Oleh Sheikh
Abdul Aziz Nashir Al-Julail dan Baha’uddin Fatih Aqil

Dari Ibnu Mas’ud
diriwayatkan bahwa ketika sedang bermajelis, ia pernah menasihati, “Sesungguhnya
di tengah lingkaran ajal yang selalu berkurang, di tengah amal perbuatan yang
selalu terpantau, sementara kematian datang dengan tiba-tiba. Barangsiapa yang
menanam kebajikan, niscaya dia akan menuai kebahagiaan. Dan barangsiapa yang
menanam kejahatan, niscaya dia akan menuai penyesalan.
“Setiap orang
bercocok tanam, akan memanem sesuai dengan apa yang ditanamnya. Orang yang
lambat, tidak akan bisa mendahului mengambil bagiannya. Demikian juga orang
yang berhasrat, ia tidak akan memperoleh apa yang tidak ditakdirkan untuknya.
Siapa saja yang mendapat kebaikan, Allah-lah yang memberikan kebaikan itu
kepadanya. Siapa saja yang selamat dari bahaya, Allah-lah yang menjaga dirinya.
Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang terhormat, dan para ahli
fikih adalah para pembimbing umat. Duduk-duduk belajar bersama mereka adalah
sebuah kemuliaan,” (Syiar A’lam An-Nubala: 1/497).
Dari
Al-Fasawi, dari Abu Yaman, dari Jarir bin Utsman, dari Abul Hasan Imran bin
Nimran, bahwa Abu Ubaidah pernah berjalan di tengah pasukan kaum muslimin
kemudian berkata, “Betapa banyak orang yang menjaga kesucian pakaiannya, tapi
justru mengotori agamanya. Ingatlah, betapa banyak orang yang merasa memuliakan
dirinya sendiri, tetapi justru menghinakannya. Segeralah mengganti
kejahatan-kejahatan lamamu dengan kebajikan-kebajikan yang baru,” (Syiar A’lam
An-Nubala: 1/18).