Irfan Nugroho
Dalam beberapa kesempatan, saya sering meluangkan waktu di antarai
senin-jumat untuk menyaksikan program “Orang Pinggiran” yang diudarakan
oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia.

Menonton acara tersebut ternyata mampu membuat saya bersyukur karena
penghidupan saya ternyata jauh lebih ‘nikmat’ daripada mereka yang
ditayangkan di program tersebut.

Namun, pernahkah terbesit dibenak kita pertanyaan, “Bagaimanakah kondisi ke-Islaman orang-orang tersebut?”

Yang saya khawatirkan adalah ketika orang-orang tersebut ‘dicitrakan’
sebagai pekerja keras yang bertanggung-jawab pada keluarganya, namun di
sisi lain, mereka lupa pada tujuan hidup mereka untuk beribadah kepada
Allah.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56).

Hari ini saya menemui seorang nenek yang tangan kirinya harus diperban
lantaran patah pada empat bagian namun sang nenek masih ngotot untuk
pergi ke sawah mencabut rumput yang tumbuh di sekitar tanaman padi
miliknya.

“Nek, kok masih pergi ke sawah juga di hari Iedul Fitri seperti ini?” tanyaku.

“Nanti makan apa kalau tanaman padi ini ga dirawat. Nak?” jawabnya.

Dan teringatlah saya akan nasihat Rasulullah, “Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah akan menjadikan bayang-bayang kefakiran di pelupuk matanya,” (HR Tirmidzi).

Tepat sekali bukan nasihat Rasulullah di atas? Bahkan di hari raya pun,
sang nenek tersebut yang tangan kirinya belum sembuh dari patah tulang
masih nekat pergi ke sawah lantaran takut kelaparan.

Saya pun bertemu anak dari nenek tersebut dan baru aku tahu darinya
bahwa sang nenek ternyata juga sangat jarang melaksanakan shalat.

Maka bisa dibayangkan suatu kondisi dimana seorang tua renta yang hidup
dalam kemiskinan dan bekerja keras mencari dunia ternyata juga lupa
terhadap “Kewajiban Asasi-nya” untuk beribadah kepada Allah.

Kondisi inilah yang digambarkan oleh Allah ta’ala dalam Surat Al-Ghasiyah ayat ketiga dan keempat:

Mereka bekerja keras lagi kepayahan (untuk dirinya sendiri,
keluarganya, dan ambisinya untuk kehidupan di dunia ini – Tafsir Fii
Dhilalil Quran), (Dan pada akhirnya mereka) dimasukkan ke dalam api yang
sangat panas (neraka),
” (Al-Ghasiyah: 3-4).

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan
kemiskinan. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tiada Illah yang
berhak disembah selain Engkau ya Allah,” (Dibaca Tiga Kali Setiap
Selesai Shalat Subuh dan Shalat Ashar). (HR Abu Daud, Ahmad, Nasa’I,
& Bukhari).
(1 September 2011/2 Syawal 1432 H)