.fullpost { display: inline; }

Endang Syaiful Aziz, Lc
Dakwah
diwajibkan atas setiap Muslim yang mampu untuk menyampaikannya.
“Sampaikanlah oleh kalian semua dariku walau hanya satu ayat.” Para
ulama juga berpendapat bahwa “setiap Muslim wajib berdakwah dalam hal
yang mereka ketahui.” Sehingga, setiap Muslim wajib berdakwah dimanapun
kapanpun.

Al-Fushilat: 33

33. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya
Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Salah seorang tabi’in, Hasan Al-Bashri, berkata mengenai ayat ini, “Dia
(sebagai jawaban dari “siapakah”) seorang mukmin yang menyambut seruan
Allah lalu dia menyeru manusia pada yang diperintahkan oleh Allah
kepadanya dan dia senantiasa beramal salih dalam menyeru kepada syariat
Allah.

Imam Ibnu Qayyim menanggapi perkataan Hasan Al-Bashri dengan berkata,
“Kedudukan/ derajat dakwah adalah seutama-utama kedudukan/derajat
seorang hamba.” Sebuah kemuliaan bagi setiap Muslim adalah dengan
berdakwah.

Untuk lebih baik dalam berdakwah, maka setiap orang harus tahu makna
“dakwah.” “Dakwah adalah tuntutan untuk merubah realita manusia baik
dengan ucapan atau perbuatan agar sesuai dengan syariah Allah di dalam
segala aspek kehidupan.”

Apa yang harus dilakukan di dalam dakwah, maka peran dakwah adalah:
1. Mengajari orang yang jahil agar dia faham.
2. Mengingatkan orang yang lalai agar terbangun (sadar).
3. Menunjuki orang kafir menuju keimanan.
4. Menunjuki orang musyrik menuju tahuid.
5. Menunjuki ahli bid’ah menuju sunnah.
6. Menunjuki orang yang bermaksiat pada ketaatan kepada Allah.

Rasul bersabda dalam urusan dakwah, “Sungguh, Allah menunjuki melalui
lisan/perbuatan kamu seseorang maka itu lebih baik bagimu daripada unta
merah.”

Dalam hadis yang lain, “Manusia itu semua bagaikan seratus unta,
hamper-hampir kamu tidak mendapatkan dari yang seratus itu yang bersifat
rohilah (seorang Muslim yang mau mengorbankan segala yang ada padanya
untuk berjihad di jalan Allah), dan dia orang yang kuat dan mengemban
amanah dari Allah.”

Dakwah memiliki dua sisi:
1. Dakwatul Jahil (mendakwahi orang bodoh)
• Mendakwahi orang kafir kepada Islam dan mengajarkan hokum-hukum Islam.
• Seorang mukmin mengajari apa-apa yang belum diketahui oleh saudaranya yang Muslim.

2. Dakwatul Alim (mendakwahi orang alim)
• Mendakwahi orang yang tahu tentang hokum-hukum Islam dengan
memotivasi/menggerakkan dirinya untuk berbuat kebaikan atau beristiqamah
dalam kebaikan.
• Mengancamnya dari perbuatan yang buruk/ mengingatkan dari keburukan.

Ada tiga tipe orang yang akan berdakwah:
1. Alimun Wa Amaro Bil Hikmah (Alim yang tahu yang memerintahkan dengan hikmah)
2. Alimun Wa Amaro Bil Ghairi Hikmah (Alim yang tahu yang memerintahkan tanpa hikmah)
3. Seorang yang jahil yang berbuat kesalahan

An-Nahl: 125

125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk.

[845]  Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Ada dua jalan/metode untuk berdakwah:
1. Bil Hikmah
Metode dakwah yang dilakukan dai untuk mengajak bicara kepada akal
dengan dalil. Ini biasanya disampaikan kepada orang-orang khusus.

2. Mauidhatul Hasanah
Digunakan untuk mempengaruhi jiwa seseorang. Untuk membuat jiwa
seseorang terharu dengan perkataan atau perbuatan yang menyentuh
psikologi atau perasaan orang yang didakwahi.

Kebanyakan dai dimanapun hanya menggunakan metode yang kedua saja.
Yaitu, berdiri di atas mimbar, menyampaikan hal-hal yang sudah diketahui
oleh para jamaah sehingga dia dapat menyakinkan jiwa-jiwa mereka dan
menarik mereka dengan perasaan. SEhingga, tanpa terasa jadi menangis,
jadi terharu.

Hanya sedikit yang menggunakan dua metode langsung. Hanya sedikit yang
berdakwah dengan menggabungkan kedua metode tersebut untuk menuju
kemaslahatan manusia yang hakiki.

Maka Allah dalam ayat tersebut memberitahu bagaimana menggabungkan dua
metode tersebut; yakni dengan “membantah dengan cara yang baik.” Maka,
tafsir dari kalimat itu adalah:
1. Dai harus mengetahui bahasa orang-orang yang akan didakwahi.
Rasul berdakwah kepada kaum Musyrikin dengan bahasa yang dipakai
orang-orang Musyrik. Maka tidak ada bagi alasan bagi seorang Muslim/dai
untuk tidak belajar bahasa Arab.

Ibrahim: 4

4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan
bahasa kaumnya[779], supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang
kepada mereka. Maka Allah menyesatkan[780] siapa yang dia kehendaki, dan
memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan
yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

[779]  Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab itu, bukanlah berarti bahwa
Al Qu’an untuk bangsa Arab saja tetapi untuk seluruh manusia.
[780]  disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung
keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat
ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah
menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

2. Dai harus mengetahui akhlak manusia, adab kebiasaan mereka, bagaimana hawa nafsu mereka (keinginan mereka di dunia)

3. Dai harus menyampaikan dakwah dengan suara yang dapat menggugah pikiran manusia.

Materi bahasannya harus membuat orang yang didakwahi merasa penasaran
sehingga menimbulkan diskusi lebih lanjut. Sampaikan dengan tegas,
gamblang sehingga tidak muncul syubhat. Jangan hanya berkata,
“Berbuat-baiklah maka Anda masuk Surga….” namun tidak dijelaskan
bagaimana berbuat baik, dan parahnya masyarakat yang didakwahi ternyata
masih kental bid’ahnya.

4. Dai harus lembut dalam berucap dan baik dalam bergaul
Allah mengajarkan kepada Nabi Musa untuk mendakwahi Fir’aun, yang sangat kejam, dalam firman-Nya Surat Thahaa Ayat 44:

44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Ali-Imran: 159

159.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut
terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah
dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu Telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

[246]  Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya,
seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

5. Dai harus memiliki apa yang akan dia dakwahkan (persiapan materi)
Ketika hendak menyampaikan mengenai Aqidah maka dia harus sudah paham
masalah Aqidah. Ketika hendak menyampaikan akhlak, maka dia harus sudah
menjalankan akhlak yang menjadi materinya tersebut. “Seorang yang tidak
memiliki apa-apa tidak akan mampu memberikan sesuatu.”
Ash-Shaff: 2-3

2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

6. Dai harus bersabar dan lapang dada.
Maka seorang dai dituntut untuk tidak terburu-buru melihat hasil
dakwahnya. Karena siapa-siapa yang terburu dalam melihat hasil, maka dia
tidak akan melihat hasilnya. Maka barang siapa yang sempit dadanya,
maka dia akan bosan. Bosan merupakan bencana amalan. Kalau sudah bosan,
tidak akan lagi beramal.

An-Nahl: 127

127.
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan
dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap
(kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang
mereka tipu dayakan.

7. Dai harus berharap untuk sukses/menang.
Dai dituntut untuk tetap berharap bahwa dakwahnya akan berhasil meskipun
besar sekali cobaan karena keluh kesah adalah penyakit yang paling
kronis.