Oleh Abdul Aziz Nashir Al-Julail dan Baha’uddin Fatih Aqil

Dari Ahmad bin
Ishaq, dari Al-Fath bin Abdussalam, dari Muhammad bin Umar, dari Abu Ghalin
Muhammad bin Ali dan Muhammad bin Ahmad Ath-Thara’ifi, dari Abu Ja’far Muhammad
bin Ahmad, dari Al-Fadhl Ubaidullah bin Abdurrahman, dari Ja’far bin Muhammad,
dari Amru bin Utsman Al-Himshi, dari Baqiyyah, dari Shafwan bin Amru, dari
Sulaim bin Amir, dari Jubair bin Nufair, ia mendengar Abu Darda’ memperbanyak
doa meminta perlindungan kepada Allah dari kemunafikan pada akhir shalat dan
juga setelah tasyahud.
Jubair pun
bertanya, “Ada apa antara dirimu dengan kemunafikan, wahai Abu Darda’?”
Abu Darda’
menjawab, “Biarkanlah diriku, tinggalkanlah aku. Demi Allah, sungguh, ada orang
yang terbalik dari agamanya dalam sekejap saja, kemudian dilepas darinya.”[i]
===
Dari
Al-Faryabi, dari Abu Bakar Said bin Ya’qub Ath-Thaliqani, dari Abdullah bin
Mubarak, dari Al-Auzai, dari Harun bin Ri’ab, tatkala kematian menjemput
Abdullah bin Amru, ia berkata, “Lihatlah fulan, lelaki Quraisy itu. Sungguh,
aku telah mengatakan sesuatu kepadanya perihal anakku yang menyerupai masa
iddah. Aku tidak suka bertemu Allah Ta’ala dengan sepertiga kemunafikan. Aku
persaksikan kepada kalian bahwa aku telah menikahkannya (dengan putriku).”[ii]
===
Dari Musa bin
Al-Mu’alla, Hudzaifah pernah menasihatiku, “Wahai Musa, ada tiga hal yang jika
ketiganya ada pada dirimu, maka tidak ada kebaikan yang turun dari langit
kecuali kamu pasti akan mendapatkan bagiannya, yakni: (1) hendaknya amalmu
hanya untuk Allah Azza wa Jallan, (2) hendaknya kamu mencintai kebaikan untuk
manusia sebagaimana kamu mencintai kebaikan untuk dirimu sendiri, dan (3)
hendaknya makananmu adalah makanan yang kau jamin kehalalannya semampumu.”[iii]

[i] Siyar A’lam An-Nubalaa: 6/383, Adz-Dzahabi
berkomentar, “Sanadnya shahih.”
[ii] Siyar A’lam An-Nubalaa: 8/396.
[iii] Shifatush Shafwah: 4/269.