"KAJIAN MALAM RABU" DI Masjid An-Nuur TegalRejo Baran bersama Ust Irfan Nugroho tema : Adab Adab dalam islam

Dikirim oleh Mediadakwahbaran pada Rabu, 30 September 2020

Oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali

Disunahkannya Ziarah Kubur

Rasulullah bersabda: 

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Dulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka sekarang lakukan ziarah kubur, [Sahih Muslim: 977].

Tidak memohonkan ampunan kepada Allah untuk mayat yang meninggal dalam keadaan bukan muslim, meskipun dia kerabat dekat

Allah berfirman:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ [التوبة : 113]

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam, [At-Taubah: 113].

Rasulullah bersabda:

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأُمِّي فَلَمْ يَأْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي

“Aku mohon izin kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampun bagi ibuku, tetapi tidak diperkenankan. Kemudian aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka diperkenankan,” [Sahih Muslim: 976].

Memberi salam kepada penghuni kubur

Dari Buraidah radhiyallahuanhu dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ  إِذَا  خَرَجُوا إِلَى  الْمَقَابِرِ  فَكَانَ قَائِلُهُمْ يَقُولُ فِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ

Rasulullah mengajarkan kepada mereka apa yang mesti mereka kerjakan apabila mereka hendak keluar untuk ziarah kubur. Maka salah seorang dari mereka membaca do’a seperti yang diriwayatkan dari Abu Bakar:

 السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ

“AS SALAAMU ‘ALA AHLID DIYAAR”

Sementara di dalam riwayat Zuhair tertulis:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

AS SALAAMU ‘ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LAAHIQUUN ASALULLAHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH

(Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al ‘Afiyah (keselamatan), [Sahih Muslim: 975].

Mendoakan si mayit

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ [الحشر : 10]

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang, [Surat Al Hashr: 10].

Rasulullah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

‘Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu, [Sahih Muslim: 2773].

Rasulullah bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, akan terputs semua amal darinya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya, [Sahih Muslim: 1631].

BACA: DOA-DOA YANG DIBACA KETIKA ZIARAH KUBUR 

Tidak Mencela Mayit

Rasulullah bersabda:

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencela mayat, karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan,” [Sahih Bukhari: 1393].

Tidak Menyalakan Lilin, Obor, atau yang Semisal di atas Kuburan

Imam At-Tirmizi meriwayatkan dan beliau menilai hadis ini hadis Hasan dari Ibnu Abbas Radhiyallahuanhuma yang berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ

Rasulullah melaknat wanita yang ziarah kubur, orang yang menjadikannya masjid, dan orang yang memasang lentera, [Sunan At-Tirmizi: 32].

Zaairat ini maknanya beragam. Imam As-Suyuti berkata, “Laknat di sini yaitu ziarahnya wanita yang dibarengi dengan hal-hal yang tidak diperbolehkan, seperti berdandan, mengeluh, berteriak, dan hal-hal yang tidak pantas lainnya. Jika aman dari ini semua, hukumnya boleh.”

Lalu Al-Qari di dalam Tuhfatul Ahwazi berkata, “banyak berziarah.” Sedangkan Al-Qurtubi menilai, “Laknat ini untuk yang banyak atau sering melakukan ziarah.”

Menjauh dari Perkara-perkara yang Menyelisihi Syariat dalam Ziarah Kubur

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabin bin Abdullah Radhiyallahuanhuma yang berkata:

إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

“Rasulullah menyampaikan khutbah. Kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobat seperti panglimma perang yang sedang memberi komando kepada prajuritnya.”

Beliau bersabda:

صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ

Hendaknya kalian selalu waspada di pagi dan sore hari.

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Aku diutus sedangkan atara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (jari telunjuk dan jari tengah).

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat,” [Sahih Muslim: 867].

Tidak Duduk di atas Kuburan dan tidak Berbaring di atasnya

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Hurairah Radhiyallahuanhu yang berkata bahwa Rasulullah bersabda:

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

Jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api, lalu terbakar baju dan kulitnya adalah lebih baik baginya daripada ia harus duduk di atas kuburan, [Sahih Muslim: 971].

Tidak Membangun Masjid di atas Kuburan

Di dalam Sahihain dari Aisyah dan Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu yang berkata bahwa ketika sakit Rasulullah semakin parah, beliau memegang bajunya dan ditutupkan pada mukanya. Bila terasa sesak, beliau lepaskan baju itu dari mukanya. Dalam keadaan seperti itu Rasulullah bersabda:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Semoga laknat Allah menimpa orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid,” [Sahih Bukhari: 435].

Tidak Berjalan di Kuburan dengan Memakai Sepatu/Sandal

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan sanad yang hasan dari Basyir bin Khashashiyah Radhiyallahuanhu yang mengatakan bahwa dulu dia berjalan bersama Rasulullah kemudian beliau melewati kuburan orang-orang Islam dan orang-orang musyrik. Kemudian beliau melihat seseorang yang berjalan di antara kuburan sambil mengenakan dua sandal. Kemudian Rasulullah bersabda:

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ

 

Wahai pemilik dua sandal. Lepaskan dua sandalmu.

Kemudian orang tersebut melihat dan mengetahui bahwa yang berkata adalah Rasulullah , maka dia melepaskannya dan meletakkannya, [Sunan Abu Dawud: 3230].

Tidak Beristigasah dengan Mayat

Allah berfirman di dalam Quran Surat Al-Anfal 9-10:

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

(Ingatlah), ketika kamu beristigasah kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”

وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana, (Surat Al Anfal 9 – 10).

Istigasah hampir mirip dengan doa. Hanya saja, istigasah ini dilakukan oleh orang dalam jumlah banyak, dan dalam keadaan yang sangat mendesak. Contoh dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad dan para sahabat sedang berperang, keadaan sangat genting, mendesak, mencekam, lalu mereka beristigasah.