Pembaca situs mukminun.com yang budiman, malam ini banyak pertanyaan tentang arti kejatuhan cicak menurut Islam. Entah apa yang mendasari munculnya pertanyaan ini, tetapi memang diakui atau tidak, banyak masyarakat Indonesia yang masih menyakini bahwa kejatuhan cicak adalah pertanda sial, celaka. Bisa jadi, hal seperti ini hanya terjadi di Indonesia, itulah mengapa pertanyaan serupa jarang dijumpai di fatwa-fatwa para ulama Timur Tengah. Untuk menjawab pertanyaan arti kejatuhan cicak menurut Islam, kami kutip komentar Ustadz Firanda Andirja, hafizahullah dan Gus Baha, hafizahullah.

Ust Firanda tentang Kejatuhan Cicak

Pengisi radio dan TV Rodja ini pernah mendapat pertanyaan tentang kejatuhan cicak. Lalu dalam jawabannya beliau mengatakan:

“Ini ga boleh. Kejatuhan cicak lalu merasa sial itu ga boleh. Ga benar. Kalau timbul perasaan itu, lawan! Kapan saja kita terikat dalam dada kita (bahwa kita merasa sial setelah kejatuhan cicak), inilah kesyirikan. Harus kita lawan.”

Gus Baha tentang Kejatuhan Cicak

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau lebih dikenal dengan Gus Baha, salah satu ulama ahli tafsir yang dijuluki oleh Ust Adi Hidayat ‘Manusia Quran,’ beliau pernah menyindir tentang mitos sial kejatuhan cicak yang banyak beredar di kalangan masyarakat Jawa.

Tentang keyakinan bahwa orang yang kejatuhan cicak bakal celaka, Gus Baha mengatakan:

“Padahal bisa jadi cicak itu yang tidak hati-hati. Tetapi orang Jawa menafsirkannya dengan (pembawa) celaka. Yang celaka itu cicaknya atau orang Islamnya tadi? (Jemaah menjawab, ‘Cicaknya’). Tetapi kalau orang Jawa tidak. Kalau mau bepergian lalu kejatuhan cicak, maka tidak jadi bepergian. Katanya itu alamat apes (sial).”

“Padahal cicak jatuh itu bisa jadi:

1. Cicaknya tidak hati-hati

2. Bisa jadi cicak itu sedang latihan ‘jumping.’

3. Latihan uji nyali.”

Perkataan Gus Baha ini beliau gunakan untuk menjelaskan salah satu kisah Imam Syafii Rahimahullah yang diuji oleh para ulama seniornya tentang makna hadis:

لا تحرك الطائر من مكانه[1]

“Jangan kau gerakkan burung itu dari tempatnya (ketika pintu sangkar itu terbuka).”

Lalu Imam Syafii Rahimahullah menjelaskan bahwa ini ada kaitannya dengan tathayyur atau merasa sial, apes, atau celaka dari sesuatu. Bangsa Arab jaman dahulu ketika akan bepergian, mereka akan melihat ke mana arah burung itu terbang. Jika burung terbang ke kanan, itu pertanda bagus. Mereka akan bepergian. Tetapi jika burung terbang ke kiri, maka mereka akan membatalkan rencananya untuk bepergian.

Penutup

Nah, demikian pembahasan kita kali ini tentang arti kejatuhan cicak dalam Islam. Jadi, baik dari kalangan (maaf) ‘wahabi’ maupun ‘nahdliyin’, dalam hal ini ada titik temu. Keduanya sepakat bahwa kejatuhan cicak adalah salah satu bentuk tathayyur, merasa apes dengan adanya suatu pertanda alam, dan ini dilarang dalam Islam.

Wallahu’alam bish shawwab.

Editor: Irfan Nugroho (Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)


[1] Dalam Sunan Abu Dawud redaksi hadisnya adalah

أَقِرُّوا الطَّيْرَ عَلَى مَكِنَاتِهَا

“Biarkan burung itu berada pada tempatnya.” (HR Abu Dawud: 2835)