Pembaca yang budiman, kali ini kita akan mengupas surat Al-Ankabut ayat 8. Kita awali dengan membaca naskah Arabnya, lalu bagi yang belum bisa membaca Quran, kami sediakan naskah latinya (transliterasi), lalu terjemahannya. Kali ini telah kami siapkan pula asbabun nuzul, tafsir, serta kesimpulan kandungan dari QS Al-Ankabut ayat 8. Semoga bermanfaat:

Di dalam QS Al-Ankabut ayat 8, Allah ta’ala berfirman:

{وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ} [العنكبوت : 8]

Latin:

Wawash shainal ingsaana biwaalidaihi husna, waing jaahadaaka litusyrika bii maa laisa laka biji ilmung falaa tuthi’humaa, ilayya marji’ukum fa-unabbi-ukum bimaa kuntum ta’lamuun

Arti:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan, [Quran Surat Al-Ankabut: 8].

ASBABUN NUZUL QS AL-ANKABUT: 8

Tertulis di dalam Tafsir Al-Qurtubi (Al-Jami li Ahkamil Quran), ayat ini turun berkaitan dengan hubungan antara Sa’id bin Abi Wawash dan dan ibunya.

“Ibuku melarangku, namun aku tetap masuk Islam. Ibuku berkata, ‘Tinggalkan agamamu itu, atau aku tidak akan makan dan minum sampai mati.’”

“Ada yang berpendapat bahwa hal itu terus berlangsung hari demi hari. Sa’id kemudian berkata, ‘Wahai ibu, seandainya ibu memiliki seratus nyawa, dan nyawa ibu berkurang satu per satu, saya tetap tidak akan pernah meninggalkan agama saya. Jika ibu ingin makan, maka makanlah. Jika ibu tidak mau makan, maka terserah.’

“Setelah Sa’id berkata seperti itu, akhirnya sang ibu mau makan juga dan turunlah ayat, ‘Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku,’ hingga akhir ayat.”

TAFSIR AL-MUYASSAR

Tertulis dalam Tafsir Al-Muyassar tentang Al-Ankabut: 8

( 8 )   ووصينا الإنسان بوالديه أن يبرهما، ويحسن إليهما بالقول والعمل.

Dan Kami (Allah) wajibkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, berbuat baik (Ihsan) kepada keduanya, dengan perkataan dan perbuatan.

وإن جاهداك -أيها الإنسان- على أن تشرك معي في عبادتي، فلا تمتثل أمرهما.

Dan wahai manusia, jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik terhadap-Ku dalam urusan ibadah, maka jangan kau menaatinya perintah keduanya.

ويلحق بطلب الإشراك باللّه، سائر المعاصي، فلا طاعة لمخلوق كائنًا من كان في معصية اللّه سبحانه، كما ثبت ذلك عن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم.

Termasuk yang dilarang untuk taat kepada orang tua, selain permintaan untuk berbuat syirik adalah permintaan untuk berbuat maksiat. Kalau demikian, maka tidak ada ketaatan terhadap makhluk, siapa pun makhluk itu, tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah subhanahu wa taala, seperti yang telah disebutkan dalam hadis dari Rasulullah ﷺ.

إليَّ مصيركم يوم القيامة، فأخبركم بما كنتم تعملون في الدنيا من صالح الأعمال وسيئها، وأجازيكم عليها.

Kepada-Ku kalian akan kembali di hari kiamat nanti. Maka akan Kami beri tahukan kepada kalian apa-apa yang kalian perbuat di dunia, dari amal saleh maupun amal buruknya. Dan Kami yang akan membalas kalian sesuai dengan perbuatan kalian.

TAFSIR AS-SA’DI (TAISIRIL KARIMIR RAHMAN)

Menafsirkan Surat Al-Ankabut ayat 8, Syekh Abdurrahman Nasir As-Sa’di berkata:

أي: وأمرنا الإنسان، ووصيناه بوالديه حسنا، أي: ببرهما والإحسان إليهما، بالقول والعمل، وأن يحافظ على ذلك، ولا يعقهما ويسيء إليهما في قوله وعمله.

Kami perintahkan kepada manusia, dan kami wajibkan untuk berbuat ihsan pada orang tuanya. Berbakti dan berbuat ihsan pada keduanya, dengan perkataan dan perbuatan, menjaganya, tidak durhaka, tidak berbuat buruk pada keduanya, baik dengan perkataan dan perbuatan.

Tentang firman Allah:

{ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ } 

“Jika keduanya menyuruhmu untuk berbuat syirik dengan apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya”

Syekh As-Sa’di menjelaskan:

وليس لأحد علم بصحة الشرك باللّه، وهذا تعظيم لأمر الشرك، 

Tidak ada satu orang pun yang memiliki ilmu (argumen, dalil) yang bisa membenarkan perbuatan syirik. Ini adalah penekanan tentang besarnya perkara kesyirikan ini.

{ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ } 

“maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,”

Tentang bagian ini Syekh As-Sa’di menjelaskan:

فأجازيكم بأعمالكم، فبروا والديكم وقدموا طاعتهما، إلا على طاعة اللّه ورسوله، فإنها مقدمة على كل شيء.

Akulah (Allah) yang akan membalas perbuatan kalian, maka berbaktilah pada orang tua kalian, utamakan urusan taat pada mereka, namun tetap di bawah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena taat pada Allah dan Rasul lebih diutamakan dari segalanya.

TAFSIR IBNU KATSIR (TAFSIR AL-QURANUL ADZHIM)

Mengawali penafsirannya terhadap Al-Ankabut ayat 8, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

يقول تعالى آمرا عباده بالإحسان إلى الوالدين بعد الحث على التمسك بتوحيده.

Allah ta’ala memerintahkan hambaNya untuk berbuat ihsan pada kedua orang tuanya setelah menghadang agar berpegang teguh pada tauhid.

 فإن الوالدين هما سبب وجود الإنسان. ولهما عليه غاية الإحسان. فالوالد بالإنفاق والوالدة بالإشفاق 

Mengapa? Karena kedua orang tua adalah sebab bagi keberadaan manusia. Maka kepada keduanyalah segala perbuatan ihsan tertuju, karena di saat yang sama, ayahnya senantiasa memberi nafkah (infak) sedang ibunya memberikan kasih sayang (isyfaaq).

Selanjutnya, tentang firman Allah:

{وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا}

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. (Al-‘Ankabut: 8)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

“Jika kedua orang tuamu menginginkan dengan sangat agar kamu mengikuti agama keduanya (selain Islam) bila keduanya musyrik, maka hati-hatilah kamu. Janganlah kamu mengikuti keduanya, karena sesungguhnya kembali kalian kelak di hari kiamat adalah kepada-Ku. Lalu Aku akan membalas kebaikanmu kepada keduanya, juga pahala kesabaranmu dalam memegang teguh agamamu, serta Aku akan menghimpunkanmu bersama orang-orang yang saleh, bukan dengan kedua orang tuamu, sekalipun kamu adalah orang yang terdekat kepada keduanya sewaktu di dunia. Karena sesungguhnya seseorang itu akan dihimpunkan kelak di hari kiamat bersama orang-orang yang dicintainya dengan cinta agama.

KANDUNGAN DARI QS AL-ANKABUT AYAT 8

1. Berbakti kepada orang tua hukumnya wajib                                                              

2. Berbakti kepada kedua orang dilakukan dengan perkataan dan perbuatan

3. Tidak boleh mematuhi orang tua jika orang tua menyuruh berbuat syirik

4. Juga tidak boleh mematuhi orang tua jika orang tua menyuruh berbuat maksiat

5. Tidak ada satu orang pun yang memiliki ilmu (argumen atau dalil) yang bisa membenarkan perbuatan syirik

6. Ta’at pada orang tua lebih diutamakan daripada keta’atan kepada selain orang tua, tetapi levelnya di bawah keta’atan kepada Allah dan Rasulullah ﷺ

7. Perintah berbakti pada kedua orang tua posisinya setelah perintah tauhid. Ini menunjukkan pentingnya urusan birrul walidain

8. Berbakti pada orang tua karena mereka adalah sebab adanya kita para anak

9. Berbakti pada orang tua karena ayah senantiasa memberi nafkah, sedang ibu senantiasa memberi kasih sayang

10. Jika orang tua dan anak berbeda keyakinan, maka pihak yang beriman kelak di akhirat akan dihimpun bersama orang-orang yang saleh, kedua pihak tidak akan bersama di akhirat

11. Orang akan dikumpulkan di akhirat bersama orang yang dicintainya dengan cinta agama.

Wallahu’alam bish shawwab

Sukoharjo, 27 Mei 2020

Irfan Nugroho, staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa

Referensi: QS 29: 8

BACA: