Oleh Tim IslamWeb
Syaddad bin Aws
Radhiyallahuanhu meriwayatkan: “Rasulullah

memegang tanganku dan kami melewati seseorang yang sedang
dibekam di Al-Baqi, di hari ke-18 Ramadhan. Melihat hal tersebut, Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang membekam dan yang dibekam,
puasa keduanya telah batal
,” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan Al-Bukhari, Sahih).
Riwayat serupa
juga dicatat melalui jalur Tsauban, Rafi’ bin Khadij, dan banyak sahabat
lainnya Radhiyallahuanhum. Oleh karena itu, beberapa ulama mengkategorikan
hadis ini sebagai hadis Mutawatir (riwayat dengan jalur riwayat yang bersambung
dan dari sumber yang banyak).
Akan tetapi,
Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu berkata, “Rasulullah
pernah dibekam selagi beliau
sedang puasa dna beliau dalam keadaan Ihram,” (HR Bukhari, Muslim, dan
Tirmizi
). Menurut riwayat Abu Dawud, “Beliau dibekam selagi beliau
sedang puasa
.”
Selain itu,
Syu’bah Rahimahullah berkata, “Saya mendengar Tsabit Al-Bunaani bertanya kepada
Anas bin Malik Radhiyallahuanhu, “Apakah kalian (para Sahabat) tidak menyukai
bekam untuk orang yang puasa?” Beliau berkata, “Tidak (tidak karena alasan
agama), kecuali kalau takut kuwalahan,” (HR Bukhari).
Abu Dawud
Rahimahullah meriwayatkan hal serupa dari Anas Radhiyallahuanhu dengan berkata,
“Kami tidak menganggap makruh berbekam untuk orang yang berpuasa, kecuali kalau
kami khawatir bahwa bekam itu akan menimbulkan kesakitan.”
Faidah dan
Hukum (dari hadis-hadis di atas):
1.     Ada banyak hadis yang membuktikan bahwa
orang yang dibekam dan yang membekam puasanya batal. Akan tetapi, banyak hadis
lain menyebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dibekam padahal
beliau sedang berpuasa. Alhasil, para ulama berbeda pendapat tentang apakah
bekam itu diperbolehkan atau tidak bagi orang yang berpuasa. Mayoritas ulama
berpendapat bahwa hadis yang bertentangan dengan ini telah dinasakh (dianulir)
oleh riwayat lain yang menunjukkan kebolehannya. Pendapat ini didukung oleh Abu
Said Al-Khudri, Ibnu Mas’ud, dan Ummu Salamah Radhiyallahuanhum, juga Urwah dan
Said bin Jubair. Selain itu, pendapat ini juga dipegang oleh tiga imam: Malik,
Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala Anhum.
Di sisi lain,
Imam Ahmad berpendapat bahwa bekam membatalkan puasa, dan inilah pendapat yang
diambil oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnu Qayyim
Rahimahullah Ta’ala Anhum. Lajnah Daimah Arab Saudi berikut mayoritas ulama
Saudi juga memilih pendapat ini. Dengan demikian, lebih baik orang yang
berpuasa menghindari berbekam untuk lebih selamat.
2.     Hadis Anas Radhiyallahuanhu membuktikan
bahwa berbekam dapat melemahkan orang yang berpuasa sehingga menjadi terlarang.
Inilah satu dari sekian hikmah syariat bahwa syariat Islam mengangkat kesulitan
dari manusia dan melindungi mereka dari bahaya.
3.     Alasan di balik batalnya puasa orang yang
dibekam adalah bahwa bekam itu akan membuatnya kehilangan cairan. Sedang bagi
orang yang membekam, puasanya juga batal karena dia bisa saja menelan darah
(karena di zaman dahulu bekam dilakukan dengan menyedot darah dengan mulut
-pent). Akan tetapi, jika orang yang membekam menggunakan peralatan modern,
bukan dengan mulutnya, maka prosedut tersebut tidak membuat puasanya batal.
4.     Hukum tentang berbekam juga berlaku pada
flebotomi dan juga cara lain dalam mengeluarkan darah seperti dengan sayatan.
Akan tetapi, flebotomi singkat tetap sah.
5.     Jika seseorang menyengaja mimisan sebagai
cara untuk menghilangkan sakit kepala atau karena alasan lain, maka puasanya
tidak baik. Di sisi lain, jika dia mengalami mimisan tanpa persiapan, maka
puasanya sah, meskipun darah yang keluar lumayan banyak. Akan tetapi, jika hal
itu bisa membuatnya lemah dan dia perlu membatalkan puasa sebagai ganti atas
hilangnya banyak darah, dia boleh membatalkan puasa karena dia tergolong orang
yang sakit.
6.     Memberikan sampel darah untuk dianalisis,
yang jarang membuat orang menjadi lemah, tidak membatalkan puasa. Meski
demikian, lebih baik orang tersebut menundanya sampai malam hari agar lebih
selamat. Akan tetapi, mengambil darah dalam jumlah yang banyak tetap
membatalkan puasa dan seseorang harus menundanya sampai malam hari. Tetapi,
jika dia sakit dan perlu agar darahnya bekerja, dia boleh membatalkan puasa
karena sakit, lalu mengganti puasa yang ditinggalkannya tersebut.
7.     Jika orang yang puasa mengalami pendarahan
besar-besaran di luar kehendaknya, karena kecelakaan atau luka, puasanya tetap
bagus, kecuali dia merasa perlu untuk membatalkannya karena lemah. Dalam
keadaan seperti ini, dia dianggap seperti orang yang sakit, sehingga dia harus
membatalkan puasa dan menggantinya di kemudian hari.
8.     Mencabut geraham tidak membatalkan puasa,
meskipun darah yang keluar terbilang banyak. Ini karena pencabutan gigi tidak
diniatkan untuk menyebabkan pendarahan, dan hal ini terjadi tanpa intervensi
langsung. Akan tetapi, dia harus menahan diri dari menelan darah tersebut
secara sengaja, agar tidak membatalkan puasanya.
9.     Hemodialisis atau menggunakan peralatan
medis untuk membersihkan darah dan mengembalikannya ke dalam tubuh setelah
menambah beberapa nutrisi seperti gula dan garam, akan membatalkan puasa.
10. Hukum bekam
untuk orang yang berpuasa juga berlaku untuk donor darah, yang harusnya
dilakukan di malam hari. Akan tetapi, jika ada yang membutuhkan darah dan jika
donor darah bisa menyelematkan nyawa orang lain, maka dalam hal ini boleh. Akan
tetapi, puasanya akan batal dan dia harus menggantinya.
11.  Suntikan nutrisi ke dalam vena membatalkan
puasa.
Sumber: http://www.islamweb.net/en/article/154211/

Penerjemah: Irfan
Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)