Oleh Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy
9. Posisi berdirinya makmum bersama imam

Apabila
seorang laki-laki mengimami satu orang makmum, maka makmum berdiri di sebelah
kanannya. Demikian juga imam perempuan, apabila dia mengimami satu orang
perempuan lainnya, maka makmum berdiri di sebelah kanannya.
Orang
yang mengimami dua orang makmum atau lebih, maka mereka berdiri di belakang
imam. Jika bercampur antara laki-laki dan perempuan, maka laki-laki berdiri di
belakang imam, dan perempuan berdiri di belakang makmum laki-laki.
Jika ada
satu orang imam laki laki, dan satu makmum laki-laki serta satu orang makmum
perempuan, maka makmum laki-laki berdiri di sebelah kanan imam meskipun anak
kecil mumayyiz (yang sudah bisa membedakan) dan perempuan berdiri di belakang
mereka berdua.
Hal ini
berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:
خَيْرُ
صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ
آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
Sebaik-baik
shaf bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan seburuk-buruknya ialah yang
paling belakang. Serta sebaik-baik shaf bagi perempuan adalah yang paling
belakang dan seburuk-buruknya ialah yang paling depan,
” (HR Muslim).
Jika
berdasarkan perbuatan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, suatu hari beliau
pernah mengerjakan shalat dalam suatu peperangan, lalu Jabir datang dan berdiri
di sebelah kiri beliau, maka beliau menariknya ke sebelah kanannya.
Kemudian
datang Jabar bin Sakhr dan berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau menarik
mereka berdua dengan kedua tangannya dan menempatkan mereka di belakang
beliau,” (HR Muslim).
Juga
perkataan Anas Radhiyallahuanhu, “Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah shalat
bersamaku dan ibuku, lalu beliau menempatkanku di sebelah kanan beliau, dan
menempatkan perempuan di belakang kami,” (HR Muslim).
Perkataan
Anas juga, “Aku dan seorang anak yatim ditempatkan di belakang Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sedangkan seorang perempuan yang sudah tua di
belakang kami,” (HR Bukhari).
10.
Seorang imam menjadi sutrah (pembatas) bagi orang yang di belakangnya
Apabila
imam shalat dengan menghadap satu pembatas, maka makmum tidak perlu lagi
memakai pembatas lain. Karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah dibuatkan
pembatas berupa tombak pendek, lalu beliau shalat dengan menghadap pada tombak
tersebut.
Beliau
juga tidak menyuruh makmum yang di belakangnya untuk menaruh pembatas lainnya,
(HR Bukhari dan Muslim).
11.
Kewajiban mengikuti imam
Makmum
harus mengikuti imam dan tidak boleh mendahuluinya, serta makruh menyamainya.
Apabila dia mendahului imam pada takbiratul ihram, maka dia wajib
mengulanginya. Jika tidak, maka shalatnya batal.
Demikian
juga shalatnya batal jika dia mendahului salah sebelum imam. Jika dia
mendahuluinya dalam rukuk dan sujud, atau bangkit dari keduanya, maka dia wajib
kembali rukuk atau sujud setelah imamnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:
إِنَّمَا
جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ
فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ
حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا
صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُون
Sesungguhnya
dijadikan imam itu agar diikuti, jika ia takbir maka bertakbirlah, jika ia
rukuk maka rukuklah, jika ia mengangkat kepalanya maka angkatlah kepala kalian,
jika ia mengucapkan: SAMI’AALLAHU LIMAN HAMIDAHU (semoga Allah mendengar pujian
orang yang memuji-Nya) maka ucapkanlah: RABBANA WA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb
kami, bagi-Mu segala pujian), jika ia sujud maka sujudlah, dan jika ia shalat
dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk semuanya
,” (HR
Tirmidzi
).
Sabda
beliau:
أَمَا
يَخْشَى أَحَدُكُمْ أَوْ لَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ
الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ
صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ
“Tidakkah
salah seornag dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak
takut, jika ia mengangkat kepalanya sebelum Imam, Allah akan menjadikan
kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti
bentuk keledai?

(HR Bukhari).
12.
Makmum mengganti imam karena udzur
Jika imam
ketika sedang melakukan shalat teringat sedang berhadats, atau tidak sengaja
terkena hadats, hidungnya mimisan atau tertimpa sesuatu yang dia tidak dapat
melanjutkan shalatnya, maka boleh baginya meminta salah seorang makmum yang
berada di belakangnya untuk menggantikan posisinya dan menyempurnakan shalat
lalu imam tersebut pergi meninggalkan shalat. Umar Radhiyallahuanhu pernah
meminta Abdurrahman bin Auf Radhiyallahuanhu untuk menggantikannya ketika
beliau ditikam saat sedang menjadi imam shalat, (HR Bukhari). Ali
Radhiyallahuanhu juga pernah meminta seseorang untuk menggantikannya karena
mimisan yang menimpanya, (HR Said bin Manshur).

Bersambung…