Pertanyaan: Ini tentang steril kucing, atau neuter, atau kebiri. Tahun lalu saya menemukan seekor kucing. Saya memungutnya dan merawatnya. Dia sekarang sangat tergantung pada saya. Dia tidak suka makanan hasil masakan rumah yang sisa-sisa. Dengan demikian, saya harus memesan pakan kucing secara online, padahal sangat sulit didapatkan. Saya tidak bisa meninggalkannya karena ikatan emosi juga ketergantungan dia pada saya.

Malam kemarin, enam anak kucing lahir. Saya bingung. Saya mencari di online bagaimana membuang kucing dalam Islam. Saya mendapati bahwa jika memang ada gangguan dan bahaya, lalu tidak ada yang bisa merawat mereka, maka boleh membuangnya. Jadi, saya membuat 5 anak kucing tersebut.

Sekarang saya memutuskan untuk mensteril kucing tadi, tetapi saya juga baru tahu tentang hadis kucing dan seorang wanita.

Sekarang saya merasa kecewa dan menyesal. Saya takut akan dampak buruk perbuatan saya ini. Bolehkah kucing disteril dalam Islam? Mohon jawaban dengan segera.

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamWeb, Diketuai oleh Syekh Abdullah Al-Faqih

Segala puji hanya milik Allah, Rab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang hak untuk diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusanNya.

Pendapat ulama yang kami pakai di Islamweb adalah bahwa kucing boleh disteril atau di-neuter atau dikebiri, untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, jika memang terdapat manfaat di dalamnya, atau untuk mencegah bahaya.

Penulis kitab Al-Muhit Al-Burhani, dalam mazhab Hanafi, menyebutkan:

“Tidak masalah dengan mensteril kucing jika bisa mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya darinya.” (Akhir kutipan).

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya:

“Di Barat, orang-orang mensteril kucing untuk mencegah gangguan. Bagaimana hukum mensteril atau neuter kucing?”

Syekh Ibnu Utsaimin menjawab:

“Jika ada banyak kucing yang menyebabkan gangguan dan tindakan tersebut (neuter atau kebiri) tidak menyebabkan bahaya pada kucing-kucing tersebut, maka tidak masalah dengannya, karena hal itu lebih baik daripada membunuhnya setelah kucing-kucing tadi tercipta (terlahir). Tetapi jika itu kucing biasa dan tidak berbahaya, maka mungkin ada manfaatnya membiarkan mereka berkembang biak.”

Fatawa Al-Islamiyah, disusun oleh Muhammad bin Abdulaziz bin Abdullah Al-Musnid.

Wallahu’alam bish shawwab

BACA:

Fatwa No: 421390

Tanggal: 8 Juni 2020 (17 Syawal 1441 H)

Sumber: IslamWeb

Penerjemah: Irfan Nugroho (staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)