Setelah di pertemuan sebelumnya kita bahas bersama apa yang harus dilakukan suami jika istri tidak mau sholat, sekarang giliran bagaimana jika suami tidak mau sholat. Apa yang harus dilakukan oleh istri?

Dalam hal ini ada beberapa pertanyaan yang masuk ke Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti, ketua tim fatwa Asy-Syabakah Al-Islamiyah Qatar. Di antara nasihat atau solusi yang beliau tawarkan antara lain:

1. Bersabar dan berdoa

Pada fatwanya nomor 90785, Syaikh Abdullah Al-Faqih berkata kepada istri yang suaminya tidak sholat lima waktu dan sering menelantarkannya:

“Tentang pertanyaan Anda, meninggalkan sholat dan puasa adalah satu dari sekian dosa-dosa besar. Jika suami Anda seperti yang Anda sebutkan, bahwa dia acuh terhadap hak-hak Allah atas dirinya, maka tidak aneh jika dia juga acuh terhadap hak-hak Anda. Kami nasihati Anda agar bersabar, karena sabar adalah kunci menuju banyak kebaikan.”

“Berdoalah kepada Allah. Minta kepada Allah agar memberi hidayah suami Anda kepada jalan yang lurus dan menjadikannya suami yang shaleh. Suami Anda bisa saja menjadi lelaki yang saleh dengan mendatangi seseorang yang bisa menasihati dia, bisa memengaruhi dia, baik dari kalangan keluarganya atau yang lainnya,” (Fatwa No: 87572).

2. Menasihati suami

Bersabar menghadapi suami yang tidak sholat bukan dengan mendiamkannya, tetapi ada upaya atau ikhtiar yang harus ditempuh. Itulah mengapa beliau menasihati kepada istri yang suaminya tidak sholat agar sang istri menasihati suaminya.

“Suami seperti itu hendaknya dinasihati, disampaikan kepadanya bahwa melalaikan sholat, tidak melakukan ibadah puasa, dan tidak memenuhi hak-hak istri adalah masalah yang besar. Nasihati dia dengan cara yang baik dan kata-kata yang halus,” (Fatwa No: 90785).

Di antara yang beliau anjurkan untuk disampaikan kepada suami yang tidak sholat adalah nasihat seperti:

“Sholat adalah rukun Islam yang paling penting setelah syahadatain. Sholat adalah perwujudan atau bukti keimanan yang sebenarnya. Sholat adalah syiar Islam yang paling jelas. Buktinya, orang yang tidak melakukan sholat (karena dia yakin bahwa sholat adalah tidak wajib), maka dia telah menjadi kafir,” (Fatwa No: 86012).

“Minta dia dengan sangat agar bertaubat dari dosa besar tersebut. Sampaikan ke dia bahwa ikatan pernikahan antara Anda dengan dia bisa batal, tidak sah menurut syariat kecuali dia berhenti dari dosa besar tersebut. Mengapa? Karena wanita muslim tidak boleh atau haram bersama orang kafir. Allah ﷻ berfirman:

لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّۗ

“Mereka, perempuan-perempuan muslimah itu tidak halal bagi orang-orang kafir itu, yakni bagi para suami mereka untuk berhubungan suami-istri dan orang-orang kafir itu pun, yakni para suami yang kafir, tidak halal bagi mereka, para istri yang sudah menjadi muslimah untuk berhubungan suami-istri,” (Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI)

“Ingatkan dia tentang siksaan dari Allah yang akan dia terima di dunia dan di akhirat (jika dia terus-terusan meninggalkan sholat),” (Fatwa No: 86012).

Lalu bagaimana jika istri tidak punya kapasitas atau kemampuan untuk memberi nasihat kepada suami? Beliau berkata:

“Anda bisa saja memberikan dia buku-buku atau kaset-kaset rekaman (ini fatwa tahun 2004, belum ada internet. Kalau sekarang bisa dengan kirimi dia link ke video-video Islami, seperti di Mukminun TV), yang berisi tentang bahaya meninggalkan sholat, serta hukuman yang akan diterima oleh orang yang mengabaikan urusan sholat,” (Fatwa No: 87572).

3. Pisah ranjang

Jika nasihat istri kepada suami yang tidak sholat ternyata tidak didengar, tidak digubris, istri boleh untuk tidak melayani suami dalam hal hubungan suami istri. Syaikh Abdullah Al-Faqih berkata:

“Jika dia nurut, itu bagus. Tetapi kalau tidak, Anda harus menolak jika dia mengajak untuk melakukan hubungan suami istri dengan Anda,” (Fatwa No: 86012).

“Anda harus menolak ajakan dia untuk berhubungan badan dengan Anda sampai dia mau melakukan sholat,” (Fatwa No: 88010).

4. Melaporkan ke wali, penguasa muslim, atau KUA

Syaikh Abdullah Al-Faqih berkata, “Anda hendaknya melaporkan masalah ini kepada wali Anda (ayah, kakek [ayahnya ayah], saudara kandung laki-laki seayah-seibu, saudara laki-laki seayah beda ibu, paman [pak dhe atau pak lik], anak laki-lakinya paman dari pihak ayah).”

Maksudnya minta beliau untuk menyelesaikan masalah ini, meminta suami Anda untuk melakukan shalat, menasihat suami Anda. Bukan sekadar curhat tanpa ada solusi. Kemudian beliau melanjutkan:

“Jika hal itu bisa membantu, maka itu bagus. Kalau tidak, bawa masalah ini ke penguasa muslim atau siapa saja yang bisa memaksa dia untuk bertaubat atau menceraikan Anda darinya (jika dia tetap tidak mau shalat padahal sudah diceramahi dan dipaksa oleh pihak berwenang – jika di negara yang berbasis Islam),” (Fatwa No: 86012).

5. Cerai

Jika nasihat sudah disampaikan, tetapi tidak digubris. Pisah ranjang juga tidak memberi pengaruh. Nasihat dari wali sang istri juga tidak didengar, sedang perintah taubat dari penguasa muslim atau KUA juga tidak mau diikuti. Ini bisa saja menandakan bahwa suami tersebut memang mengingkari kewajiban shalat. Artinya, jika memang dia meyakini bahwa shalat itu tidak wajib, maka dia sudah bukan lagi seorang muslim. Dalam hal ini, Syaikh Abdullah Al-Faqih berkata:

“Jika suami Anda ngotot untuk terus seperti itu, kami tidak melihat adanya kebaikan dari tetap tinggal bersama dia sebagai seorang istri. Lebih baik Anda meminta cerai darinya. Jika dia menuruti permintaan cerai dari Anda, alhamdulillah. Kalau tidak, bawa masalah ini ke pengadilan yang akan meneliti masalah Anda tersebut dan menghilangkan bahaya tersebut dari Anda.”

“Perlu dicatat di sini bahwa Anda sebagai istri harus senantiasa bertakwa, juga perhatikan urusan agama anak Anda. Urusan suami Anda yang tidak baik dan tidak mau shalat, hendaknya tidak memengaruhi upaya Anda untuk senantiasa bertakwa,” (Fatwa No: 90785).

Wallahu’alam bish shawwab