Simak videonya saja. Jangan lupa Subscribe!

Pemirsa yang semoga dirahmati Allah, sebuah pertanyaan datang di kolom komentar:

“Kalau istri tak mau pulang karena keadaan rumah yang penuh ipar dan keluarga suami, apakah boleh, ustadz? Saya berkali-kali sudah bilang kepada suami ingin kontrak sendiri.”

Tak ayal bahwa masalah serupa banyak terjadi di kalangan keluarga muslim. Lalu bagaimana pencerahan dari para ulama? Pertanyaan tentang tinggal serumah dengan ipar juga pernah disampaikan kepada Syaikh Abdullah Asy-Syinqitti. Pertanyaan tersebut berbunyi sebagai berikut:

“Assalamu’alaikum. Saya sudah menikah selama tiga tahun. Ibu mertua dan ayah mertua serta seorang saudara ipar tinggal bersama kami di rumah kami. Menurut Islam, ipar bukan mahram bagi saya. Usianya tiga tahun lebih tua daripada saya, dan belum menikah.

“Dia banyak menyendiri di sebagian besar waktunya. Jadi kami jarang berinteraksi. Meski demikian, saya tidak merasa nyaman kalau bersama dia di rumah. Dia banyak membuat kekacauan di rumah. Dia tidak ingin berkontribusi dalam urusan belanja atau tagihan bulanan.

“Saat kami belanja mingguan, saya membeli daging untuk satu pekan ke depan. Tapi entah mengapa, ipar saya tadi kadang bangun tengah malam dan masak kare untuk dirinya sendiri dengan daging yang saya beli, saya cuci, dan saya bekukan.

“Habis itu, dia meninggalkan banyak bau tidak sedap di seluruh penjuru dapur. Saya merasa bahwa ruang privasi saya terganggu, karena bagi wanita, dapur adalah area khusus bagi mereka.

“Suami saya tahu keadaan ini. Ketika dia nasihati saudaranya agar tidak melakukan hal-hal tersebut di atas, ibu mertua saya justru menjadikan situasi makin parah. Saya tidak yakin, apakah saya di posisi yang benar atau salah. Atau apakah saya hanya merasa tidak nyaman tanpa alasan yang berarti?

“Apakah saya berhak untuk meminta suami saya agar berbicara kepada saudaranya agar dia tinggal terpisah dari kami? Mohon pencerahannya.”

Menanggapi masalah di atas, Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti berkata:

“Istri memiliki hak untuk memiliki tempat tinggal dengan perlengkapan yang terpisah. Dia tidak wajib untuk tinggal bersama ipar di rumah yang sama dan tidak ada pemisahnya. Tidak boleh pula bagi orang yang bukan mahram untuk tinggal bersama sang istri tersebut, seperti saudara laki-laki sang suami.

“Uqbah bin Amir radhiyallahuanhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ

“Waspadalah jika kalian memasuki rumah yang di dalamnya terdapat wanita yang bukan mahram.”

Kemudian seorang laki-laki dari kalangan Anshar berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang saudari ipar?”

Kemudian Rasulullah bersabda:

 الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Ipar adalah maut,” (Sahih Bukhari: 5232, Sahih Muslim: 2172).

Menjelaskan hadis di atas, Syaikh Abdullah Al-Faqih berkata:

“Hendaknya seseorang itu lebih takut, waspada, kepada saudara ipar, melebihi takutnya dia atau waspadanya dia terhadap lelaki yang bukan mahram selain ipar. Mengapa? Karena dia bisa saja berduaan dengan wanita tersebut tanpa ada yang curiga (karena memang dia tinggalnya di situ). Bandingkan dengan orang asing yang bukan ipar. Ipar adalah saudara laki-laki suami selain ayah, kakek, dan anak-anaknya.

“Oleh karena itu, Anda berada di posisi yang benar. Bahwa Anda merasa tidak nyaman, itu adalah alasan yang benar. Oleh karena itu, Anda boleh meminta suami Anda untuk menyelesaikan masalah tersebut bersama saudaranya, seperti mencarikan kontrakan atau tempat tinggal bagi dia, atau membuat satu ruangan khusus untuk dia di dalam rumah, atau yang lainnya. Meski demikian, kami sarankan agar Anda bersikap lembut dan sopan saat mendiskusikan masalah ini dengan suami Anda.”

Pertanyaan serupa juga pernah diterima Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid. Lalu di dalam fatwanya beliau juga mengutip hadis di atas, kemudian menjelaskan tentang kewajiban suami menyediakan tempat tinggal bagi istrinya.

Beliau berkata:

“Suami harus menyediakan tempat tinggal bagi istrinya, yang di dalamnya sang istri bisa terlindung dari pandangan manusia, dan melindunginya dari panas dan dingin, di mana sang istri bisa tinggal, menetap, dan bebas. Apa pun bentuknya, asalkan bisa memenuhi kebutuhan sang istri seperti di atas, maka itu sudah cukup, bisa dengan satu ruangan yang kondisinya masih bagus, dan di dalamnya terdapat dapur dan kamar mandi, kecuali jika sang istri ketika dilamar menetapkan syarat bahwa sang suami harus menyediakan tempat tinggal yang lebih besar daripada sekadar “ruangan”. Dan yang perlu dicatat bahwa jenis tempat tinggal tersebut harus sesuai dengan kemampuan sang suami, sesuai dengan adat setempat, serta status sosial sang istri tersebut.”

“Boleh bagi seorang suami untuk memberi Anda tempat tinggal berupa ruangan di rumah yang sudah ada, yang di dalam ruangan tersebut terdapat fasilitas khusus (dapur dan kamar mandi di ruangan tersebut), selama tidak ada fitnah (godaan dari ipar atau yang lainnya) atau tidak menimbulkan potensi bagi istri Anda untuk berduaan dengan lelaki bukan mahram yang telah mencapai usia baligh…. Jika suami bisa memberi Anda tempat tinggal yang benar-benar terpisah dari keluarganya, itu lebih baik bagi Anda, tetapi jika orang tua suami Anda sudah lansia dan membutuhkan kehadiran suami Anda, dan mereka tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa mengurusi mereka, dan satu-satunya jalan bagi suami Anda untuk bisa mengurusinya adalah dengan tinggal bersama mereka, maka suami Anda harus melakukannya.”

Demikian kata para ulama tentang keluhan banyak istri tentang tinggal di rumah mertua yang di dalamnya terdapat saudara ipar. Solusi yang mereka tawarkan antara lain:

1.      Menyediakan tempat tinggal bagi saudara ipar agar tinggal terpisah darinya

2.      Membuat ruangan khusus di dalam rumah mertua/ipar yang di dalam ruangan tersebut terdapat dapur dan kamar mandinya

3.      Menyediakan tempat tinggal terpisah dari mertua atau ipar

4.      Menyediakan tempat tinggal terpisah dari mertua atau ipar ini hendaknya menyesuaikan kemampuan suami, sesuai dengan adat setempat, sesuai dengan status sosial sang istri

5.      Bersabar dan tetap tinggal bersama mertua jika memang harus sang suami yang mengurusinya karena tidak ada saudara ipar yang mau mengurusi orang tua dari sang suami tersebut

Wallahu’alam bish shawwab