Oleh Abdul Aziz Nashir Al-Julail dan Baha’uddin Fatih Aqil

Kisah Salaf
Pertama
Diriwayatkan
bahwa ada tukang cerita yang duduk di dekat Muhammad bin Wasi’. Ia pun
bertanya, “Mengapa aku melihat banyak hati yang tidak khusyuk, mata yang tidak
menangis, dan kulit yang tidak bergetar?”
Maka Muhammad
bin Wasi’ menjawab, “Wahai Fulan, mereka hanyalah orang-orang yang datang
kepadamu saja. Sungguh, peringatan yang keluar dari lubuk hati akan berkesan di
hati.”[i]
Kisah Salaf
Kedua
Dari Abdush
Shamad bin Abdul Warits, dari Muhammad bin Dzakwan, dari Khalid bin Shafwan, ia
berkata, “Aku pernah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik, lalu dia
bertanya, “Wahai Khalid, ceritakanlah kepadaku tentang Hasan Al-Bashri.”
Maka aku
(Khalif bin Shafwan) menjawab, “Semoga Allah memperbaikimu. Aku akan
menceritakan kepadamu berdasarkan pengetahuanku tentang beliau. Aku adalah
tetangganya, teman duduk di majelisnya, dan orang yang paling tahu tentangnya.
“Beliau adalah
orang yang batinnya paling mirim dengan lahirnya. Perkataannya paling sesuai
dengan perbuatannya. Jika selesai melaksanakan urusan, beliau melaksanakan
urusan yang lain. Jika sedang melaksanakan urusan, beliau akan menuntaskannya
hingga selesai.
“Jika beliau
memerintahkan sesuatu kepada orang lain, beliau adalah orang yang paling awal
mengerjakannya. Dan jika beliau melarang sesuatu, beliau adalah orang yang
paling menjauhinya.
“Aku memandang
beliau tidak butuh kepada manusia, tetapi mereka para manusia sangat
membutuhkan keberadaannya.”
Maslamah
kemudian berkata, “Cukup. Bagaimana sebuah kaum bisa tersesat bila lelaki ini
(Hasan Al-Bashri) ada di tengah-tengah mereka.”[ii]

[i] Siyar A’lam An-Nubalaa: 6/122.
[ii] Siyar A’lam An-Nubalaa: 2/576.