Pembaca situs mukminun.com yang Budiman, massifnya aksi demo menolak RUU HIP di berbagai penjuru Indonesia berujung pembakaran bendera PDIP. Tak ayal, aksi tersebut menyulut emosi junjungan partai lalu diikuti dengan aksi balasan oleh para kader partai tersebut. Jika, nauzubillah, suatu saat terjadi adu fisik, peperangan antara kedua kubu yang menyebabkan kematian di pihak umat Islam yang menolak RUU HIP karena dianggap mengusung paham komunisme dan berlawanan dengan Pancasila, maka bagaimana status kematian orang tersebut? Apakah termasuk mati syahid atau tidak?

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid pernah mendapat pertanyaan yang hampir mirip. Berikut kutipan lengkap fatwanya:

Pertanyaan:

Kadang kala terjadi pergesekan atau pertempuran antara pasukan Thailand yang di dalamnya ada banyak orang Islam dengan kelompok Komunis di beberapa daerah di XXXX. Kejadian ini berujung kematian di kedua belah pihak. Bagaimana hukum orang Islam yang berperang di barisan pasukan XXXX Thailand dan terbunuh saat memerangi geng komunis tersebut? Apakah kami boleh menyebut mereka sebagai orang yang mati syahid atau syuhada?

Jawaban oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid

Itu urusan Allah. Hanya Allah yang tahu niat mereka.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena dia adalah orang yang pemberani. Lalu beliau ﷺ juga pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena dia mengusung misi kesukuan atau nasionalisme. Beliau ﷺ juga ditanya tentang seseorang yang berperang karena ingin riya. Manakah yang berperang di jalan Allah (fii sabilillah)?

Menjawab hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda:

من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله عز وجل

Arti: Siapa saja yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah (agama Islam) menjadi tinggi, maka dia (berperang) di jalan Allah azza wa jalla, (Sahih Bukhari dan Sahih Muslim).

Atas dasar inilah, seseorang yang berperang di jalan Allah, dan dia meniatkannya agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dia adalah seorang syahid (jika terbunuh di dalamnya).

Dan Allah adalah sumber kekuatan. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, sahabatnya.

Fatwa No: 9478

Penutup

Maka beranjak dari fatwa tersebut,jika nauzubillah benar-benar terjadi bentrokan antara massa umat Islam yang menentang RUU HIP dengan massa kader partai tersebut, maka hendaknya kita yang terlibat dalam bentrokan tersebut (semoga tidak terjadi), benar-benar meluruskan niat, bahwa tindakan kita itu hanya didasarkan pada niat untuk membela agama Islam, agar syariat Allah menjadi yang paling tinggi.

Semoga bermanfaat, dan semoga Indonesia senantiasa damai, dengan musnahnya orang-orang yang berbuat zalim, semena-mena kepada umat Islam dan rakyat kecil. Aamiin