Pertanyaan: Ini tentang cerai karena suami mandul. Saya telah menikah selama 11 tahun, tetapi belum diberi rezeki seorang anak dari suami saya, karena ternyata suami saya itu mandul. Pertanyaan saya adalah:

Bolehkah saya meminta cerai dari dia? Harap diketahui bahwa dia pernah menikah sebelum dengan saya dan dia memiliki anak. Itulah sebab kemandulannya, tentu setelah kehendak Allah, bahwa ternyata dia pernah menjalani operasi sebelum menikah dengan saya, tetapi dia tidak memberi tahu saya akan hal ini kecuali setelah berlalu 3 tahun dari pernikahan kami. Sebagai wanita, saya merasa khawatir akan hal ini.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jazaakumullah khair

Jawaban:

Segala puji hanya untuk Allah. Selawat dan salam kepada Rasulullah, juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti beliau. Amma ba’du.

Menghendaki anak adalah hak yang disyariatkan (di dalam agama Islam) bagi seorang istri juga merupakan hak yang masyru’ (disyariatkan) bagi seorang suami. Hal ini karena menginginkan keturunan adalah tujuan yang besar dari suatu pernikahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تزوَّجوا الوَدُود الوَلُود، فإنِّي مكاثِرٌ بكم الأمم يوم القيامة

“Menikahlah dengan wanita yang penyayang lagi subur, karena saya bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hari kiamat,” (Musnad Ahmad, Sunan An-Nasai, dan Sunan Abu Dawud).

Tetapi kami peringatkan kepada saudari penanya bahwa tidak memiliki anak bukanlah sebab atau aib (cacat) yang dapat merusak suatu akad nikah. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

Sebagian ulama berpendapat bahwa setiap aib yang dapat memunculkan sakit hati atau kebencian pada salah satu pasangan dari pasangannya, maka hal ini menuntut adanya hak khiyar (yaitu hak memilih, apakah akan meneruskan pernikahan itu atau mencukupkan sampai di situ saja – editor).

Tidak diragukan lagi, bahwa tidak memiliki anak adalah urusan yang menyakitkan hati bagi sebagian wanita dari suami-suami mereka.

Imam Ibnul Qayyim berkata:

والصحيحُ أن النكاح يفسخ بجميع العيوب كسائر العُقود؛ لأنَّ الأصل السلامة، والقياس أن كلَّ عيبٍ ينفر الزوج الآخر منه، ولا يحصل به مقصود النكاح من المودَّة والرحمة، فإنه يوجب الخيار

“Yang sahih (benar) adalah bahwa nikah menjadi rusak dengan berkumpulnya aib-aib. Hal ini juga berlaku pada semua akad lainnya. Karena pada asalnya (tujuan menikah) adalah terwujudnya as-salamah (kedamaian, keselamatan). Analoginya begini, setiap aib, yang bisa menyakiti hati pasangan, juga tidak tercapaiknya maksud dari pernikahan tersebut, yaitu mawadah (cinta) dan rahmah (kasih sayang), maka hal tersebut mewajibkan adanya hak khiyar.”

Akhirnya, kami hanya menasihati Anda agar bersabar, banyak berdoa kepada Allah agar dikaruniai dzurriyah (keturunan), dengan menempuh jalan-jalan yang disyariatkan, serta apa-apa yang membantu Anda berdua untuk mewujudkan keinginan Anda, seperti menempuh jalan medis.

Tetapi jika Anda menghendaki cerai karena suami mandul, maka tidak masalah. Hal ini karena ada madarat yang nyata pada diri Anda. Insya Allah ini tidak termasuk dalam ancaman Nabi untuk istri yang meminta cerai tanpa sebab.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أيما امرأة سألت طلاقا من غير بأس فحرام عليها رائحةالجنة

“Setiap perempuan yang menggugat cerai suaminya tanpa sebab, maka haram baginya bau surga,” (Sunan At-Tirmizi: 1187).

Wallahu’alam bish shawwab.

Syekh Khalid Abdul Mun’im Ar-Rofai adalah mufti di Yayasan Alukah dan situs Thariqul Islam.

Fatwa No: 69851

Tanggal: 21 Desember 2015

Sumber: Thariqul Islam

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)