A. 6 Langkah dalam Tata Cara Mandi Wajib

1. Membaca Basmalah dan Niat

Mandi wajib dimulai dengan mengucapkan bismillah, dan berniat untuk menghilangkan hadast besar, (pembahasan mengenai niat, harap baca: Penjelasan Hadist “Sesungguhnya Amal Itu Tergantung Pada Niatnya…Oleh Sheikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin)

2. Membersihkan Telapak Tangan

Membersihkan kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian bercebok.

Keterangan: Karena bisa jadi ketika dia sedang berhubungan badan, tangannya sempat menyentuh kemaluan pasangannya.

3. Membersihkan Kemaluan

Membersihkan kemaluannya, dan kotoran yang ada di sekitarnya, dari depan dan belakang, dengan tangan kiri.

4. Berwudhu

Berwudhu seperti halnya orang yang berwudhu hendak shalat, kecuali kedua kakinya. Namun boleh membersikan kedua kakinya ketika berwudhu atau mengakhirkannya sampai selesai mandi.

5. Mencelupkan Tangan ke Air, Menyela-nyela Pangkal Rambut

Mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya dengan kedua telapak tangannya itu kemudian membersihkan kepalanya dan kedua telinganya tiga kali dengan tiga cidukan.

Note: Menyela pangkal rambut hanya khusus bagi laki-laki.

Bagi perempuan, cukup dengan mengguyurkan pada kepalanya tiga kali guyuran, dan menggosoknya, tapi jangan mengurai/membuka rambutnya yang dikepang, karena ada hadist yand diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ummu Salamah yang bertanya kepada Rasulullah,

Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ini perempuan yang sangat kuat jalinan rambut kepalanya, apakah aku boleh mengurainya ketika mandi junub (mandi besar)?

Maka Rasulullah menjawab,

Jangan, sebetulnya cukup bagimu mengguyurkan air pada kepalamu tiga kali guyuran,” (HR At-Tirmidzi).

6. Mengguyur Air ke Seluruh Tubuh

Mengguyur tubuhnya dengan tiga gayung air pada bagian tubuh sebelah kanan dengan air, membersihkannya dari atas sampai ke bawah, kemudian bagian yang kiri seperti itu juga berturut-turut sambil membersihkan bagian-bagian yang tersembunyi (pusar, bawah ketiak, lutut, dan lainnya).

Tata cara ini berdasarkan penuturan Aisyah Radhiyallahu Anha:

Apabila Rasulullah hendak mandi junub (mandi besar), beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya sebelum memasukannya ke dalam bejana. Kemudian beliau membasuh kemaluannya dan berwudhu seperti halnya berwudhu untuk shalat. Setelah itu, beliau menuangkan air pada rambut kepalanya, kemudian mengguyurkan air pada kepalanya tiga kali guyuran, kemudian mengguyurkannya ke seluruh tubuhnya,” (HR At-Tirmidzi: 104, dan Abu Daud: 243). 

B. Hal-hal yang Wajib dalam Cara Mandi Wajib

 
1. Niat
 
Niat adalah tekad/keinginan hati untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini untuk menghilangkan hadast besar dengan cara mandi.
 
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wasallam:
 
“Sesungguhnya segala amalan itu (tergantung) dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang itu baginya (balasan) apa-apa yang telah ia niatkan,” (HR Al Bukhari: 8/175). (Penjelasanhadsit ini bisa dibaca disini)
 
2. Mengguyurkan air ke seluruh tubuh sambil menggosoknya sebisa mungkin
 
Hal ini juga diikuti dengan menuangkan air ke bagian yang susah untuk digosok sampai yakin bahwa air itu sudah membasahi seluruh tubuhnya.
 
3. Menyela-nyela jari-jari (tangan-kaki), rambut-rambut kepala dan lainnya, kemudian mengulanginya pada bagian yang sukar terkena air, seperti pusar dan lainnya.
 

C. Hal-hal yang Sunnah dalam Cara Mandi Wajib

 
1. Membaca “bismillah” karena dianjurkan sebelum melakukan amal perbuatan 
 
2. Membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana (sebelum mandi), berdasarkan sebuah hadist yang telah disebutkan di atas
 
3. Memulainya dengan membersihkan kotoran
 
4. Mendahulukan anggota-anggota wudhu sebelum membersihkan anggota tubuh yang lain
 
5. Berkumur-kumur, ber-istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung lalu menyemprotkannya), dan membersihkan bagian dalam telinga.
 

D. Hal-hal yang Dimakruhkan dalam Mandi Wajib

 
1. Berlebih-lebihan dalam menggunakan air.
 
Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam mandi dengan air seukuran satu sha’, yaitu empat mud (empat cidukan telapak tangan).
 
2. Mandi di tempat yang bernajis, karena dikhawatirkan terkena najis.
 
3. Mandi dengan bekas air mandi istri.
 
Hal ini berdasarkan larangan Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wasallam akan hal itu, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
 
4. Mandi tanpa ada penutup.
 
Hal ini bisa seperti dinding atau semisalnya, berdasarkan perkataan Maimunah, “Aku menaruh air untuk Nabi Salallahu’alaihi Wasallam dan aku menutupi beliau dan beliau mandi,” (HR Al-Bukhari: 1/84).
 
Seandainya mandi tanpa ada penutup itu tidak makruh, tentu Maimunah tidak akan menutupi Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wasallam karena beliau bersabda:
 
Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla itu Maha Pemalu, Maha Tertutup (Suci), dan mencintai sifat malu, maka apabila salah seorang di antara kalian mandi, hendaklah dia menutupi dirinya,” (HR An-Nasa’i: 1/200).
 
5. Mandi di air tergenang yang tidak mengalir, hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wasallam:
 
Janganlah seorang di antara kalian mandi di air yang tergenang, sedang dia mandi junub,” (HR Muslim: 226). Wallahu’alam bish shawwab.