Pertanyaan: Ini tentang istri yang tidak mau pulang ke rumah suami. Jadi begini, jika istri saya tidak pulang ke rumah suami. Dia sekarang di rumah orang tuanya, padahal saya sudah memintanya berkali-kali, dan beberapa bulan berlalu seperti itu. Apa yang harus saya lakukan?

Saya sudah mengirimkan artikel tentang tafsir Surat An-Nisa 34 dan 35, juga hadis-hadis yang berkaitan dengannya.

Jawaban oleh Tim Fatwa Asy-Syabakah Islamiyah, diketuai oleh Syekh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti

Segala puji hanya milik Allah ta’ala, Rab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusanNya.

Jika istr Anda tidak mau pulang ke rumah, dan dia tidak memiliki alasan yang syar’i untuk menolak pulang ke rumah, maka dia sudah bisa disebut Nasyiz (durhaka kepada suami).

Agama ini memiliki aturan tentang mengatasi istri yang durhaka di dua ayat yang Anda sebutkan tadi.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Arti:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar, (Surat An-Nisa 34)

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَا إِن يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Arti:

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, (Surat An-Nisa 35).

Menasihati istri

Kami menasihati Anda untuk menjalin komunikasi dengannya, menasihati dia, dan meminta dia untuk takut kepada Allah ta’ala, menyuruh dia untuk taat kepada Anda dalam hal-hal yang diperbolehkan.

Meminta hakim dari kedua keluarga untuk mendamaikan

Jika dia menuruti nasihat Anda, alhamdulillah. Kalau tidak, hendaknya Anda meminta seseorang yang bijak dari keluarga Anda dan dari keluarga istri Anda untuk mendamaikan Anda berdua.

Menceraikannya

Semoga upaya mereka bisa berhasil. Jika terwujud, alhamdulillah. Tetapi kalau tidak, hendaknya Anda mulai mempertimbangkan untuk menceraikannya serta menimbang matang-matang manfaat atau maslahat dari menceraikan istri Anda yang tidak mau pulang ke rumah Anda tadi.

Anda punya hak untuk menahan permintaannya untuk cerai sampai sampai dia membayar ganti rugi kepada Anda berupa uang agar Anda menceraikannya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Fatwa No: 421441

Tanggal: 8 Juni 2020 (17 Syawal 1441)

Sumber: Asy-Syabakah Al-Islamiyah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)