Sumber  hukum  Islam  merupakan  suatu  rujukan,  landasan,  atau  dasar  yang utama dalam pengambilan hukum Islam. Hal tersebut menjadi pokok  ajaran Islam sehingga segala sesuatu haruslah bersumber atau berpatokan kepadanya.  Hal  tersebut  menjadi  pangkal  dan  tempat  kembalinya  segala sesuatu. Ia juga menjadi pusat tempat mengalirnya sesuatu. Oleh karena itu, sebagai sumber  yang baik dan sempurna, hendaklah ia memiliki sifat dinamis, benar,  dan mutlak.  Dinamis  maksudnya  adalah  al-Qur’ān  dapat  berlaku di  mana  saja,  kapan  saja,  dan  kepada  siapa  saja.  Benar  artinya  al-Qur’ān mengandung  kebenaran  yang  dibuktikan  dengan  fakta  dan  kejadian  yang sebenarnya.  Mutlak  artinya  al-Qur’ān tidak diragukan lagi kebenarannya serta tidak akan terbantahkan.

SUMBER HUKUM ISLAM ADA 3

Adapun yang menjadi sumber hukum Islam, yaitu al-Qur’ān, Hadis, dan Ijtihād .

AL-QURAN AL-KARIM

  1. Pengertian al-Qur’ān

Dari segi bahasa, al-Qur’ān berasal dari kata qara’a – yaqra’u – qirā’atan –  qur’ānan,  yang  berarti  sesuatu yang  dibaca  atau  bacaan.

Dari  segi istilah, al-Qur’ān adalah  Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam bahasa Arab, yang sampai  kepada  kita  secara  mutawattir,  ditulis  dalam  musḥaf,  dimulai dengan surah al-Fātiḥah dan diakhiri dengan surah an-Nās, membacanya berfungsi  sebagai  ibadah,  sebagai  mukjizat  Nabi  Muhammad  ﷺ  dan sebagai hidayah atau petunjuk bagi umat manusia. Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ

Latin:

inna hāżal-qur`āna yahdī lillatī hiya aqwamu wa yubasysyirul-mu`minīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajrang kabīrā

Arti:

Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar, (QS Al-Isra: 9).

 

  1. Kedudukan al-Qur’ān sebagai Sumber Hukum Islam

Sebagai  sumber  hukum  Islam,  al-Qur’ān  memiliki  kedudukan  yang sangat tinggi. Al-Qur’ān merupakan sumber utama dan pertama sehingga semua  persoalan  harus  merujuk  dan  berpedoman  kepadanya.  Hal  ini sesuai dengan firman Allah ﷻ dalam  al-Qur’ān:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.  Kemudian,  jika  kamu  berbeda  pendapat  tentang  sesuatu,  maka kembalikanlah kepada Allah Swt. (al-Qur’ān) dan Rasu-Nyal (sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”  (Q.S. an-Nisā’/4:59)

Dalam ayat yang lain Allah ﷻ menyatakan:

Arti:

“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (al-Qur’ān) kepadamu (Muhammad)  membawa  kebenaran,  agar  engkau  mengadili  antara manusia  dan  apa  yang  telah  diajarkan  Allah  kepadamu,  dan  janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat.” (Q.S. an-Nisā’/4:105)

Dalam  sebuah  hadis  yang  bersumber  dari  Imam  Bukhari  dan  Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

Arti:

“…  Amma  ba’du  wahai  sekalian  manusia,  bukankah  aku sebagaimana  manusia  biasa  yang  diangkat  menjadi  rasul  dan  saya tinggalkan bagi kalian semua ada dua perkara utama/besar, yang pertama adalah  kitab  Allah  yang  di  dalamnya  terdapat  petunjuk  dan  cahaya/penerang, maka ikutilah kitab Allah (al-Qur’ān) dan berpegang teguhlah kepadanya … (H.R. Muslim)

Berdasarkan dua ayat dan hadis di atas, jelaslah bahwa al-Qur’ān adalah kitab yang berisi sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’ān sumber dari segala sumber hukum baik dalam konteks kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Namun demikian, hukum-hukum yang terdapat dalam Kitab Suci al-Qur’ān ada yang bersifat rinci dan sangat jelas maksudnya, dan ada yang masih bersifat umum dan perlu pemahaman mendalam untuk memahaminya.

  1. Kandungan Hukum dalam al-Qur’ān

Para ulama mengelompokkan hukum yang terdapat dalam al-Qur’ān ke dalam tiga bagian, yaitu seperti berikut:

  1. Akidah atau Keimanan

Akidah  atau  keimanan  adalah  keyakinan  yang  tertancap  kuat  di dalam hati. Akidah terkait dengan keimanan terhadap hal-hal yang gaib yang terangkum dalam rukun iman (arkānul imān), yaitu iman kepada Allah ﷺ malaikat, kitab suci, para rasul, hari kiamat, dan qada/qadar Allah ﷻ.

2. Syari’ah atau Ibadah

Hukum  ini  mengatur  tentang  tata  cara  ibadah  baik  yang berhubungan  langsung  dengan  al-Khāliq  (Pencipta),  yaitu  Allah  ﷻ yang  disebut  ‘ibadah  maḥḍah,  maupun  yang  berhubungan  dengan sesama makhluknya yang disebut dengan ibadah gairu maḥḍah. Ilmu yang mempelajari tata cara ibadah dinamakan ilmu fikih .

1)  Hukum Ibadah

Hukum  ini  mengatur  bagaimana  seharusnya  melaksanakan ibadah  yang  sesuai  dengan  ajaran  Islam.  Hukum  ini  mengandung perintah  untuk  mengerjakan  śalat,  haji,  zakat,  puasa,  dan  lain sebagainya.

2)  Hukum Mu’amalah

Hukum ini mengatur interaksi antara manusia dan sesamanya, seperti  hukum  tentang  tata  cara  jual-beli,  hukum  pidana,  hukum perdata, hukum warisan, pernikahan, politik, dan lain sebagainya.

3. Akhlak atau Budi Pekerti

Selain berisi hukum-hukum tentang akidah dan ibadah, al-Qur’ān juga berisi hukum-hukum tentang akhlak. Al-Qur’ān menuntun bagaimana seharusnya manusia berakhlak atau berperilaku, baik berakhlak kepada Allah  ﷻ  kepada  sesama  manusia,  dan  akhlak  terhadap  makhluk Allah  ﷻ  yang  lain.  Pendeknya,  berakhlak  adalah  tuntunan  dalam hubungan antara manusia dengan Allah Swt. hubungan antara manusia dan manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta. Hukum ini tecermin dalam konsep perbuatan manusia yang tampak, mulai dari gerakan mulut (ucapan), tangan, dan kaki.

 

HADIS ATAU SUNNAH

  1. Pengertian Hadis atau Sunnah

Secara  bahasa,  hadis  berarti  perkataan atau ucapan. Menurut istilah, hadis  adalah  segala  perkataan, perbuatan,  dan  ketetapan  (taqrir) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ.  Hadis    juga  dinamakan  sunnah. Namun  demikian,  ulama  hadis membedakan  hadis  dengan  sunnah.

Hadis  adalah  ucapan  atau  perkataan Rasulullah  ﷺ sedangkan  sunnah adalah segala apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ yang menjadi sumber hukum Islam. Hadis  dalam  arti  perkataan  atau ucapan  Rasulullah  ﷺ  terdiri  atas beberapa  bagian  yang  saling  terkait satu  sama  lain. Bagian-bagian  hadis tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Sanad,

yaitu sekelompok orang atau  seseorang  yang  menyampaikan hadis  dari  Rasulullah  ﷺ  sampai kepada kita sekarang ini.

2. Matan,

yaitu isi atau materi hadis yang disampaikan Rasulullah ﷺ.

3. Rawi,

yaitu orang yang meriwayatkan hadis.

  1. Kedudukan Hadis atau Sunnah sebagai Sumber Hukum Islam

Sebagai sumber hukum Islam, hadis berada satu tingkat di bawah al-Qur’ān. Artinya, jika sebuah perkara hukumnya tidak terdapat di dalam  al-Qur’ān, yang harus dijadikan sandaran berikutnya adalah hadis tersebut.

Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ:

Arti:

“…  dan  apa-apa  yang  diberikan  Rasul  kepadamu  maka terimalah ia. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (Q.S. al-Ḥasyr/59:7)

Demikian pula firman Allah ﷻ dalam ayat yang lain:

Arti:  “Barangsiapa  menaati  Rasul  (Muhammad),  maka sesungguhnya  ia  telah  menaati  Allah  Swt.  Dan  barangsiapa  berpaling (darinya), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.” (Q.S. an-Nisā’/4:80)

Sekarang,  kamu  sudah  paham  tentang  peran  penting  hadis  sebagai sumber  hukum  Islam  kedua  setelah  al-Qur’ān,  bukan?  Mari  kita  lihat kedudukan hadis terhadap sumber hukum Islam pertama, yaitu al-Qur’ān.

  1. Fungsi Hadis terhadap al-Qur’ān

Rasulullah  ﷺ  sebagai  pembawa  risalah  Allah  ﷻ  bertugas menjelaskan ajaran yang diturunkan Allah Swt. melalui al-Qur’ān kepada umat manusia. Oleh karena itu, hadis berfungsi untuk menjelaskan (bayan) serta menguatkan hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’ān. Fungsi hadis terhadap al-Qur’ān dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu sebagai berikut.

1. Menjelaskan ayat-ayat al-Qur’ān yang masih bersifat umum

Contohnya adalah ayat al-Qur’ān yang memerintahkan śalat. Perintah śalat dalam al-Qur’ān masih bersifat umum sehingga diperjelas dengan hadis-hadis  Rasulullah  ﷺ tentang  śalat,  baik  tentang  tata  caranya maupun jumlah bilangan raka’at-nya. Untuk menjelaskan perintah śalat

tersebut,  misalnya  keluarlah  sebuah  hadis  yang  berbunyi,  “Śalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku śalat”. (H.R. Bukhari)

2. Memperkuat pernyataan yang ada dalam al-Qur’ān

Seperti  dalam  al-Qur’ān  terdapat  ayat  yang  menyatakan, “Barangsiapa  di  antara  kalian  melihat  bulan,  maka  berpuasalah!”

Kemudian ayat tersebut diperkuat oleh sebuah hadis yang berbunyi, “… berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya …” (H.R. Bukhari dan Muslim)

3. Menerangkan maksud dan tujuan ayat yang ada dalam al-Qur’ān

Misal,  dalam  Q.S.  at-Taubah/9:34  dikatakan,  “Orang-orang  yang menyimpan  emas  dan  perak,  kemudian  tidak  membelanjakannya  di jalan Allah ﷻ, gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih!” Ayat ini dijelaskan oleh hadis yang berbunyi, “Allah ﷻ tidak mewajibkan zakat kecuali supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati.” (H.R. Baihaqi)

4. Menetapkan hukum baru yang tidak terdapat dalam al-Qur’ān

Maksudnya  adalah  bahwa  jika  suatu  masalah  tidak  terdapat hukumnya dalam al-Qur’ān, diambil dari hadis yang sesuai. Misalnya, bagaimana  hukumnya  seorang  laki-laki  yang  menikahi  saudara perempuan  istrinya.  Hal  tersebut  dijelaskan  dalam  sebuah  hadis Rasulullah ﷺ:

Arti: “Dari Abi Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda: “Dilarang seseorang  mengumpulkan  (mengawini  secara  bersama)  seorang perempuan  dengan  saudara  dari  ayahnya  serta  seorang  perempuan dengan saudara perempuan dari ibunya.” (H.R. Bukhari)

 

  1. Macam-Macam Hadis

Ditinjau  dari  segi  perawinya,  hadis  terbagi  ke  dalam  tiga  bagian,  yaitu seperti berikut.

  1. Hadis Mutawattir

Hadis  mutawattir   adalah  hadis  yang  diriwayatkan  oleh  banyak perawi, baik dari kalangan para sahabat maupun generasi sesudahnya dan  dipastikan  di  antara  mereka  tidak  bersepakat  dusta.  Contohnya adalah hadis yang berbunyi:

Arti: “Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya adalah neraka.” (H.R. Bukhari, Muslim)

2. Hadis Masyhur

Hadis  masyhur  adalah  hadis  yang  diriwayatkan  oleh  dua  orang sahabat  atau  lebih  yang  tidak  mencapai  derajat  mutawattir,  namun setelah  itu  tersebar  dan  diriwayatkan  oleh  sekian  banyak  tabi’in sehingga tidak mungkin bersepakat dusta. Contoh hadis jenis ini adalah hadis  yang  artinya,  “Orang  Islam  adalah  orang-orang  yang  tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmizi)

3. Hadis Aĥad

Hadis  aḥad  adalah  hadis  yang  hanya  diriwayatkan  oleh  satu  atau dua orang perawi, sehingga tidak mencapai derajat mutawattir . Dilihat dari segi kualitas orang yang meriwayatkannya (perawi), hadis dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut.

1) Hadis Śahih

adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rasulullah  ﷺ tidak  tercela,  dan  tidak  bertentangan  dengan riwayat  orang  yang  lebih  terpercaya.  Hadis  ini  dijadikan  sebagai sumber hukum dalam beribadah (hujjah).

2)  Hadis Ḥasan,

adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat, dan tidak bertentangan. Sama seperti hadis śaḥiḥ, hadis ini dijadikan

sebagai landasan mengerjakan amal ibadah.

3)  Hadis da’īf,

yaitu hadis yang tidak memenuhi kualitas hadis śaḥīiḥ dan  hadis  Ḥasan.  Para  ulama  mengatakan  bahwa  hadis  ini  tidak dapat  dijadikan  sebagai  hujjah,  tetapi  dapat  dijadikan  sebagai motivasi dalam beribadah.

4)  Hadis Maudu’,

yaitu hadis yang bukan bersumber kepada Rasulullah ﷺ atau hadis palsu. Dikatakan hadis padahal sama sekali bukan hadis. Hadis ini jelas tidak dapat dijadikan landasan hukum, hadis ini tertolak.

BACA:

IJTIHAD SEBAGAI UPAYA MEMAHAMI QURAN DAN HADIS

  1. Pengertian Ijtihād

Kata  ijtihād   berasal  bahasa  Arab ijtahada-yajtahidu-ijtihādan   yang  berarti mengerahkan  segala  kemampuan, bersungguh-sungguh  mencurahkan  tenaga, atau  bekerja  secara  optimal.  Secara  istilah, ijtihād  adalah mencurahkan segenap tenaga dan  pikiran  secara  sungguh-sungguh  dalam menetapkan  suatu  hukum.  Orang  yang melakukan ijtihād  dinamakan mujtahid.

  1. Syarat-Syarat berijtihād

Karena  ijtihād   sangat  bergantung  pada kecakapan  dan  keahlian  para  mujtahid, dimungkinkan  hasil  ijtihād   antara  satu ulama  dengan  ulama  lainnya  berbeda hukum  yang  dihasilkannya.  Oleh  karena itu,  tidak  semua  orang  dapat  melakukan ijtihād  dan menghasilkan hukum yang tepat.

Berikut beberapa syarat yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan ijtihād.

  1. Memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam.
  2. Memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa Arab, ilmu tafsir, usul fikih , dan tarikh (sejarah).
  3. Memahami cara merumuskan hukum (istinbaţ).
  4. Memiliki keluhuran akhlak mulia.

BACA:

  1. Kedudukan Ijtihād

Ijtihād   memiliki  kedudukan  sebagai  sumber  hukum  Islam  setelah  al-Qur’ān dan hadis. Ijtihād  dilakukan jika suatu persoalan tidak ditemukan hukumnya  dalam  al-Qur’ān  dan  hadis.  Namun  demikian,  hukum  yang dihasilkan dari ijtihād  tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’ān maupun hadis. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:

Arti:  “Dari  Mu’az,  bahwasanya  Nabi  Muhammad  ﷺ ketika mengutusnya  ke  Yaman,  ia  bersabda,  “Bagaimana  engkau  akan memutuskan  suatu  perkara  yang  dibawa  orang  kepadamu?”  Muaz berkata,  “Saya  akan  memutuskan  menurut  Kitabullah  (al-Qur’ān).”  Lalu Nabi  berkata,  “Dan  jika  di  dalam  Kitabullah  engkau  tidak  menemukan sesuatu  mengenai  soal  itu?”  Muaz  menjawab,  “Jika  begitu  saya  akan memutuskan menurut Sunnah Rasulullah.” Kemudian, Nabi bertanya lagi, “Dan jika engkau tidak menemukan sesuatu hal itu di dalam sunnah?” Muaz menjawab, “Saya akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran sendiri  (ijtihādu  bi  ra’yi)  tanpa  bimbang  sedikitpun.”  Kemudian,  Nabi bersabda,  “Maha  suci  Allah  ﷻ  yang  memberikan  bimbingan  kepada utusan  Rasul-Nya  dengan  suatu  sikap  yang  disetujui  Rasul-Nya.”  (H.R. Darami)

Rasulullah  ﷺ  juga  mengatakan  bahwa  seseorang  yang  berijtihād  sesuai dengan kemampuan dan ilmunya, kemudian ijtihād nya itu benar, maka ia mendapatkan dua pahala, Jika kemudian ijtihād nya itu salah maka ia mendapatkan satu pahala.

Hal tersebut ditegaskan melalui sebuah hadis:

Arti:  “Dari  Amr  bin  Aśh,  sesungguhnya  Rasulullah  ﷺ  Bersabda, “Apabila seorang hakim berijtihād dalam memutuskan suatu persoalan, ternyata ijtihādnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia berijtihād, kemudian ijtihādnya salah, maka ia mendapat satu pahala.”  (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Bentuk-Bentuk Ijtihād

Ijtihād  sebagai sebuah metode atau cara dalam menghasilkan sebuah hukum terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu sebagai berikut:

    1. Ijma’

Ijma’ adalah kesepakatan para ulama ahli ijtihād  dalam memutuskan suatu  perkara  atau  hukum.  Contoh  ijma’  di  masa  sahabat  adalah kesepakatan untuk menghimpun wahyu Ilahi yang berbentuk lembaran-lembaran terpisah menjadi sebuah mushaf al-Qur’ān yang seperti kita saksikan sekarang ini.

2. Qiyas

Qiyas adalah mempersamakan/menganalogikan masalah baru yang tidak terdapat dalam al-Qur’ān atau hadis dengan yang sudah terdapat hukumnya  dalam  al-Qur’ān  dan  hadis  karena  kesamaan  sifat  atau karakternya.  Contoh  qiyas  adalah  mengharamkan  hukum  minuman keras  selain  khamr  seperti  brendy,  wisky,  topi  miring,  vodka,  dan narkoba karena memiliki kesamaan sifat dan karakter dengan khamr, yaitu memabukkan. Khamr dalam al-Qur’ān diharamkan, sebagaimana firman Allah ﷻ:

Arti:

“Wahai  orang-orang  yang  beriman!  Sesungguhnya minuman  keras,  berjudi,  (berkurban  untuk)  berhala,  dan  mengundi nasib  dengan  anak  panah  adalah  perbuatan  keji  dan  termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (Q.S. al-Maidah/5:90)

3. Maślaĥah Mursalah

Maślaḥah mursalah artinya penetapan hukum yang menitikberatkan pada  kemanfaatan  suatu  perbuatan  dan  tujuan  hakiki-universal terhadap  syari’at  Islam.  Misalkan,  seseorang  wajib  mengganti  atau membayar  kerugaian  atas  kerugian  kepada  pemilik  barang  karena kerusakan di luar kesepakatan yang telah ditetapkan.

 

PEMBAGIAN HUKUM ISLAM

Para ulama membagi hukum Islam ke dalam dua bagian, yaitu hukum taklifi dan hukum wad’i. Hukum taklifi adalah tuntunan Allah ﷻ yang berkaitan  dengan  perintah  dan  larangan.  Wad’i  adalah  perintah Allah ﷻ yang merupakan sebab, syarat, atau penghalang bagi adanya sesuatu.

Hukum Taklifi

Hukum taklifi terbagi ke dalam lima bagian, yaitu sebagai berikut.

1. Wajib (farḍu),

yaitu aturan Allah ﷻ yang harus dikerjakan, dengan konsekuensi bahwa jika dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan akan berakibat dosa. Pahala adalah sesuatu yang akan membawa seseorang kepada kenikmatan (surga), sedangkan dosa  adalah  sesuatu  yang  akan  membawa  seseorang  ke  dalam kesengsaraan (neraka). Misalnya, perintah wajib śalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.

2. Sunnah (mandub),

yaitu tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan dengan konsekuensi jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan karena berat untuk melakukannya tidaklah berdosa.

Misalnya ibadah śalat rawatib , puasa Senin-Kamis, dan sebagainya.

3. Haram (taḥrim),

yaitu larangan untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau  perbuatan.  Konsekuesinya  adalah  jika  larangan  tersebut dilakukan akan mendapatkan pahala, dan jika tetap dilakukan akan mendapatkan  dosa  dan  hukuman.  Akibat  yang  ditimbulkan  dari mengerjakan  larangan  Allah  ﷻ ini  dapat  langsung  mendapat hukuman di dunia, ada pula yang dibalasnya di akhirat kelak.

Misalnya  larangan  meminum  minuman  keras/narkoba/khamr, larangan berzina, larangan berjudi, dan sebagainya.

4. Makruh (Karahah), 

yaitu  tuntutan  untuk  meninggalkan  suatu perbuatan. Makruh artinya sesuatu yang dibenci atau tidak disukai. Konsekuensi hukum ini adalah jika dikerjakan tidaklah berdosa, akan tetapi jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala.

Misalnya,  mengonsumsi  makanan  yang  beraroma  tidak  sedap karena zatnya atau sifatnya.

5. Mubaḥ (al-Ibaḥaḥ), 

yaitu  sesuatu  yang  boleh  untuk  dikerjakan dan boleh untuk ditinggalkan. Tidaklah berdosa dan berpahala jika dikerjakan ataupun ditinggalkan.

Misalnya makan roti, minum susu, tidur di kasur, dan sebagainya.

Sumber: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas X SMA