Pembaca situs mukminun.com yang semoga dirahmati Allah, malam ini 13 Juni 2020, banyak pertanyaan seputar “hadits aqiqah,” “hadits aqiqah shahih,” dan “hadits aqiqah 7 hari.” Guna memenuhi pertanyaan umat seputar hal tersebut, kali ini akan kita bahas terlebih dahulu hadits aqiqah mengenai “anak tergadai dengan aqiqahnya.” Berikut adalah penjelasan Syekh Abdullah bin Al-Bassam, pensyarah kitab Bulughul Maram. Teruskan membaca:

Matan Hadits

Dari Samurah Radhiyallahuanhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

ﻛﻞ ﻏﻼﻡ ﻣﺮﺗﻬﻦ ﺑﻌﻘﻴﻘﺘﻪ، ﺗﺬﺑﺢ ﻋﻨﻪ ﻳﻮﻡ ﺳﺎﺑﻌﻪ، ﻭﻳﺤﻠﻖ، ﻭﻳﺴﻤﻰ

Latin:

Kullu ghulaam murtahanun bi’aqiqatuhu, tudzbahu ‘anhu yauma as-saabi’ah, wa yuhlaqu wa yusamma.

Arti:

“Setiap anak tergadai oleh (hewan) aqiqahnya yang disembelih di hari ke-7 (tujuh), lalu dicukur dan diberi nama.”

Takhrij Hadits:

Hadis aqiqah hari ketujuh ini diriwayatkan dalam:

1. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal: 5/7

2. Sunan Abu Dawud No: 2838

3. Sunan An-Nasa’i No: 7/166

4. Sunan At-Tirmizi No: 1522

5. Sunan Ibnu Majah No: 3165

Hadits Aqiqah ini Shahih atau Tidak?

Tentang hal ini, syekh Abdullah bin Al-Bassam berkata:

“Hadits di atas adalah hadis shahih. Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah, juga yang lainnya dari jalur Imam Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah.

“Imam At-Tirmizi berkata: ‘Hadis ini Hasah Sahih.’”

“Imam Al-Hakim berkata, ‘Sanadnya Sahih.’”

“Hadis ini juga disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, juga dishahihkan oleh Abdulhaq.”

“Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan di dalam Sahih-nya, dari jalur Al-Hasan, bahwa dia mendengar hadits aqiqah dari Samurah. Imam Bukhari tidak mengetahui bahwa Al-Hasan pernah mendengar dari Samurah selain hadis ini.”

Hikmah Hadits Aqiqah

1. Hadis ini menunjukkan tentang kuatnya perintah aqiqah. Aqiqah sebaiknya tidak ditinggalkan, apa pun kondisi yang terjadi. Oleh karena itu, Imam Ahmad berkata:

ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﺎ ﻳﻌﻖ ﺑﻪ ﻓﺎﺳﺘﻘﺮﺽ، ﺃﺭﺟﻮ ﺃﻥ ﻳﺨﻠﻒ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ؛ ﻓﻘﺪ ﺃﺣﻴﺎ ﺳﻨﺔ.

“Jika seseorang belum memiliki biaya untuk aqiqah, maka dia boleh berhutang. Aku berharap semoga Allah menggantinya, karena di dalam hal ini terdapat upaya menghidupkan sunah Nabi ﷺ.

Ibnu Mundzir Rahimahullah berkata:

ﺻﺪﻕ ﺃﺣﻤﺪ؛ ﺇﺣﻴﺎء اﻟﺴﻨﻦ ﻭاﺗﺒﺎﻋﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ.

“Benar Imam Ahmad. Menghidupkan sunnah dan mengikutinya adalah lebih utama.”

Syekh Taqiyuddin berkata:

ﻳﻌﻖ ﻋﻦ اﻟﻴﺘﻴﻢ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻪ.

“Boleh mengaqiqahi anak yatim dari hartanya.”

BACA:

2. Ulama berbeda pendapat tentang makna “Setiap anak tergadai dengan hewan aqiqahnya.”

Ada yang mengatakan bahwa maknanya yaitu:

ﺃﻥ اﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻻﺯﻣﺔ ﻟﻠﻤﻮﻟﻮﺩ؛ ﻛﻞﺯﻭﻡ اﻟﺮﻫﻦ ﻟﻠﻤﺮﻫﻮﻥ ﻳﺰﻳﺪ اﻟﺮاﻫﻦ.

“Bahwa aqiqah menempel pada bayi, seperti menempelnya barang gadaian pada orang yang menggadaikan.”

Imam Ahmad bin Hambal berkata:

ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻭﻫﻮ ﻃﻔﻞ ﻟﻢ ﻳﻌﻖ ﻋﻨﻪ ﻓﻼ ﻳﺸﻔﻊ ﻷﺑﻮﻳﻪ؛ ﻭﻳﻘﻮﻱ ﻫﺬا اﻟﻘﻮﻝ ﻣﺎ ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺑﺮﻳﺪﺓ ﺑﻦ اﻟﺤﺼﻴﺐ ﻗﺎﻝ:

“Artinya, jika seseorang meninggal dunia ketika masih bayi, sementara dia belum diaqiqahi, maka dia tidak bisa memberi syafaat kepada orang tuanya. Pernyataan ini dikuatkan dengan apa yang dikeluarkan oleh Imam Al-Baihaqi dari hadis Buraidah bin Al-Hushaib bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ﺇﻥ اﻟﻨﺎﺱ ﻳﻌﺮﺿﻮﻥ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﻘﻴﻘﺔ، ﻛﻤﺎ ﻳﻌﺮﺿﻮﻥ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻠﻮاﺕ اﻟﺨﻤﺲ”،

“Sesungguhnya manusia, di hari kiamat nanti, mereka akan diperlihatkan kepada hewan aqiqahnya, persis seperti mereka diperlihatkan kepada shalat limat waktunya.”

Syekh Abdullah Al-Bassam menambahkan:

“Ada pula yang berpendapat lain. Yang terpenting bahwa penyerupaan di sini menunjukkan betapa kuatnya syiar ini. Hendaknya perintah ini tidak diabaikan. Oleh karena itu, siapa yang menghidupkannya, maka sungguh dia telah menghidupkan sunah yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ yang juga pernah diamalkan oleh Nabi sendiri.”

3. Disebutkan di dalam Syarah Al-Iqna:

“Selain ayah, seseorang tidak boleh melakukan aqiqah. Adapun aqiqah yang dilakukan Nabi ﷺ terhadap Hasan dan Husein, maka hal tersebut karena keutamaan Nabi ﷺ dibandingkan dengan orang-orang mukmin lainnya.”

Beberapa ulama memilih pendapat yang menyebutkan bahwa sunah hukumnya seseorang mengaqiqahi dirinya sendiri, jika sang ayah tidak sempat mengaqiqahinya. Ini adalah pendapat Atha’ bin Rabbah dan Al-Hasan, karena diri sang anak telah tergadai. Oleh karena itu, sebaiknya aqiqah dilakukan untuk melepaskan dirinya.

BACA:

4. At-Tirmizi meriwayatkan hadits 2832 dari hadits Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya:

ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ -ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﺃﻣﺮ ﺑﺘﺴﻤﻴﺔ اﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﻳﻮﻡ ﺳﺎﺑﻌﻪ، ﻭﻭﺿﻊ اﻷﺫﻯ ﻋﻨﻪ، ﻭاﻟﻌﻖ

“Bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk memberi nama anak di hari ketujuh, mencukur rambutnya, serta mengaqiqahinya.” Wallahu’alam bish shawwab

Demikian, pembaca yang budiman, telah kita bahas bersama mengenai hadits aqiqah dan makna “anak tergadai dengan aqiqahnya.” Semoga bermanfaat, dan jangan lupa untuk menyebarkan link ke artikel ini. Baarakallahu fiikum. Semoga Allah memberkahi Anda semua (Aamiin boleh diucapkan atau ditulis di komentar).