By Irfan Nugroho
Suatu hari di salah satu titik di kota Solo, sebuah mobil mewah berhenti lantaran lampu lalu lintas menyala merah.

Tak lama berselang, seorang pemuda yang nampak sehat mendekat ke mobil
tersebut dan mengadahkan tangannya sebagai simbol bahwa dia sedang
meminta-minta kepada sang pengendara mobil mewah.

Sang pengendara mobil mewah tersebut enggan untuk membagi sedikit
rezekinya kepada pemuda tersebut, sehingga “kerja” sang pemuda
peminta-minta tersebut tak membuahkan hasil.

Bisa jadi, setelah melihat sang pemuda tersebut sang pengendara mobil
mewah tersebut mungkin akan berkata, “Masih muda, sehat, kok bisanya
cuman minta-minta! Ntar kalo dikasih malah cuman bikin dia terus
malas-malasan kayak gitu doank!”

Lantas, bagaimana seorang Muslim yang taat musti bertindak ketika mendapati situasi serupa?

Islam Melarang Meminta-minta
Islam memang melarang seorang Muslim untuk meminta-minta kepada sesama manusia.

Bahkan Rasulullah Muhammad salallahu alaihi wasalam telah mengabarkan
bagaimana nasib seorang peminta-minta kelak nanti di hari kiamat seperti
yang termaktub dalam hadist riwayat Abdullah Ibn Umar berikut:

“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada manusia. Sehingga, besok pada
hari kiamat ia datang sedang di wajahnya tidak ada sepotong daging pun.
Pada hari kiamat matahari begitu dekat sehingga keringat sampai
pertengahan telinga. Ketika mereka dalam keadaan demikian, mereka minta
pertolongan kepada Adam, kemudian Musa, kemudian Muhammad.” (HR Bukhari
dalam Bab Zakat No. 734)

Agar kelak umat Rasulullah ini tidak disiksa dengan siksaan yang
menghinakan seperti itu, beliau menyerukan kepada umatnya agar
menghindari sikap meminta-minta. Sehingga, beliau berpesan:

“Apabila kamu menyiapkan seutas tali (dalam satu riwayat: beberapa utas
tali), lalu pergi mencari kayu bakar, kemudian dibawanya seikat kayu itu
di punggungnya lalu dijualnya, dan dengan itu Allah menjaga wajahnya
(harga dirinya), maka hal itu lebih baik baginya daripada ia
meminta-minta kepada orang banyak yang mungkin ada yang member dan ada
yang tidak.” (HR Bukhari Bab Zakat No. 732)

Rasulullah secara tidak langsung pernah menyeru kepada umatnya untuk
menghindari sifat meminta-minta dan menyerukan untuk memperbanyak
berderma dengan salah satu hadistnya: “Tangan di atas lebih baik
daripada tangan di bawah” (HR Bukhari Bab Zakat No, 715)

Di Indonesia sendiri, hadist tersebut sudah sangat sangat terkenal,
namun banyak yang justru menggunakan hadist tersebut sebagai pembenaran
untuk tidak memberikan sedikit rezekinya kepada para peminta-minta.

Islam Menganjurkan Sedekah
Ada satu cerita mengenai mulianya perilaku Rasulullah yang jelas-jelas
melarang umatnya untuk senantiasa meminta-minta, namun tetap bersedia
untuk memberikan harta-hartanya – bahkan hingga hartanya habis – ketika
umatnya meminta kepada beliau.

Seperti diceritakan oleh seorang sahabat Rasulullah bernama Said
Al-Khudri bahwa orang-orang Anshar meminta kepada Rasulullah, lalu
beliau memberi kepada mereka. Kemudian mereka meminta kepada beliau
lagi, lalu beliau memberi kepada mereka. Sehingga, habislah apa yang ada
di sisi beliau. (HR Bukhari Bab Zakat No 730).

Nah, jika bertolak dari cerita tersebut, harusnya kita malu ketika ada
pengemis, pengamen atau tukang parkir yang datang kepada kita untuk
meminta recehan namun kita enggan untuk memberinya.

Bisa jadi kita memang memberinya namun setelah sang tukang parkir atau
sang pengamen telah pergi, ada perasaan mangkel di dalam hati, seolah
menyesal telah bersedekah meski dengan nominal yang kecil.

Bukankah bersedekah kepada orang-orang semacam itu adalah salah satu investasi kita untuk kehidupan akhirat, yakni surga?

Bukankah Allah subhanahu wataala akan membalas apa yang kita infakkan
dengan niat mencari ridha Allah dengan balasan yang setimpal seperti
dalam Surat Al-Anfaal: 60


Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi
dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)
” (Al-Anfaal: 60)

Atau, mungkin kita perlu hitungan matematika yang pasti bahwa apa yang
kita infakkan di jalan Allah akan dibalas dengan rumus matematika
sebagai berikut:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui
” (Al-Baqaraa: 261).

Maka, mari coba luangkan waktu sejenak untuk menghitung berapa yang akan
diberikan oleh Allah kalau kita memberikan sedekah 1,000 rupiah kepada
seorang anak yatim yang meminta-minta di lampu-merah sekitar kita.

(1,000 X 7) X 100 = 700,000

Jumlah yang fantastis, bukan?

Namun perlu diingat, hal tersebut tidak akan mudah! Ikhlas, tidak
menyebut-nyebut pemberian kita kepada publik, dan tingkat ketakwaan kita
juga menjadi sebab terwujudnya rumus matematika sedekah seperti itu.

Terlebih dari itu, sedekah kita kepada peminta-minta atau tukang parkir
atau pengamen dan orang lain musti didasarkan pada niat untuk mencari
ridha Allah, bukan sekedar membuktikan apakah rumus itu valid atau
tidak.

Sekarang, alasan apa yang membuat kita enggan untuk memberikan barang
sepeser dari rezeki yang Allah beri kepada kita untuk mereka yang
memerlukan?

Bukankah rezeki yang kita pegang saat ini hanya titipan dari Allah? Dan
bukankah di dalam rezeki kita ada hak-hak orang lain, terutama bagi
fakir miskin? Maka ayok, jangan pelit dunk…!

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan
kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut,
dari cengkeraman hutang dan laki-laki yang menindasku” (HR Bukhari)