Pembaca yang semoga dirahmati Allah, kali ini kita akan membahas makna dari satu kutipan hadits tentang anjuran semangat melakukan apa yang bermanfaat.

Hadits ini sebenarnya panjang, dan banyak sekali faidah yang bisa diambil. Hanya saja, kali ini kita akan fokus dengan apa yang tertera pada judul, yaitu “Semangat Melakukan Apa yang Bermanfaat,” serta penjelasan para ulama tentangnya.

Rasulullah SAW bersabda:

اِﺣِْﺮِﺹْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻚَ

Semangat dalam melakukan apa yang bermanfaat

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh:

  • Imam Muslim, dalam Sahih Muslim Nomor: 2664
  • Imam Ibnu Majah, dalam Sunan Ibnu Majah Nomor: 79 dan 4168
  • Imam Ahmad, dalam Musnad Ahmad Nomor: 8791 dan 8829

Penjelasan #1

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

(اﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ) ﻳﻌﻨﻲ ﺃﺟﺘﻬﺪ ﻓﻲ ﺗﺤﺼﻴﻠﻪ ﻭﻣﺒﺎﺷﺮﺗﻪ، ﻭﺿﺪ اﻟﺬﻱ ﻳﻨﻔﻊ اﻟﺬﻱ ﻓﻴﻪ ﺿﺮﺭ، ﻭﻣﺎ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﻓﻴﻪ ﻭﻻ ﺿﺮﺭ، ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻥ اﻷﻓﻌﺎﻝ ﺗﻨﻘﺴﻢ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ: ﻗﺴﻢ ﻳﻨﻔﻊ اﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﻗﺴﻢ ﻳﻀﺮﻩ، ﻭﻗﺴﻢ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﻭﻻ ﻳﻀﺮ.

Ini adalah wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada umatnya. Wasiat ini bersifat universal dan preventif, “Semangat melakukan apa yang bermanfaat bagi dirimu. ” atau, bersemangatlah dalam mencari dan mendapatkannya, serta tolaklah sesuatu yang didalamnya ada bahaya, tidak bermanfaat, dan tidak penting. Demikian itu karena amal perbuatan dibagi menjadi tiga bagian:

  1. bagian yang bermanfaat bagi manusia
  2. bagian yang membahayakan manusia, dan
  3. bagian yang tidak bermanfaat dan tidak membahayakan manusia.

ﻓﺎﻹﻧﺴﺎﻥ اﻟﻌﺎﻗﻞ اﻟﺬﻱ ﻳﻘﺒﻞ ﻭﺻﻴﺔ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﻳﺤﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻪ، ﻭﻣﺎ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﺬﻳﻦ ﻳﻀﻴﻌﻮﻥ ﺃﻭﻗﺎﺗﻬﻢ اﻟﻴﻮﻡ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻓﺎﺋﺪﺓ، ﺑﻞ ﻓﻲ ﻣﻀﺮﺓ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻬﻢ، ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﻓﻴﺠﺪﺭ ﺑﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﻘﻮﻝ ﻟﻤﺜﻞ ﻫﺆﻻء: ﺇﻧﻜﻢ ﻟﻢ ﺗﻌﻤﻠﻮا ﺑﻮﺻﻴﺔ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ؛ ﺇﻣﺎ ﺟﻬﻼً ﻣﻨﻜﻢ ﻭﺇﻣﺎ ﺗﻬﺎﻭﻧﺎً، ﻟﻜﻦ اﻟﻤﺆﻣﻦ اﻟﻌﺎﻗﻞ اﻟﺤﺎﺯﻡ ﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﻳﻘﺒﻞ ﻫﺬﻩ اﻟﻨﺼﻴﺤﺔ، ﻭﻳﺤﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﻭﺩﻧﻴﺎﻩ.

Orang yang berakal adalah orang yang menerima wasiat nabi dan bergegas dalam memperoleh sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Betapa banyak orang yang menyia-nyiakan waktu mereka pada saat ini tanpa apa faedah bahkan membahayakan diri dan agama mereka sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya kita katakan kepada mereka bahwa kalian tidak mengerjakan wasiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, baik karena tidak tahu maupun karena meremehkan. Orang mukmin yang berakal adalah orang yang menerima nasihat ini dan bergegas melaksanakan sesuatu yang bermanfaat bagi agama dan dunianya.

ﻭﻫﺬا ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻈﻴﻢ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻹﻧﺴﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻠﻪ ﻧﺒﺮاﺳﺎً ﻟﻪ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻪ اﻟﺪﻳﻨﻲ ﻭاﻟﺪﻧﻴﻮﻱ، ﻷﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: (اﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ) ﻭﻫﺬﻩ اﻟﻜﻠﻤﺔ ﻛﻠﻤﺔ ﺟﺎﻣﻌﺔ ﻋﺎﻣﺔ، (ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ) ﺃﻱ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﻲء ﻳﻨﻔﻌﻚ ﺳﻮاء ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﺃﻭ ﻓﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ، ﻓﺈﺫا ﺗﻌﺎﺭﺿﺖ ﻣﻨﻔﻌﺔ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﻣﻨﻔﻌﺔ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻘﺪﻡ ﻣﻨﻔﻌﺔ اﻟﺪﻳﻦ؛ ﻷﻥ اﻟﺪﻳﻦ ﺇﺫا ﺻﻠﺢ ﺻﻠﺤﺖ اﻟﺪﻧﻴﺎ، ﺃﻣﺎ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﺇﺫا ﺻﻠﺤﺖ ﻣﻊ ﻓﺴﺎﺩ اﻟﺪﻳﻦ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺗﻔﺴﺪ.

Ini adalah perkataan mulia yang harus dijadikan oleh manusia sebagai ukuran dalam menjalankan perbuatan dunia dan amal di dalam beragama karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu.” Kalimat ini bersifat umum dan universal. Kalimat yang bermanfaat bagi dirimu artinya segala sesuatu yang bermanfaat bagimu, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun agama. Jika terjadi pertentangan antara sesuatu yang bermanfaat bagi agama dan dunia, maka sesuatu yang bermanfaat bagi agama harus didahulukan, karena jika agama seseorang baik maka baik pula dunianya, sedangkan jika dunia seseorang baik, sementara agamanya rusak maka rusaklah dirinya.

ﻭﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ: (اﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ) ﺇﺷﺎﺭﺓ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﺗﻌﺎﺭﺿﺖ ﻣﻨﻔﻌﺘﺎﻥ ﺇﺣﺪاﻩﻣﺎ ﺃﻋﻠﻰ ﻣﻦ اﻷﺧﺮﻯ، ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻧﻘﺪﻡ اﻟﻤﻨﻔﻌﺔ اﻟﻌﻠﻴﺎ؛ ﻷﻥ اﻟﻤﻨﻔﻌﺔ اﻟﻌﻠﻴﺎ ﻓﻴﻬﺎ اﻟﻤﻨﻔﻌﺔ اﻟﺘﻲ ﺩﻭﻧﻬﺎ ﻭﺯﻳﺎﺩﺓ، ﻓﺘﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ (اﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ) .

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, “Yang bermanfaat bagi dirimu,” mencakup manfaat untuk agama dan dunia. Jika terjadi pertentangan antara keduanya, maka yang didahulukan adalah yang bermanfaat untuk agama daripada manfaat untuk dunia. Sedangkan dalam sabda rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu,” terdapat suatu isyarat bahwa jika terjadi pertentangan antara kedua manfaat itu, maka kita harus mendahulukan sesuatu yang manfaatnya lebih tinggi. Manfaat yang lebih tinggi mencakup manfaat yang yang lebih rendah dan ada tambahan sehingga masuklah didalamnya Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, “Semangatlah dalam melakukan apa-apa yang bermanfaat bagi dirimu.”

ﻓﺈﺫا اﺟﺘﻤﻊ ﺻﻠﺔ ﺃﺥ ﻭﺻﻠﺔ ﻋﻢ ﻛﻼﻩﻣﺎ ﺳﻮاء ﻓﻲ اﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﻳﻤﻜﻨﻚ ﺃﻥ ﺗﺼﻞ اﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ﺟﻤﻴﻌﺎً، ﻓﻬﻨﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﺻﻠﺔ اﻷﺥ ﻷﻧﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻭﺃﻧﻔﻊ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺃﻳﻀﺎً ﻟﻮ ﺃﻧﻚ ﺑﻴﻦ ﻣﺴﺠﺪﻳﻦ ﻛﻼﻫﻤﺎ ﻓﻲ اﻟﺒﻌﺪ ﺳﻮاء ﻟﻜﻦ ﺃﺣﺪﻩﻣﺎ ﺃﻛﺜﺮ ﺟﻣﺎﻋﺔ ﻓﺈﻧﻨﺎ ﻧﻘﺪﻡ اﻷﻛﺜﺮ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻷﻧﻪ اﻷﻓﻀﻞ، ﻓﻘﻮﻟﻪ (ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ) ﻳﺸﻴﺮ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ اﺟﺘﻤﻌﺖ ﻣﻨﻔﻌﺘﺎﻥ ﺇﺣﺪاﻫﻤﺎ ﺃﻋﻠﻰ ﻣﻦ اﻷﺧﺮﻯ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺗﻘﺪﻡ اﻷﻋﻠﻰ.

Jika terjadi benturan jadwal antara bersilaturahim dengan saudara atau dengan paman, sehingga Anda tidak bisa bersilaturahim kepada keduanya maka, dahulukan saudara karena hal itu lebih utama dan lebih bermanfaat. Begitu juga bila ada dua masjid yang jaraknya sama, tetapi yang satu jamaahnya lebih banyak, maka sebaiknya kita memilih masjid yang jamaahnya lebih banyak karena hal itu lebih baik. Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, “yang bermanfaat bagi dirimu,” ini mengisyaratkan bahwa jika ada dua manfaat yang berbenturan yang satu lebih besar manfaatnya dari yang lain maka kita mendahulukan yang lebih besar manfaatnya.

ﻭﺑﺎﻟﻌﻜﺲ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﻻﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﺮﺗﻜﺐ ﻣﻨﻬﻴﺎً ﻋﻨﻪ ﻣﻦ ﺃﻣﺮﻳﻦ ﻣﻨﻬﻲ ﻋﻨﻪﻣﺎ ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺃﺷﺪ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺮﺗﻜﺐ اﻷﺧﻒ، ﻓﺎﻟﻤﻨﺎﻫﻲ ﻳﻘﺪﻡ اﻷﺧﻒ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭاﻷﻭاﻣﺮ ﻳﻘﺪﻡ اﻷﻋﻠﻰ ﻣﻨﻬﺎ.

Sebaliknya, jika manusia harus memilih antara mengerjakan larangan yang lebih ringan dan larangan yang lebih berat maka dia harus memilih yang lebih ringan karena dalam larangan harus dipilih yang paling ringan sedangkan dalam perintah harus dipilih yang lebih besar manfaatnya.

ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺴﻼﻡ: (ﻭاﺳﺘﻌﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ) : ﻣﺎ ﺃﺭﻭﻉ ﻫﺬﻩ اﻟﻜﻠﻤﺔ ﺑﻌﺪ ﻗﻮﻟﻪ (اﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ) ﻷﻥ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻋﺎﻗﻼً ﺫﻛﻴﺎً ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺘﺘﺒﻊ اﻟﻤﻨﺎﻓﻊ ﻭﻳﺄﺧﺬ ﺑﺎﻷﻧﻔﻊ ﻭﻳﺠﺘﻬﺪ، ﻭﻳﺤﺮﺹ، ﻭﺭﺏﻣﺎ ﺗﻐﺮﻩ ﻧﻔﺴﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺘﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻳﻨﺴﻰ اﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﻠﻪ، ﻭﻫﺬا ﻳﻘﻊ ﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ، ﺣﻴﺚ ﻳﻌﺠﺐ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻻ ﻳﺬﻛﺮ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻭﻳﺴﺘﻌﻴﻦ ﺑﻪ، ﻓﺈﺫا ﺭﺃﻯ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻗﻮﺓ ﻋﻠﻰ اﻷﻉﻣﺎﻟ ﻭﺣﺮﺻﺎً ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎﻓﻊ ﻭﻓﻌﻼً ﻟﻪ، ﺃﻋﺠﺐ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻧﺴﻰ اﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﻠﻪ، ﻭﻟﻬﺬا ﻗﺎﻝ: (ﺃﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ ﻭاﺳﺘﻌﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ) ﺃﻱ ﻻ ﺗﻨﺲ اﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻟﻮ ﻋﻠﻰ اﻟﺸﻲء اﻟﻴﺴﻴﺮ.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “mohonlah pertolongan kepada Allah.” Betapa indah kalimat ini yang diucapkan setelah perkataan, “Bersemangatlah dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu.” Jika manusia itu berakal dan cerdas, maka dia akan mengikuti sesuatu yang bermanfaat dan mengambil apa yang lebih bermanfaat. Mungkin dia akan terpedaya oleh dirinya sendiri sehingga dia Bersandar kepada dirinya dan lupa untuk meminta pertolongan kepada Allah. Hal semacam ini banyak terjadi pada manusia karena dia takjub kepada dirinya sendiri, tidak ingat kepada Allah, dan tidak meminta pertolongan kepada Allah. Maka dari itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Bersemangatlah dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah.” Atau Intinya, jangan kamu lupa untuk meminta pertolongan kepada Allah walaupun dalam sesuatu yang sifatnya remeh.

Penjelasan #2

Menjelaskan hadits ini, Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di Rahimahullah berkata:

ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠّﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: “اﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻚ ﻭاﺳﺘﻌﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ” ﻛﻼﻡ ﺟﺎﻣﻊ ﻧﺎﻓﻊ، ﻣُﺤِﺘﻮٍ ﻋﻠﻰ ﺳﻌﺎﺩﺓ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭاﻵﺧﺮﺓ.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, “berambisilah mendapatkan yang bermanfaat bagimu dan Mintalah pertolongan kepada Allah,” ini merupakan perkataan yang menghimpun seluruh perkara yang bermanfaat dan mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat.
ﻭاﻷﻣﻮﺭ اﻟﻨﺎﻓﻌﺔ ﻗﺲﻣﺎﻧ: ﺃﻣﻮﺭ ﺩﻳﻨﻴﺔ، ﻭﺃﻣﻮﺭ ﺩﻧﻴﻮﻳﺔ.

Adapun perkara yang bermanfaat ada dua, yaitu perkara dunia dan perkara akhirat.

ﻭاﻟﻌﺒﺪ ﻣﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ اﻟﺪﻧﻴﻮﻳﺔ ﻛﻣﺎ ﺃﻧﻪ ﻣﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ اﻟﺪﻳﻨﻴﺔ. ﻓﻤﺪاﺭ ﺳﻌﺎﺩﺗﻪ ﻭﺗﻮﻓﻴﻘﻪ ﻋﻠﻰ اﻟﺤﺮﺹ ﻭاﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ اﻷﻣﻮﺭ اﻟﻨﺎﻓﻌﺔ ﻣﻨﻪﻣﺎ، ﻣﻊ اﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻓﻤﺘﻰ ﺣﺮﺹ اﻟﻌﺒﺪ ﻋﻠﻰ اﻷﻣﻮﺭ اﻟﻨﺎﻓﻌﺔ ﻭاﺟﺘﻬﺪ ﻓﻴﻬﺎ، ﻭﺳﻠﻚ ﺃﺳﺒﺎﺑﻬﺎ ﻭﻃﺮﻗﻬﺎ، ﻭاﺳﺘﻌﺎﻥ ﺑﺮﺑﻪ ﻓﻲ ﺣﺼﻮﻟﻬﺎ ﻭﺗﻜﻤﻴﻠﻬﺎ: ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻛﻣﺎﻟﻪ، ﻭﻋﻨﻮاﻥ ﻓﻼﺣﻪ.


Seorang hamba membutuhkan perkara dunia sebagaimana dia membutuhkan perkara agama. Kebahagiaan dan kesuksesan terletak pada kemauan keras dan kesungguhan dalam perkara-perkara yang bermanfaat. Selain itu, hendaknya dia mengiringinya dengan memohon pertolongan kepada Allah. Selama seorang hamba berkemauan keras dan berambisi memperoleh perkara-perkara yang bermanfaat, bersungguh-sungguh, meniti jalan dan jalurnya, serta memohon keberhasilan dan kesempurnaan perkara-perkara yang bermanfaat tersebut kepada Allah, niscaya dia akan memperoleh kesempurnaan tersebut dan meraih kesuksesan.


ﻭﻣﺘﻰ ﻓﺎﺗﻪ ﻭاﺣﺪ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ اﻷﻣﻮﺭ اﻟﺜﻼﺛﺔ: ﻓﺎﺗﻪ ﻣﻦ اﻟﺨﻴﺮ ﺑﺤﺴﺒﻬﺎ، ﻓﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺣﺮﻳﺼﺎً ﻋﻠﻰ اﻷﻣﻮﺭ اﻟﻨﺎﻓﻌﺔ، ﺑﻞ ﻛﺎﻥ ﻛﺴﻼﻧﺎً ﻟﻢ ﻳﺪﺭﻙ ﺷﻴﺌﺎً. ﻓﺎﻟﻜﺴﻞ ﻫﻮ ﺃﺻﻞ اﻟﺨﻴﺒﺔ ﻭاﻟﻔﺸﻞ. ﻓﺎﻟﻜﺴﻼﻥ ﻻ ﻳﺪﺭﻙ ﺧﻴﺮاً، ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻝ ﻣﻜﺮﻣﺔ، ﻭﻻ ﻳﺤﻈﻰ ﺑﺪﻳﻦ ﻭﻻ ﺩﻧﻴﺎ،

Barangsiapa yang meninggalkan salah satu dari tiga unsur tersebut berarti dia telah meninggalkan kebaikan titik orang yang tidak memiliki kemauan keras pada perkara-perkara yang bermanfaat, dan bahkan cenderung malas, tidak akan mendapatkan apa-apa. Malas itu adalah penyebab utama kegagalan, tidak diperolehnya kebaikan, penghalang mendapatkan kemuliaan, juga penyebab tidak diperolehnya keuntungan dunia maupun agama.

ﻭﻣﺘﻰ ﻛﺎﻥ ﺣﺮﻳﺼﺎً، ﻭﻟﻜﻦ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ اﻷﻣﻮﺭ اﻟﻨﺎﻓﻌﺔ: ﺇﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺭ ﺿﺎﺭﺓ، ﺃﻭ ﻣﻔﻮﺗﺔ ﻟﻠﻚﻣﺎﻟ ﻛﺎﻥ ﺛﻤﺮﺓ ﺣﺮﺻﻪ اﻟﺨﻴﺒﺔ، ﻭﻓﻮاﺕ اﻟﺨﻴﺮ، ﻭﺣﺼﻮﻝ اﻟﺸﺮ ﻭاﻟﻀﺮﺭ، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺣﺮﻳﺺ ﻋﻠﻰ ﺳﻠﻮﻙ ﻃﺮﻕ ﻭﺃﺣﻮاﻝ ﻏﻴﺮ ﻧﺎﻓﻌﺔ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻔﺪ ﻣﻦ ﺣﺮﺻﻪ ﺇﻻ اﻟﺘﻌﺐ ﻭاﻟﻌﻨﺎء ﻭاﻟﺸﻘﺎء.

Ketika seseorang memiliki semangat, tetapi bukan pada perkara-perkara yang bermanfaat, baik pada perkara yang berbahaya, atau pada perkara yang menghilangkan kesempurnaan, maka buah dari semangatnya tersebut adalah kerugian, hilangnya kebaikan, dan diperolehnya keburukan dan kerusakan. Banyak orang yang berambisi pada perkara yang tidak bermanfaat, namun akhirnya yang diperoleh hanya kelelahan, keletihan, dan kerugian semata.

ﺛﻢ ﺇﺫا ﺳﻠﻚ اﻟﻌﺒﺪ اﻟﻄﺮﻕ اﻟﻨﺎﻓﻌﺔ، ﻭﺣﺮﺹ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭاﺟﺘﻬﺪ ﻓﻴﻬﺎ: ﻟﻢ ﺗﺘﻢ ﻟﻪ ﺇﻻ ﺑﺼﺪﻕ اﻟﻠﺠﺄ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ، ﻭاﻻﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺇﺩﺭاﻛﻬﺎ ﻭﺗﻜﻤﻴﻠﻬﺎ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﻜﻞ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺣَﻮْﻟﻪ ﻭﻗﻮﺗﻪ، ﺑﻞ ﻳﻜﻮﻥ اﻋﺖﻣﺎﺩﻩ اﻟﺘﺎﻡ ﺑﺒﺎﻃﻨﻪ ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ ﻋﻠﻰ ﺭﺑﻪ. ﻓﺒﺬﻟﻚ ﺗﻬﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻤﺼﺎﻋﺐ، ﻭﺗﺘﻴﺴﺮ ﻟﻪ اﻷﺣﻮاﻝ, ﻭﺗﺘﻢّ ﻟﻪ اﻟﻨﺘﺎﺋﺞ ﻭاﻟﺜﻤﺮاﺕ اﻟﻄﻴّﺒﺔ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﺃﻣﺮ اﻟﺪﻧﻴﺎ, ﻟﻜﻨّﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﺣﻮاﻝ ﻣﺤﺘﺎﺝ – ﺑﻞ ﻣﻀﻄﺮ ﻏﺎﻳﺔ اﻻﺿﻄﺮاﺭ – ﺇﻟﻰ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻷﻣﻮﺭ اﻟﺘﻲ ﻳﻨﺒﻐﻲ اﻟﺤﺮﺹ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭاﻟﺠﺪ ﻓﻲ ﻃﻠﺒﻬﺎ.

Apabila seorang hamba telah meniti jalan yang bermanfaat, sudah bersemangat untuk mendapatkannya, serta bersungguh-sungguh, maka dia tidak bisa mendapatkannya secara sempurna kecuali dengan memohon pertolongan kepada Allah untuk mendapatkannya dan menyempurnakannya bagi dirinya. Hendaknya dia tidak hanya mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan dirinya sendiri titik akan tetapi, hendaknya dia bersandar kepada Allah secara total baik lahir maupun batin. Karena hal ini akan meringankan segala kesulitan, memudahkan segala keadaan, dan menyempurnakan hasil dan buah yang baik, dalam perkara dunia maupun agama. Tetapi dalam hal ini dia tetap butuh bahkan sangat butuh terhadap ilmu tentang apa apa yang ingin dia raih itu.


ﻓﺎﻷﻣﻮﺭ اﻟﻨﺎﻓﻌﺔ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﺗﺮﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﺮﻳﻦ: ﻋﻠﻢ ﻧﺎﻓﻊ، ﻭﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺢ.

Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama merujuk kepada dua hal, yaitu: ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Apa itu ilmu yang bermanfaat, silakan baca di sini: https://mukminun.com/6-hadits-tentang-ilmu-yang-bermanfaat-dan-penjelasannya/