1. Bersyukur atau berterima kasih kepada kedua orang tua

Allah ﷺ berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Latin: wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhụ fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr

Arti: Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu, (QS Luqman: 14).

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad dengan Sanad yang sahih dari Said bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu anhu yang berkata:

سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ، أَنَّهُ شَهِدَ ابْنَ عُمَرَ وَرَجُلٌ يَمَانِيٌّ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ، حَمَلَ أُمَّهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، يَقُولُ‏:

Aku mendengar ayah saya berkata bahwa Ibnu Umar melihat seorang pria asal Yaman yang melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sambil menggendong ibunya sembari berkata:

إِنِّي لَهَا بَعِيرُهَا الْمُذَلَّلُ إِنْ أُذْعِرَتْ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرِ

“Saya adalah untamu yang rendah. Jika untamu ini patah tulang punggungnya, maka aku akan tetap melayanimu.”

ثُمَّ قَالَ‏:‏ يَا ابْنَ عُمَرَ أَتُرَانِي جَزَيْتُهَا‏؟‏

Kemudian pria tadi bertanya kepada Ibnu Umar: “Apakah menurut Anda saya sudah membayar jasa-jasa ibu saya?”

قَالَ‏:‏ لاَ، وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ،

“Tidak. Meski hanya sekadar rintihan sakit ibumu ketika melahirkanmu, kamu tidak bisa membayarnya.”

ثُمَّ طَافَ ابْنُ عُمَرَ، فَأَتَى الْمَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ قَالَ‏:‏ يَا ابْنَ أَبِي مُوسَى، إِنَّ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ تُكَفِّرَانِ مَا أَمَامَهُمَا

Kemudian Ibnu Umar melanjutkan tawafnya dan datang ke Maqam Ibrahim untuk salat dua rekaat. Setelah itu beliau berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa, setiap dua rekaat yang kamu lakukan adalah penghapus (kafarah, pengganti) atas apa yang telah terjadi kepada keduanya.”

2. Berkata lembut dan bersikap sopan, beradab, penuh unggah-ungguh kepada keduanya

۲- لين القول لهما والتأدب عند مخاطبتهما :

Allah ta’ala berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

wa qaḍā rabbuka allā ta’budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna ‘indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik, (QS Al-Isra: 23).

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Adabul Mufrad dengan sanad yang sahih dari Thaisalah bin Muyas yang mengatakan bahwa Ibnu Umar berkata:

فَوَاللَّهِ لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ، وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ، لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الْكَبَائِرَ‏.

“Demi Allah, kalau kamu berkata yang sopan kepada ibumu, kemudian memberi makan ibumu, maka kamu akan masuk surga asalkan kamu menjauhi dosa-dosa besar.”

3. Tidak bepergian kecuali setelah meminta izin dari orang tua

Di dalam sahihain, dari Abdullah bin Umar Radhiyallahuanhuma beliau berkata:

“Datang seseorang kepada Nabi ﷺ kemudian meminta izin untuk berjihad.” Lalu Rasul bertanya: “Orang tuamu masih hidup?” Pria itu menjawab iya. Maka Rasul bersabda, “Maka pada keduanyalah hendaknya engkau berjihad, yaitu bersungguh-sungguh dalam berbakti kepadanya.”

4. Tidak melawan, tidak berteriak kepada orang tua

Imam At-Tirmizi meriwayatkan secara hasan dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu dari Nabiallah ﷺ yang bersabda:

“Tiga doa yang mustajab, tidak diragukan lagi kemustajabannya: 1) Doa orang yang terzalimi, 2) doa orang yang sedang dalam perjalanan bukan untuk maksiat, 3) Doa orang tua untuk anaknya.”

5. Berkhidmat, melayani orang tua

Imam An-Nasai meriwayatkan dengan sanad hasan dari Muawiyah bin Jahimah Al-Salami bahwa Jahimah datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata:

“Wahai Rasulullah, saya ingin berperang dan datang untuk minta petunjukmu.”

Kemudian Rasul bertanya, “Apa kamu masih punya ibu?”

Dia menjawab iya.

فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

“Jagalah ibumu, karena surga itu di bawah kaki ibumu,” (HR An-Nasai: 3104).

6. Berdoa untuk keduanya, setelah keduanya meninggal, juga memintakan ampun untuk keduanya

Allah ta’ala berfirman:

وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

wa qur rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

“Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil,” (QS Al-Isra: 24).

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya,” (Sahih Muslim: 1631).

7. Bersedekah atas nama keduanya setelah keduanya meninggal

Di dalam sahihain dari Aisyah Radhiyallahuanhuma bahwa seseorang datang kepada Nabi ﷺ:

إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bershadaqah untuknya (atas namanya)?”

Rasul menjawab, “Iya.”

8. Menyambung hubungan dengan saudara muslim atau sahabat orang tua yang muslim setelah orang tuanya meninggal

أن يَصِلُ الْمُسْلِمَ أُقَارِبُهُمَا وأَصْدِقَاءُهُمَا بعد موتهما

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar Radhiyallahuanhuma bahwa Rasul ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ وَإِنَّ أَبَاهُ كَانَ صَدِيقًا لِعُمَرَ

“Di antara bakti seseorang yang paling baik kepada orang tuanya adalah menyambung tali keluarga karib orang tuanya setelah orang tuanya meninggal dunia.’ Sesungguhnya bapak orang Arab badui itu dahulu adaIah teman Umar bin Khaththab,” (Sahih Muslim: 2552).

9. Menziarahi Kuburan Kedua Orang Tua Setelah Keduanya Meninggal

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ menziarahi kubur ibunya kemudian menangis sehingga orang yang berada di sekelilingnya pun ikut menangis. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Saya memohon izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan baginya, namun tidak diperkenankan oleh-Nya, dan saya meminta izin untuk menziarahi kuburnya lalu diperkenankan oleh-Nya. Karena itu, berziarahlah kubur karena ia akan mengingatkan kalian akan kematian,” (Sahih Muslim: 976).

10. Tidak memanggil ayah atau ibu dengan namanya

عَدَمُ مُنَادَاهُ الْأَب أو الأم بِاِسْمِيْهِمَا

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Adabul Mufrad dengan sanad sahih secara mauquf bahwa:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَبْصَرَ رَجُلَيْنِ، فَقَالَ لأَحَدِهِمَا‏:‏ مَا هَذَا مِنْكَ‏؟‏ فَقَالَ‏:‏ أَبِي، فَقَالَ‏:‏ لاَ تُسَمِّهِ بِاسْمِهِ، وَلاَ تَمْشِ أَمَامَهُ، وَلا تَجْلِسْ قَبْلَهُ

Abu Hurairah melihat dua orang dan berkata kepada salah satunya, “Siapa ini, apa hubungannya dengan Anda?” “Beliau adalah ayah saya,” jawab orang tersebut. Abu Hurairah lalu berkata, “Jangan memanggil beliau dengan nama beliau, jangan berjalan di depan beliau. Jangan duduk di depan beliau,” (Adabul Mufrad: 44).

11. Tidak boleh menasabkan kepada selain orang tuanya yang asli

Di dalam Sahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu dari Nabi ﷺ yang bersabda:

لَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيهِ فَهُوَ كُفْرٌ

“Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian, sebab siapa saja yang membenci ayahnya adalah kekufuran,” (Sahih Bukhar: 6768).

Di dalam Sahihain, dari Said bin Abi Waqas Radhiyallahuanhu yang mengatakan bahwa dirinya mendengar Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Siapa yang mengaku kepada selain ayahnya (mengklaim orang yang bukan ayahnya sebagai ayah) padahal dia sadar akan kesalahan itu, maka surga haram baginya,” (Sahih Bukhari: 4326).

12. Tidak menjadi penyebab orang lain menghina orang tua kita

Di dalam Sahihain dari Abdullah bin Amr Radhiyallahuanhuma yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ

“Sesungguhnya termasuk dari dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri,”

Lalu Rasul ditanya, “Kenapa bisa terjadi wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Seseorang melakna ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas dengan melaknat mencelat ayah dan ibu orang yang pertama tadi,” (Sahih Bukhari: 5973).