KHUTBAH IDUL ADHA 1441 H BAGIAN 1

اَللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُ (9)

اَللَّهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا وَالْحَمْدُ للهِ الْقَائِل، وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَرَسُوْلَ ولاَنَبِيَ بَعْدَهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ وَجَمَاعَتَهُ مِنْ يَوْمِ السَّبِيْقِيْنَ الْاَوَّلِيْنَ اِلَى يَوْمِ النَّهْضَةِ وَالدَّيْنِ اَمَّابَعْدَهُ

 فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحَثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Segala puji hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala yang masih memberi kita nikmat untuk bisa berjumpa kembali dengan hari raya Idul Adha 1441 H. Selawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan siapa saja mengikuti sunah beliau hingga nanti di hari kiamat.

Di hari raya Idul Adha ini, kami berwasiat kepada diri kami pribadi dan juga kepada seluruh kaum muslimin untuk senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mari menjadi insan yang bertakwa, yang menempatkan Allah sebagai orientasi nomor satu di hati-hati kita, di setiap tindak tanduk kita.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Hari raya Idul Adha, ritual menyembelih hewan kurban, ibadah haji ke baitullah, akar dari semua amalan ini bisa dinapak tilas pada Nabi Ibrahim Alaihissalam dan keluarganya. Nabi Ibrahim menjadi sosok yang menarik untuk dipelajari karena beliau adalah satu-satunya Nabi yang mendapat ujian berupa perintah dari Allah untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Tidak ada satu pun nabi atau rasul yang mendapat perintah dari Allah berupa menyembelih anak sendiri, tidak Nabi Muhammad, atau nabi-nabi sebelumnya.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Kesuksesan Ibrahim Alaihissalam dalam menjalankan perintah menyembelih anak, tidak luput dari dukungan keluarganya yang benar-benar mapan dalam urusan iman. Ayah, istri, dan anak, mereka berada dalam satu frekuensi iman. Sehingga ketika Ibrahim harus meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di suatu negeri yang tandus, tak ada pepohonan, tak ada sumber air, Hajar pun rela demi sang suami mengemban misi Ilahi. Ketika Ibrahim mendapat mimpi kenabian untuk menyembelih anaknya, maka sang anak Ismail pun tidak melawan, justru menurut dan mendukung ayahnya untuk menjalankan perintah Allah tersebut.

Lalu, apa saja faktor kauniyah yang menjadikan Ibrahim Alahissalam mampu memiliki keluarga yang bisa mendukungnya dalam ketaatan yang super duper seperti ini? Paling tidak ada 4 (empat) faktor:

Kesalehan Orang Tua

Keshalihan orang tua, adalah sebab keshalihan seorang anak. Nabi Ibrahim adalah sosok yang saleh, bahkan halim, sehingga Allah kabarkan kepada Nabi Ibrahim akan lahirnya anak yang kelak akan menjadi anak yang halim juga, menuruni sifat ayahnya.

Hal ini terdapat dalam firman Allah ta’ala:

فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ

“Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar,” (Surat Ash Shaffat 100).

Dianugerahkannya sifat Halim pada Nabi Ibrahim adalah buah kesuksesan beliau melalui tarbiyah ilahiyah, penggemblengan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Di masa mudanya, Ibrahim sudah memiliki sifat peka terhadap kondisi umat dan masyarakat. Beliau peka melihat ada yang tidak beres di masyarakat, lalu beliau mengajak umat pada kebaikan (amar makruf), juga mencegah umat dari kemungkaran (nahi mungkar), memberantas praktik penyembahan berhala pada kaumnya.

قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” Ini adalah isyarat bahwa Ibrahim memiliki sifat peka. Dan sebuah catatan sejarah menunjukkan bahwa ketika beliau mengucapkan ini, umur beliau masihlah muda.

فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ (91) مَا لَكُمْ لَا تَنطِقُونَ (92) فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ (93)

Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata, “Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?” Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat), (Surat Ash Shaffat 91-93).

وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ

Hijrah ke Lingkungan yang Kondusif untuk Beragama

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Faktor selanjutnya yang menjadi sebab terwujudnya keluarga pendukung ketaatan, seperti keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam, adalah keberadaan lingkungan yang kondusif untuk menjalankan ketaatan. Oleh karena di kampung asalnya Nabi Ibrahim sudah kadung dimusuhi oleh anggota masyarakat lainnya yang menyembah berhala, bahkan dimusuhi oleh penguasanya kala itu. Maka pergilah Ibrahim Alaihissalam ke negeri Syam agar bisa menjalankan agamanya dengan leluasa.

وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku,” (Surat Ash-Shaffaat: 99)

Dari sini kita butuh untuk memiliki tetangga yang baik, tetangga yang saleh. Kalau toh tetangga kita bukan tetangga yang baik, maka kita jangan menjadi tetangga yang buruk bagi orang-orang di sekitar kita. Rasulullah ﷺ menyebutkan empat penyebab kebahagiaan, satu di antaranya, “Al-jaaru shalih” atau tetangga yang saleh. Lalu Rasul juga menyebut empat penyebab kesengsaraan, satu di antaranya, “Al-jaaru suu’” atau tetangga yang buruk perangainya.

Memiliki lingkungan yang baik, tetangga yang saleh, akan membuat kita lebih mudah menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala. Anak istri kita juga akan terjaga kebaikannya. Itulah mengapa ada ujar-ujar, “Al-jaar, qabla daar”, prioritaskan memilih tetangga yang baik terlebih dahulu dalam memilih rumah, bukan harga rumahnya yang murah atau desainnya yang bagus.

وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ

Doa Memohon Keturunan yang Saleh

Kesepian Nabi Ibrahim di lingkungan baru, ditambah beliau kala itu belum memiliki anak, maka berdoalah Nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar diberi keturunan yang saleh. Inilah faktor kauniyah ketiga, yang menjadi sebab terwujudnya keluarga yang bisa mendukungnya untuk menjadi sosok yang super taat kepada Alah. Beberapa doa Nabi Ibrahim yang mashur di dalam Quran adalah:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang saleh.”

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.”

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku sebagai orang yang mendirikan shalat dan juga keturunanku. Wahai Rab kami, terimalah doaku. Ya Rabb kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang-orang mukmin di hari perhitungan.”

Mari kita lazimi membaca doa-doa tersebut di waktu-waktu mustajab, syukur-syukur di tempat-tempat yang mustajab. Semoga kelak Indonesia akan melahirkan anak-anak yang saleh, yang mendukung ketaatan orang tua mereka kepada Allah subhanhu wa ta’ala.

وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ

Komunikasi dengan Anggota Keluarga

Dan yang terakhir, faktor keempat yang membantu terwujudnya keluarga pendukung ketaatan adalah adanya komunikasi di antara anggota keluarga. Ini yang banyak hilang dari keluarga-keluarga kita.

Ada 17 tempat di dalam Quran yang mengisahkan tentang komunikasi orang tua dengan anak; 14 di antaranya adalah komunikasi ayah dengan anak, lalu komunikasi antara ibu dengan anak hanya 2, sedang 1-nya tidak diketahui apakah anak dengan ayah atau dengan ibu. Dari sini kita mengetahui tentang pentingnya seorang ayah membangun komunikasi dengan anak-anaknya.

Inilah yang dicontohkan Nabi Ibrahim. Dari beliau kita belajar tentang pentingnya membangun komunikasi antara orang tua, khususnya para ayah, dengan anak. Allah ta’ala mengisahkan obrolan Ibrahim dengan anaknya Ismail:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Oleh karena itu, sempatkan ngobrol dengan anak-anak kita, wahai para ayah. Sibuk bekerja jangan membuat kita lalai dari bercengkrama dengan mereka. Lalu wahai para anak, maafkan kesalahan orang tua kalian. Siapa pun kita, kita tidak akan pernah menjadi besar di hadapan orang tua kita. Maafkan orang tuamu, meski dirimu yakin kalau dirimu benar. Atau mintalah maaf ke orang tuamu, lalu perbaiki hubunganmu dengan ayah-ayah kita, ibu-ibumu.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH IDUL ADHA 1441 H BAGIAN 2

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

 وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ

Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah…

Inilah empat faktor, sebab kauniyah, yang membantu terwujudnya keluarga pendukung ketaatan, bukan keluarga yang menghalangi ketaatan:

1) Beramal saleh sedari muda dengan memiliki sifat peka terhadap kondisi umat dan amar makruf nahi mungkar,

2) Hijrah menuju lingkungan yang kondusif untuk menjalankan agama, dan

3) Doa yang terus menerus meminta keturunan yang saleh,

4) Membangun komunikasi antar anggota keluarga, khususnya antara ayah dengan anaknya.

Jadikan keluarga kita keluarga yang mendukung kita untuk semakin ta’at kepada Allah. Karena sungguh, banyak di antara para pemimpin keluarga di hari ini, para ayah di hari raya Idul Qurban zaman ini, mereka sulit untuk mengorbankan sebagian hartanya yang berlebih untuk udhiyah atau kurban dengan alasan anak yang harus dibiayai, atau istri yang belum satu visi satu pandangan dengan sang suami. Padahal di saat yang sama, sepeda gowes 35 juta dibeli; handphone si anak juga dituruti.

Jauhlah kita dari Ibrahim Alaihissalam dengan jauh yang teramat sangat. Ibrahim menurut kepada perintah Allah untuk mengorbankan anak kandungnya sendiri untuk disembelih. Sedangkan kita merasa berat untuk sekadar keluar 1,5 juta, 2 juta, atau 3 juta untuk berkurban di hari raya Idul Adha, padahal kemampuan harta di atas rata-rata.

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ

“Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang sangat banyak,” (QS Al-Kautsar: 1).

Istri yang senantiasa sehat sehingga bisa mengurusi rumah, suami, dan anak. Anak yang sehat, pintar, dan mapan. Sawah yang panen. Gaji yang terus ada meski di masa pandemi. Dan lain sebagainya.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah),” (Al Kausar ayat 2).

Kalau sudah diberi nikmat-nikmat seperti itu, kenapa tidak mau bersyukur kepada Allah dengan salat lima waktu? Kenapa tidak berkurban kambing atau sapi di hari raya Idul Adha?

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ

Ingat, “Sesungguhnya orang-orang yang membenci Nabi Muhammad ﷺ, juga sunnah-sunnahnya, maka itulah orang-orang yang terputus dari rahmat Allah,” (Surat Al-Kautsar ayat 3).

اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى

 يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ  اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ