Oleh Sheikh
Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

1. Mengucapkan
doa istiftah
. Lafaz doa istiftah adalah sebagai berikut:
“Subhanakallahuma
wabikhamdika wa tabarakasmuka wa ta’ala jadduka wa laa ilaha ghairuka…”
“Mahasuci
Engkau ya Allah, segala puji bagi-Mu, Mahasuci nama-Mu, Mahatinggi
keagungan-Mu, dan tidak ada Rabb selain Engkau,” (HR At-Tirmidzi: 242, 243,
dan Abu Daud: 775, 776
).
2. Membaca
isti’adzah
pada rekaat pertama dan membaca basmalah dengan pelan pada setiap
rakaat. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Apabila kamu
membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan
yang terkutuk,” (An-Nahl: 98).
3. Mengangkat
kedua tangan sampai bahu/pudak
ketika takbiratul ihram, ruku, bangun dari
rukuk, dan berdiri pada rekaat yang kedua. Hal ini berdasarkan penuturan Ibnu
Umar,
“Sesungguhnya
Nabi jika berdiri mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sampai
sejajar dengan bahunya kemudian bertakbir.”
Jika hendak rukuk, beliau mengangkat kedua
tangannya seperti itu juga, dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau
mengangkat kedua tangannya seperti itu juga, lalu beliau mengucapkan:
“Samiallahu
liman khamidahu rabbana wa lakal khamdu…”
Semoga
Allah mendengarkan pujian orang yang memuji-Nya, wahai Rabb kami, bagi-Mu
segala puji,”
(HR At-Tirmidzi: 242, 243, Abu Daud: 775, 776, dan Ibnu
Majah: 804, 806).
4. Mengucapkan,
“Aamiin,”
setelah membaca Surat Al-Fatihah. Hal ini berdasarkan riwayat apabila
Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam membaca, “Ghairil maghdzu bi
alaihim wa ladz dzhaaalliin…
” maka beliau mengucapkan, “Aamiin”
dengan memanjangkan suaranya,” (HR Abu Daud: 57, kitab Istifathush shalat).
Beliau
bersabda, “Apabila Imam membaca, ‘Ghairil maghdzu bi alaihim wa ladz
dzhaaalliin…’
maka ucapkanlah, “Aamiin” karena sesungguhnya
barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan para malaikat, maka ia akan
diampuni dari dosanya (yang kecil) yang telah lewat,” (HR Al-Bukhari:
1/198).
5. Mengucapkan
variasi panjang-pendek bacaan
surat-surat Al-Quran saat shalat.
Yaitu
memperpanjang bacaan pada shalat Subuh, dan memendekkannya pada shalat Ashar
dan Maghrib, serta bersikap pertengahan ketika melakukan shalat Isya dan
Dzhuhur.
Hal ini
berdasarkan sebuah riwayat bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahuanhu pernah
menulis surat kepada Abu Musa Al-Asyari, “Bacalah pada shalat subuh surat-surat
mufashal yang panjang-panjang, dan bacalah pada shalat dzhuhur surat-surat
mufashal yang tengah-tengah, dan bacalah pada shalat maghrib surat-surat yang
pendek-pendek,” (HR At-Tirmidzi: 111, kitab Al-Muwaqit: 306).
6. Mengucapkan
doa di antara dua sujud.
“Rabbighfirlii
warkhamni wa afini wahdini wardzuqnii…”
Ya Allah
ampunilah dosaku, sayangilah aku, berilah aku kesehatan, berilah aku petunjuk,
serta berilah aku rezeki,”
(HR An Nasai: 172, kita Al-Iftitah). Berdasarkan
riwayat bahwasanya Nabi Muhammad mengucapkan doa tersebut pada saat di antara
dua sujud.
7. Mengucapkan
doa qunut
pada rekaat kedua sholat subuh, atau pada rekaan terakhir shalat
witir.
Hal ini
dilakukan setelah membaca surat atau setelah bangkit dari rukuk. Salah satu
redaksi doa qunut tersebut seperti:
“Allahumah
dini fiiman hadain, wa afini fiiman afain, watawalina fiiman tawallait,
wabarikli fiima a’thait, waqini washrif anni syarra maa qadhait, fainnaka
taqdhi wala yuqdha alaik, innahu laayadzillu man walait, wa laa yaghizzu man
adait, tabarakta rabbana wata alait, Allahumman inni audzubika birridzhaka min
syakhatika, wabimuafatika min uqubatika, wabika minka laa ukhshi tsana a alaik,
anta kamaa atsnaita ala nafsika…”
“Ya Allah!
Berilah kau petunjuk seperti orang lain yang Engkau beri petunjuk, dan berilah
aku kesehatan seperti orang lain yang Engkau beri kesehatan, berilah aku
kekuatan seperti orang lain yang Engkau beri kekuatan, dan berilah keberkahan
padaku (rezeki) dari apa yang telah Engkau berikan, dan lindungilah aku dan
palingkanlah aku dari keburukan apa yang telah Engkau putuskan, karena
sesungguhnya tidaklah hina orang yang Engkau beri dia pertolongan, dan tidaklah
mulia orang yang Engkau musuhi, Mahasuci Engkau Rabb kami lagi Mahatinggi, ya
Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu,
dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dan dengan-Mu dariMu, tidak dapat aku hitung
pujian kepada-Mu, seperti Engkau memuji diri-Mu.”
Catatan: Qunut
pada shalat subuh diriwayatkan shahih oleh Imam Bukhari dan Muslim, dan Qunut
pada rakaat shalat witir diriwayatkan shahih oleh Imam At-Tirmidzi dan
Ash-habussunan seperti Abu Daud: 5, Kitab Witir, An-Nasai: 51, Kitab
Qiyamullail, dan Imam Ahmad: 1/119, 200.
8. Posisi
duduk dalam shalat
Posisi duduk
yang dicontohkan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam dalam sifat
shalatnya, yaitu duduk iftirasy pada setiap kali duduk, dan duduk tawarruk yang
dikerjakan pada rekaat terakhir. Duduk iftirasy adalah kaki kanan ditegakkan
dan duduk di atas kaki kiri. Sedangkan duduk tawarruk adalah menegakkan kaki
kanan dan memasukkan kaki kiri di bawah paha dan betis kanan dan pantat sebelah
kiri menyentuh langsung ke tempat duduk dan menjadikan tangan kirinya di atas
lutut yang kiri dengan membentangkan jari-jarinya.

Adapun tangan kanan mengepalkan jari jemarinya serta menunjuk dengan jari
telunjuk, dan menggerakkan jari ketika membaca tasyahud. Hal ini berdasarkan
riwayat bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam apabila duduk dalam
tasyahud beliau meletakkan tangan kanannya di atas pahanya yang kanan, dan
tangan kirinya di atas pahanya yang kiri, dan menunjuk dengan jari telunjuk,
serta pandangannya tidak melebihi apa yang ditunjuknya,” (HR Muslim: 113,
Kitab A-Masajid).
Wallahu’alam bish shawwab…, Bersambung