Klik Video untuk Mendengar Pembacaan Artikel Ini

Pembaca situs mukminun.com yang semoga dirahmati Allah, Ahad 5 Juli 2020 sekitar pulul 2.10 dini hari, terjadilah satu gempa bumi yang menurut info dari BMKG berpusat di sekitaran Blitar, Jawa Timur. Ada dari kita yang lalu membuat status di media sosial, atau kalau di Jawa kemudian kakek-kakek kita memukul kentongan tanda bencana. Lalu bagaimana Islam memandang gempa bumi?

Gempa Bumi dalam Al-Quran

Tentang gempa bumi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid berkata, “Gempa bumi adalah satu dari sekian tanda keagungan Allah di alam semesta ini. Dengannya Allah menguji hamba-hambaNya sebagai 1) peringatan atau 2) untuk menanamkan ketakutan terhadap Allah atau 3) hukuman. Ketika terjadi bencana alam, hendaknya manusia itu ingat atas kelemahannya, ketidakberdayaan mereka, rendahnya status mereka di hadapan Allah. Mereka butuh kepada Allah, maka hendaknya mereka kembali kepada Allah, bertaubat kepadaNya, banyak berdoa, memohon, merendah kepada Allah, agar Allah mengangkat balak ini dari manusia.”[i]

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَآ اِلٰٓى اُمَمٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَاَخَذْنٰهُمْ بِالْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُوْنَ

Latin: wa laqad arsalnā ilā umamim ming qablika fa akhażnāhum bil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i la’allahum yataḍarra’ụn

Arti: Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati, (Surat Al-Anam: 42)

فَلَوْلَآ اِذْ جَاۤءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوْا وَلٰكِنْ قَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Latin: falau lā iż jā`ahum ba`sunā taḍarra’ụ wa lāking qasat qulụbuhum wa zayyana lahumusy-syaiṭānu mā kānụ ya’malụn

Arti: Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan, (Surat Al-Anam: 43)

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

Latin: fa lammā nasụ mā żukkirụ bihī fataḥnā ‘alaihim abwāba kulli syaī`, ḥattā iżā fariḥụ bimā ụtū akhażnāhum bagtatan fa iżā hum mublisụn

Arti: Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa, (Surat Al-Anam: 44).

Doa Ketika Gempa

Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti pernah mendapat pertanyaan tentang suatu mitos di Timur Tengah sana bahwa jika terjadi gempa, hendaknya manusia banyak berzikir kepada Allah dengan zikir apa saja kecuali “Allahu Akbar.” Itu, menurut mitos di keluarga si penanya, jika terjadi gempa kemudian ada yang mengucapkan Allahu Akbar, maka intensitas gempa justru akan semakin besar.

Menjawab pertanyaan tersebut,[ii] Syaikh Abdullah Al-Faqih mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak bertakbir ketika terjadi gempa. Lalu beliau mengajarkan doa, yang meski sanadnya daif, tetapi tidak mengapa untuk diamalkan, yaitu:

اللَّهُمَّ لاَ تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلاَ تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ

Latin: Allahumma laa taqtulnaa bigadzhabika wa laa tuhliknaa bi’adzabika wa ‘aafinaa qabla dzalika.

Arti: Ya Allah, jangan Engkau matikan kami karena kemarahanMu. Jangan Engkau hancurkan kami karena azabMu. Dan ampunilah kami sebelum itu.”[iii]

Dalam penjelasannya, Syaikh Abdullah Al-Faqih mengatakan bahwa doa ini bukan doa khusus ketika terjadi gempa bumi, melainkan doa ketika mendengar petir dan kilat.

Jika Terjadi Gempa Ketika Shalat

Lalu bagaimana jika gempa bumi terjadi saat kita sedang mengerjakan salat? Tentang hal ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid menjelaskan:

لا حرج على من كان في الصلاة : أن يقطع صلاة إذا حصل زلزال ، أو حريق ، أو نحو ذلك من الكوارث ، أو النوازل العامة ، إذا خاف شيئا من ذلك على نفسه ، أو ماله ، أو خاف على نفس معصوم ، أو ماله .

“Tidak mengapa seseorang yang ketika salat, kemudian menghentikan salatnya, jika terjadi gempa bumi, atau kebakaran, atau bencana lainnya, jika dia takut sesuatu menimpa dirinya, atau mengimpa hartanya, atau khawatir akan keselamatan nyawa manusia lainnya atau harta mereka.”[iv]

Baik, demikian sedikit pelajaran agama kita kali ini, tentang gempa bumi dalam Al-Quran, doa ketika gempa, atau apakah harus meneruskan salat atau membatalkannya ketika terjadi gempa. Semoga bermanfaat. Silakan disebarkan ke yang lain dengan tetap menyertakan tautan ke situs ini. Baarakallahu fiikum


[i] Al-Islamu Sual wal Jawab: 121254

[ii] Asy-Syabakah Al-Islamiyah: 120543

[iii] Jami At-Tirmizi No. 3450.

[iv] Al-Islamu Sual Wa Jawab: 295672