Oleh Syekh Muhammad Suwaid

Imam Ahmad dan Muslim di dalam Sahihnya
meriwayatkan sejumlah hadis tentang cara bersuci dari kencing bayi yang masih
menyusu. Di antara beberapa hadis tersebut yang bisa saya sampaikan adalah sebagai
berikut:
1. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahuanha bahwa:
 أن رسول الله صلى الله
عليه وسلم كان يؤتى بالصبيان فيبرك عليهم ويحنكهم فأتي بصبي فبال عليه فدعا بماء
فأتبعه بوله ولم يغسله
“Nabi
pada suatu hari didatangi oleh beberapa orang dengan membawa anak-anak mereka,
lalu beliau memohonkan berkah untuk mereka dan juga men-tahnik mereka. Kemudian
datang lagi seseorang dengan membawa bayi laki-laki, lalu bayi tersebut pipis
dan mengenai tubuh beliau. Beliau kemudian meminta air lalu menyiramkannya
kepada bagian kencing tersebut dan beliau tidak mencucinya,” (HR Muslim:
101/206).
2. Dalam riwayat Aisyah yang lainnya, disebutkan
bahwa dia berkata:
أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِصَبِيٍّ
يَرْضَعُ فَبَالَ فِي حِجْرِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَصَبَّهُ عَلَيْهِ
“Suatu kali Rasulullah mendatangi salah seorang bayi yang masih menyusu, lalu bayi itu
kencing di pangkuan beliau. Beliau kemudian meminta air untuk dituangkan pada
bagian kencing tersebut,” (HR Muslim: 102/286).
3. Diriwayatkan dari Ummu Qais binti Muhsin bahwa:
أَنَّهَا أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
بِابْنٍ لَهَا لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ فَوَضَعَتْهُ فِي حِجْرِهِ فَبَالَ –
قَالَ – فَلَمْ يَزِدْ عَلَى أَنْ نَضَحَ بِالْمَاءِ ‏.‏
“Dia pernah datang kepada Rasulullah dengan membawa anaknya yang
belum pernah makan (kecuali susu). Dia meletakkannya pada pangkuan beliau lalu
si jabang bayi itu buang air kecil. Maka beliau
tidak melakukan apa-apa kecuali tidak lebih dari memercikinya
dengan air,” (HR Muslim: 103/287).
Di riwayat lain ada penambahan:
فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمَاءٍ
فَنَضَحَهُ عَلَى ثَوْبِهِ وَلَمْ يَغْسِلْهُ غَسْلاً ‏.‏
“Lalu Rasulullah
meminta air dan memercikkannya pada bagian baju beliau (yang terkena kencing)
dan tidak mencucinya lagi,” (HR Muslim: 104/287).
Imam Syafi’i Rahimahullah berpendapat cukup dengan
memerciki saja, sedangkan kalangan Mahzab Hanafi dan Maliki berpendapat harus
dengan mencucinya. Adapun keberadaan kencing bayi sebagai sesuatu yang najis adalah
suatu kesepakatan, seperti yang dikutip oleh Imam An-Nawawi, (Syarah Sahih
Muslim).