Oleh Sheikh
Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

Sholat berjamaah
atau shalat di masjid merupakan perbuatan sunnah yang sangat dianjurkan sekali bagi setiap mukmin
yang tidak memiliki uzur untuk tidak menghadirinya, berdasarkan sabda Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:
Tidaklah
ada tiga orang di suatu desa atau suatu kampung di mana mereka tidak mendirikan
sholat berjamaah di dalamnya, melainkan setan akan menguasai mereka. Karena
itu, hendaklah kamu mendirikan sholat berjamaah karena serigala hanya akan
memangsa seekor kambing yang menyendiri (terpisah dari kelompoknya),
” (HR
Ahmad No. 21203, Abu Dawud No. 547, An-Nasai No. 847, dan Al-Hakim No. 1/330,
Hadist shahih
)
Juga sabda
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,
Demi Zat
yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku ingin sekali menyuruh supaya kayu
bakar dikumpulkan lalu dinyalakan, kemudian aku menyuruh seseorang
mengumandangkan adzan shalat, serta menyuruh seseorang supaya mengimami shalat,
kemudian aku pergi mendatangi orang-orang yang tidak ikut shalat berjamaah lalu
aku pasti akan membakar rumah-rumah mereka,” (
HR Bukhari, No. 644,
Muslim, No. 651
).
Juga sabda
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yang ditujukan kepada lelaki buta yang berkata
kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,
Yaa
Rasulullah, aku tidak mempunyai seorang penuntun yang akan menuntunku ke
masjid.”
Kemudian
Rasulullah memberikan rukhshah (keringanan) padanya untuk tidak ikut menunaikan
sholat berjamaah, tetapi ketika orang itu hendak pergi, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam memanggilnya seraya bertanya,
Apakah
kamu mendengar suara adzan shalat?”
Orang itu pun menjawab, “Iya.” Maka
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, “Penuhilah panggilannya,” (HR
Muslim, No. 653
).
Abdullah bin
Mas’ud menuturkan,
Sungguh
aku telah melihat orang-orang di antara kami dan tidaklah ada yang mengabaikan
shalat berjamaah melainkan (pasti) ia adalah seorang munafik yang
kemunafikannya telah diketahui dengan jelas. Sehingga terkadang seorang
laki-laki datang dengan dipapah dua orang (untuk menghadiri shalat berjamaah) hingga
ia didirikan di suatu barisan,”
(HR Muslim, No. 654).