Pembaca yang semoga dirahmati Allah, banyak pertanyaan yang berbunyi, “Tulislah hadis yang menyatakan bahwa persaudaraan adalah bukti keimanan seseorang.” Berikut kami suguhkan kepada Anda tulisan Arab dan artinya, juga kami lengkapi dengan takhrij dan syarah atau penjelasan hadis yang dimaksud. Teruskan membaca.

Dari sahabat Anas Radhiyallahuanhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Latin: Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi maa yuhibbu li nafsihi

Arti: Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa-apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.

Takhrij Hadis:

Sahih Bukhari: 13

Sahih Muslim: 45

Sunan An-Nasai: 5016, 5017, 5039,

Sunan Ibnu Majah: 66

Sunan Ad-Darimi: 2782

Sahih Ibnu Hibban: 234

Penjelasan Hadis:

1. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Orang yang tidak melakukan apa yang ada dalam hadis ini, dia tidak menjadi kafir,” (Fathul Bari No. 13)

2. Lebih lanjut beliau berkata, “Cinta adalah menginginkan sesuatu yang diyakini sebagai suatu kebaikan,” (Idem).

3. Imam Nawawi juga menjelaskan tentang cinta, “Cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang dicintai tersebut dapat berupa sesuatu yang dapat diindera, seeprti bentuk, atau dapat juga berupa perbuatan, seperti kesempurnaan, keutamaan, mengambil manfaat atau menolak bahaya. Kecenderungan di sini bersifat ikhtiyari, bukan bersifat alami atau paksaan,” (Idem).

4. Ibnu Hajar melanjutkan, “Cinta di sini adalah cinta dan senang jika saudaranya mendapatkan seperti apa yang dia dapatkan, baik dalam hal yang bersifat indrawi atau maknawi,” (Idem).

5. Di akhir penjelasannya, Ibnu Hajar berkata, “Semua ini tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan rasa dengki, iri, berlebihan, curang, dan lainnya yang termasuk dalam perangai buruk,” (Idem).

Di dalam Mausu’ah Hadis Durar Saniyah tertulis:

لا يتحقَّقُ الإيمانُ الكامِل لأحدٍ مِن المُسلِمين، حتَّى يحبَّ لأخيه ما يحبُّ لنفسِه مِن الطَّاعاتِ وأنواعِ الخَيراتِ في الدِّينِ والدُّنيا، ويكرَهَ له ما يكرَهُ لنفسِه، فإنْ رأى في أخيه المسلِمِ نقصًا في دِينه، اجتهَد في إصلاحِه.

6. “Seorang muslim tidak akan mencapai kesempurnaan iman sampai dia mencintai bagi saudaranya apa-apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri, mulai dari ketaatan dan berbagai macam kebaikan lainnya, di dunia maupun di akhirat.

7. Juga tidak akan sempurna keimanan seseorang sampai dia membenci bagi saudaranya sesuatu yang dia benci bagi dirinya sendiri.

8. Maka jika dia melihat pada saudaranya sesama muslim ada kekurangan dalam urusan agama, dia akan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memperbaikinya.”

ولا يكونُ المؤمنُ مؤمنًا حقًّا حتَّى يرضى للنَّاسِ ما يرضاه لنفسِه، وهذا إنَّما يأتي مِن كمالِ سلامةِ الصَّدرِ مِن الغِلِّ والغِشِّ والحسَدِ؛ فإنَّ الحسدَ يَقتضي أن يكرَهَ الحاسدُ أن يفُوقَه أحدٌ في خيرِ، أو يساويَه فيه؛

9. Bukti keimanan seseorang adalah dengan ridha kepada manusia seperti dia ridha pada dirinya sendiri. Dan ini muncul dari memiliki sifat salamutsh shadr, lapang dada, yaitu hati yang bebas dari rasa dendam, curang, dan hasad, karena hasad menuntut pelakunya untuk membenci seseorang yang mengunggulinya dalam kebaikan, atau menyamainya, karena dia suka berbeda dari orang lain akibat merasa memiliki keutamaan, kelebihan, sehingga ingin berbeda dari mereka.

10. Nah, iman menuntut sebaliknya, yaitu bahwa hendaknya orang-orang beriman itu saling berbagi dalam kebaikan yang sudah diberikan oleh Allah.

Wallahu’alam bish shawwab.

Sukoharjo, 15 Agustus 2020

Irfan Nugroho