkap kepada hamba-hamba-Nya, yaitu Dia menjadikan bagi mereka rumah-rumah tempat mereka menetap dan menutupi dirinya, serta mereka meng­gunakannya untuk berbagai manfaat dan kegunaan lainnya.

Apa kedudukan rumah di benak manusia? Bukankah rumah adalah tempat dia makan, nikah, tidur, dan beristirahat? Bukankah rumah adalah tempat menyendiri, berkumpul dengan istri dan anak? Bukankah rumah adalah tempat bagi wanita untuk menutupi dirinya, dan melindunginya? Allah ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumahmu dan jangan kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah dulu,” (QS Al-Ahzab: 33).

Jika kita mau sedikit merenung tentang keadaan mereka yang tidak memiliki rumah, yang hidup di pengungsian, di jalanan, atau mereka sekarang yang sedang mengungsi di berbagai tenda-tenda sementara, kita akan menyadari betapa besar nikmat memiliki rumah.

Jika kita mendengar orang yang tidak memiliki rumah berkata, “Saya tak punya tempat untuk menetap. Kadang saya tidur di sana sini, kadang di emperan atau parkiran toko, dan saya taruh baju-baju saya di mobil,” maka kita akan tersadar gangguan yang akan kita terima jika tidak memiliki rumah.

Ketika Allah mengazab kaum Yahudi Bani Nadzir, Allah mencabut nikmatnya dan mengusir mereka dari rumah-rumahnya. Hal ini terlihat dari firman Allah:

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran yang pertama…”

kemudian Allah berfirman:

“sehingga memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (QS Al-Hasyr: 2).

Ada banyak hal yang mendorong orang beriman untuk memperbaiki rumahnya (secara ruhiah, bukan semata fisik atau bangunannya saja):

A. Rumah adalah sarana agar terhindar dari api neraka

Allah ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS At Tahrim: 6).

B. Besarnya tanggung jawab kepala keluarga di Hari Kebangkitan

Dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi bersabda:

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ ، أَحَفِظَ أَمْ ضَيَّعَ ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap penggembala (orang yang diberi tanggung jawab) tentang gembalaannya (orang yang berada di bawah tanggung jawabnya), apakah dia benar-benar menjaganya atau menyia-nyiakannya? Bahkan seorang laki-laki akan ditanya tentang keluarganya,” (Sahih Ibnu Hibban: 4493).

C. Rumah adalah tempat berlindung dari fitnah

Rumah adalah tempat untuk menjaga diri, berlindung dari berbagai keburukan dan fitnah, serta merupakan tempat untuk mencukupkan diri dari manusia. Rasulullah bersabda:

طُوبَى لِمَنْ مَلَكَ لِسَانَهُ وَوَسِعَهُ بَيْتُهُ وَبَكَى عَلَى خَطِيئَتِهِ

“Sungguh beruntung orang yang bisa menjaga lisannya, yang merasa cukup dengan rumahnya, dan yang menangis karena kesalahannya,” (Al-Mu’jamul Ausath: 2340).

Dari Mu’adz Radhiyallahuanhu beliau berkata:

عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خَمْسٍ مَنْ فَعَلَ مِنْهُنَّ كَانَ ضَامِنًا عَلَى اللَّهِ

“Rasulullah menjanjikan kepada kami lima hal. Siapa saja yang bisa melakukan salah satunya, Allah akan menaunginya:

مَنْ عَادَ مَرِيضًا

1) menjenguk orang sakit,

خَرَجَ مَعَ جَنَازَةٍ

2) keluar mengantar jenazah,

خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

3) keluar untuk berperang di jalan Allah,

دَخَلَ عَلَى إِمَامٍ يُرِيدُ بِذَلِكَ تَعْزِيرَهُ وَتَوْقِيرَهُ

4) memasuki pintu penguasa dengan untuk memberi peringatan (jika dia zalim) dan memberinya dukungan (jika dia adil dan sedang dalam tekanan dari musuh), atau

قَعَدَ فِي بَيْتِهِ فَيَسْلَمُ النَّاسُ مِنْهُ وَيَسْلَمُ

5) berdiam diri duduk di rumah agar manusia selamat dari (gangguannya) atau agar dia selamat dari (ganguan manusia),” (Musnad Ahmad: 21079).

Rasulullah juga bersabda:

سَلَامَةُ الرَّجُلِ فِي الْفِتْنَةِ أَنْ يَلْزَمَ بَيْتَهُ

“Selamatnya seseorang dari fitnah adalah dengan senantiasa di rumah,” (Musnad Al-Firdaus Ad-Dailami: 5962).

Seorang muslim akan bisa merasakan adanya manfaat dari perintah-perintah ini ketika dia sedang dalam keadaan asing, di negeri orang, ketika dia tidak mampu melakukan banyak perubahan terhadap kemungkaran di sekitarnya, maka rumahnya adalah tempat perlindungan baginya, yang jika dia memasukinya, maka terjagalah dirinya dari perbuatan dan pandangan yang haram, terjagalah istrinya dari tabaruj, pamer perhiasan, pamer kecantian, serta terjagalah anak-anaknya dari pengaruh teman-teman yang buruk.

D. Rumah adalah tempat ibadah

Di rumahlah seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya, apalagi ketika cuaca sedang panas atau dingin, ketika hujan, pagi dan sore hari, setelah bekerja atau sekolah, maka hendaknya waktu-waktu di rumah ini dimanfaatkan untuk ketaatan. Jika tidak, waktu-waktu ini justru akan terpakai untuk hal-hal yang haram.

E. Rumah adalah elemen pembangun masyarakat

Ini yang paling penting, bahwa rumah adalah elemen utama dalam membangun masyarakat muslim. Masyarakat terwujud dari adanya beberapa rumah tangga, dan rumah tangga itulah yang membangun suatu masyarakat. Jika bangunan itu baik, jadilah masyarakat itu terbangun dengan hukum-hukum Allah, mampu berdiri tegak di hadapan musuh, tak akan goyah dari serangan musuh karena telah terisi di dalamnya dengan kebaikan-kebaikan.

Rumah-rumah muslim inilah yang akan menjadi pilar masyarakat yang kelak menjadi promotor perubahan, menjadi pemandu menuju kebaikan. Dari sana lahirlah para da’i yang bisa menjadi suri teladan, para santri, para mujahid yang jujur, para istri yang salihah, para ibu yang memiliki jiwa pendidik, dan berbagai macam agen perubahan lainnya yang bisa menjadi wasilah menuju perbaikan.

Jika kita sadar akan pentingnya masalah ini. Sedang di rumah-rumah kita masih terdapat begitu banyak kemungkaran, banyak kekurangan, banyak terdapat sikap cuek, menyepelekan, maka muncullah satu pertanyaan besar:

Apa saja kiat untuk memperbaiki ruhani rumah-rumah kita?

Untuk alasan itulah wahai para pembaca yang budiman kami suguhkan beberapa nasihat untuk menjawab pertanyaan di atas. Semoga Allah mudahkan kita untuk mengambil manfaat dari nasihat-nasihat yang akan kita bahas di sini, menjadi sebab bagi para keluarga muslim untuk bersungguh-sungguh menghidupkan rumah tangga muslim mereka.

Semua ini akan terfokus pada dua hal, yaitu mencapai kebaikan – yaitu dengan menegakkan yang makruf, atau mencegah kerusakan – yaitu dengan menghilangkan kemungkaran.

Sumber: 40 Nasihah Li Islahil Buyut karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid hafizahullah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)