Ustadz Abu Rusydan di acara bedah buku “Agar Pertolongan Allah Segera Turun”

Penulis: DR. Majdi Al-Hilali
Ukuran: 14 x 20,5 cm
Tebal: 218 halaman
Penerbit: Pustaka Arafah

Oleh Ust. Abu Rusydan
Buku
“Agar Pertolongan Allah Segera Turun” merupakan suatu buku yang ‘aneh’
dan berani, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa beberapa ikhwan
aktivis Islam sedang gencar menyuarakan perlawanan terhadap segala
bentuk kedzhaliman namun sayangnya, beberapa dari mereka hanya baru
memiliki modal semangat.

Sungguh, konsep perang modern sebenarnya telah diterapkan oleh Allah,
dengan bimbingan wahyu dari Allah, bahwa factor penentu kemenangan
adalah kemampuan untuk menguasai hati diri sendiri dan menguasai hati
musuh.

Dan buku ini memfokuskan pembahasannya pada bagaimana meraih kemampuan
untuk menguasai hati dengan ketaqwaan total kepada Allah, dengan tauhid
yang sesungguhnya, serta kemampuan untuk menguasai hati musuh.

Karena bagaimana pun, sehebat apapun suatu kelompok aktivis Islam, meski
mereka handal dalam dunia IT, atau memiliki kemampuan yang dahsyat
dalam dunia militer, dan memiliki pasukan yang besar, namun ketika
mereka tidak bisa mengontrol hati mereka dan menguasai hati musuh,
sungguh, hal tersebut merupakan suatu yang sangat melelahkan.

Rasulullah telah menerapkan konsep penguasaan hati diri sendiri dan penguasaan terhadap hati musuh-musuhnya.

Mari kita simak pelajaran dari Allah terhadap Rasulullah dalam Surat Al-Hasyr Ayat Dua:

Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang
kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat
pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar
dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan
mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka
(hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah
melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah
mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin.
Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan,
” (Al-Hasyr: 2).

Kondisi ideal bagi suatu kelompok aktivis dakwah yang sedang melakukan
perlawanan terhadap segala bentuk kedzhaliman dari pihak musuh adalah
sebisa mungkin menanamkan rasa takut ke dalam hati musuh-musuh Allah,
dan inilah yang dimaksud dengan menguasai hati musuh.

Namun kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya, yakni
orang-orang kafir kini justru sukses ‘menteror’ umat Islam, mereka mampu
menguasai hati umat Islam sehingga umat Islam takut terhadap
orang-orang kafir, sehingga mereka menghancurkan bangunan-bangunan Islam
yang telah ada.

Buku ini, banyak menggunakan rujukan dari ulama pakar masalah hati,
yakni Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, terutama dari kitab monumental
beliau yang berjudul “Madarijus Salikin.”

Pengarang buku ini mengutip pernyataan Ibnu Qayyim mengenai dua hal yang paling bermanfaat bagi hati, yakni:
1. Ketelitian seorang hamba untuk melihat atau mengevaluasi terhadap
hak-hak Allah atas hamba-Nya. Dalam kata yang lain, seorang hamba
hendaknya mengetahui apa-apa saja hak-hak Allah
2. Seorang hamba hendaknya senantiasa memeriksa apakah ia telah menunaikan hak-hak Allah.

Dua hal tersebut kemudian akan membawa seorang hamba menuju pada dua hal lainnya.
1. Hal tersebut merupakan kunci untuk membuka pintu ketundukan kepada
Allah dan kemudian akan berakibat pada perasaan ‘tidak berdaya’ dan
‘putus asa’ di hadapan Allah. Hal ini kemudian menjadikan seorang hamba
hanya mengeluh kepada Allah, menyandarkan semua urusannya hanya kepada
Allah, dan dari sanalah akan dating pertolongan Allah.
Sehingga apabila
para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan
Telah meyakini bahwa mereka Telah didustakan, datanglah kepada para
Rasul itu pertolongan kami, lalu diselamatkan orang-orang yang kami
kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa kami dari pada orang-orang yang
berdosa,
” (Yusuf: 110).

2. Setelah seorang hamba melakukan dua hal tersebut, maka seorang
hamba akan menyakini dalam hatinya bahwa kemenangan tidak bisa didapat
kecuali dengan ampunan dan rahmat dari Allah.

Dari sini kemudian dapat dilihat bahwa Dr Majdi Al-Hilali berusaha
meyakinkan para ikhwan yang sedang membara semangatnya untuk perang
fisik bahwa satu factor penting untuk meraih pertolongan Allah adalah
dengan menguasai hati, dan menteror hati para musuh-musuh Allah.

Misi berat buku ini adalah meyakinkan para ikhwan yang sedang onfire
bahwa pertolongan Allah diawali dengan menguasai hati sendiri dan hati
musuh-musuh Allah.

Yang dikhawatirkan adalah jika orang yang hanya modal semangat dan tidak
pernah muhasabah, tidak mengetahui seluk-beluk hati, maka jika ia
diingatkan mengenai pentingnya menguasai hati, maka ia akan marah dan
menolaknya.

Hal inilah yang kemudian membuat DR Majdi Al-Hilali untuk mengutip perkataan Ibnu Taimiyah bahwa sumber keburukan ada tiga:
1. Kebodohan
2. Syahwat
3. Orang yang alim dan shalih, namun ia bangga dengan kealimannya dan
keshalihannya sehingga ia terlena dengan bisikan syaithan yang berkata,
“Kamu adalah yang paling shalih, kamu yang paling alim, kamu yang
paling aktif, kamu yang paling berani, jadi kamu tidak perlu menerima
nasihat dari mereka yang hanya berdiam diri.”

Penguasaan hati adalah dengan memurnikan tauhid, menurnikan tujuan hidup
seorang hamba. Seseorang dikatakan bersungguh-sungguh dalam memurnikan
tauhid jika ia jujur. Dan kejujuran disini oleh Ibnu Qayyim dijelaskan
lebih detail dengan membagi kejujuran menjadi tiga.

1. Kejujuran berarti sama antara yang harus ia ucapkan oleh lisannya
dengan apa yang terucap oleh lisannya. Jika seorang Mujahid ditangkap
polisi, kemudian ia ditanya, “Kamu hendak menegakkan syariat, ya?” Maka
hendaknya ia menjawab, “Benar, saya Muslim dan menegakkan syariat adalah
perintah Allah. Jika Anda seorang Muslim maka hendaknya engkau pak
polisi, juga harus membantu saya.” Maka dengan demikian, sama lah apa
yang seharusnya ia ucapkan dengan apa yang terucap oleh lisannya.
2. Kejujuran berarti sama antara tindakan dengan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
3. Kejujuran adalah sama antara amal-amal hatinya dengan apa yang diamalkannya secara ikhlas dan bersungguh-sungguh.

Dengan memiliki sifat jujur ini, maka seorang aktivis dakwah tidak akan
pernah terbesit dalam hatinya untuk berangan-angan agar ia menjadi
terkenal, agar ia memperoleh ghanimah yang banyak, agar ia menikah
dengan seorang warga di medan perang dan impian-impian duniawi lainnya.
Tujuan hidupnya adalah murni tauhid.

Mungkin terbesit dalam hati seorang aktivis dakwah untuk menuruti hawa
nafsunya. Dan jika memang demikian adanya, maka ia telah meninggalkan
satu factor penentu pertolongan Allah, yakni menguasai hati. Selain itu,
orang seperti inilah yang dikatakan oleh penulis sebagai seorang yang
kikir. Sehingga sang penulis mengutip cerita tentang Abdurahman Bin Auf
yang ketika berthawaf hanya mengucapkan doa, “Ya Allah, jauhkan aku dari
sifat kikir…”

Penutup
Bagaimana membalikkan keadaan umat, yang kini sedang dikuasai oleh orang-orang kafir?

1. Kuasai hati diri sendiri terlebih dahulu
2. Kuasai hati mush-musuh Allah
3. Dakwah/Jihad secara fisik, dengan senantiasa menjalankan kedua hal sebelumnya.