Oleh Irfan Nugroho
KHUTBAH
PERTAMA:
إِنّ
الْحَمْدَ ِللهِ
Segala puji bagi Allah
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
Hanya kepada Allah
kita memuji, meminta pertolongan, serta bertaubat dari dosa-dosa kita
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
Kita berlindung kepada
Allah dari keburukan jiwa dan kejahatan amal-amal kita, karena musibah apa saja
yang menimpa diri kita, tidak lain dan tidak bukan itu karena buruknya jiwa
kita, serta kejahatan amal-amal kita.
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ
Kita juga harus senantiasa
bersyukur kepada Allah atas nikmat hidayah Islam, Iman, dan Ihsan, karena barang
siapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada akan pernah sesat
selamanya
وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
Dan barang siapa yang dibuat
sesat oleh Allah, niscaya tidak akan mendapat petunjuk selamanya
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan
yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
hamba dan utusan Allah
اَللهُمّ
صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
.
Ma’asyiral muslimiin,
rakhimakumullah…
Kami wasiatkan kepada diri
kami pribadi, juga kepada jamaah sekalian, untuk senantiasa meningkatkan
keimanan dan ketakwaan, lebih-lebih telah nyata di hadapan kita, serangkaian
bencana yang menimpa saudara kita di Lombok, Sumba, Palu, dan lain sebagainya.
Bukankah ini semua cukup untuk menjadi pelajaran bagi kita untuk meningkatkan
ketakwaan, ketundukan, kepada Allah dan syariat-Nya.
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah,
tunduklah kepada syariat Allah, dengan melaksanakan perintah-Nya semampunya,
dan menghindari larangan-Nya tanpa kompromi, dengan takwa yang sebenar-benarnya;
dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam,
yakni dengan senantiasa bertakwa di kala hidup, kita akan mati dalam keadaan
sebagai seorang muslim,” (QS Ali-Imran: 102).
Rasulullah bersabda:
اتق الله حيثما كنت
، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن
“Bertaqwalah kepada Allah
di mana pun kalian berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan kalian melakukan
kebaikan yang bisa menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan
akhlak yang baik
‘” (HR. Ahmad: 21354, Tirmidzi: 1987)
Ma’asyiral-Muslimin
rahimakumullah,
Pertama-tama, kita sampaikan
pesan-pesan kesabaran dan ketabahan bagi saudara-saudara kita yang tertimpa
bencana di berbagai daerah di seluruh Indonesia, mulai dari Lombok, Palu, dan
Donggala. Kita semua berdoa untuk mereka, agar mereka bisa bersabar dan tabah
menghadapinya. Karena dengan begitu, Allah akan menghapus dosa, menaikkan
derajat, dan membalas dengan kebaikan.
Kedua, kita yang di Jawa, di
selain daerah tersebut, hendaknya jangan merasa aman dan lebih mulia karena
tidak ditimpa bencana. Karena merasa aman dari makar Allah, adalah satu dari
sekian dosa-dosa besar, seperti yang ditulis oleh Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah
di dalam kitabnya Al-Kabair, berdasarkan firman Allah :
أَفَأَمِنُواْ
مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩٩
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang
merugi,” (QS Al-A’raaf: 99).
Ma’asyiral muslimin,
rakhimakumullah…
Berbicara tentang musibah atau
bencana, serta bagaimana cara Islam agar suatu negeri terhindar darinya, seorang
ulama ahli tafsir kelahiran Spanyol tahun 1200-an, yaitu Imam Al-Qurtubi
Rahimahullah berkata ketika menjelaskan firman Allah di Quran Surat Ali-Imran
ayat ke-21:
 كُلُّ
بَلْدَةٍ يَكُونُ فِيهَا أَرْبَعَةٌ فَأَهْلُهَا مَعْصُومُونَ مِنَ
الْبَلَاءِ :   
Setiap bangsa, kampung, atau
masyarakat, yang di dalamnya ada empat golongan manusia berikut, maka
rakyatnya, warganya, akan terjaga dari bencana. Apa saja empat golongan manusia
tersebut yang menurut Imam Al-Qurtubi bisa membuat suatu tempat terjaga dari
Bala’?
Yang pertama:
إِمَامٌ عَادِلٌ لَا
يَظْلِمُ
Imam yang adil, tidak
zalim
Di dalam Islam, pemimpin yang
adil menduduki posisi yang sangat mulia. Imam yang adil adalah satu dari tujuh
golongan yang akan mendapat jaminan naungan dari Allah di hari tiada naungan
selain naungan-Nya (HR Muslim). Pemimpin yang adil juga merupakan kelompok
manusia yang paling dicintai oleh Allah, dan yang tempat duduknya paling dekat
dengan Allah di hari kiamat (HR
Ahmad: 10790
). Dan yang terakhir, imam, pemimpin, penguasa, atau atasan
yang adil adalah satu dari tiga golongan manusia yang doanya tidak ditolak (HR
Tirmizi: 3598), yang mana kalau dia berdoa untuk kebaikan umatnya, kebaikan
Islam, kebaikan bangsa dan negara, maka Allah akan mengabulkannya.
Lalu apa yang dimaksud dengan
imam yang adil di dalam Islam? Tertulis di dalam Mausuah Fiqhiyah
Al-Kuwaitiyah, bahwa Imam yang adil adalah:
أ – حفظ
الدين على أصوله الثابتة بالكتاب والسنة وإجماع سلف الأمة، وإقامة شعائر الدين
– Imam, penguasa, pemimpin yang
adil adalah pemimpin yang tugas utamanya adalah menjaga agama ini agar tetap
kokoh berada di atas pokok-pokoknya, berdasarkan Al-Kitab yaitu Al-Quran dan
As-Sunah, juga berdasarkan kesepakatan para umat yang terdahulu, serta
menegakkan syiar² agama ini. Tugas utamanya adalah menjaga agama ini, karena
dengan menjaga agama, imam yang adil akan menjaga urusan rakyatnya, negaranya,
ekoniminya, sosialnya, agar senantiasa baik dan diridhai oleh Allah .
Syarat pemimpin yang adil yang
kedua adalah:
ب – رعاية مصالح
المسلمين بأنواعها. اهـ
.
– Mengurusi kemaslahatan kaum
muslimin di segala urusannya.
Inilah pemimpin yang adil, yang
keberadaannya di suatu negeri, akan menjadi sebab bagi Allah untuk menjaga
negeri tersebut dari bencana. Sebaliknya, jika seorang imam, pemimpin, atau
penguasa itu bersifat zalim, tidak menegakkan syiar-syiar Islam, tidak
menjalankan syariatNya, maka itulah penyebab bencana atau bala.
Kelompok manusia kedua, yang
menurut Imam Al-Qurtubi bisa menjadi sebab terjaganya suatu negeri dari bala
atau bencana adalah:
، وَعَالِمٌ عَلَى سَبِيلِ الْهُدَى
2. Orang-orang alim di
negeri itu senantiasa berada di atas jalan hidayah
Dia adalah orang seperti yang
disebutkan oleh Allah di dalam QS Faathir ayat yang ke-28:
إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ
مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ
Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya,
hanyalah para ulama,” [QS Faathir: 28].
Tentang ulama akhirat, atau
ulama Rabbani, yang berada di atas Sabilul Huda, Sahabat Ibnu Abbas
Radhiyallahu Anhu menjelaskan ada empat sifat:
1. Tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatu pun, baik itu dengan berhala seperti di zaman jahiliah, maupun
berhala di zaman now seperti harta, wanita, dan kekuasaan. Kriteria kedua agar
seorang ulama dikatakan ulama Rabbani menurut Sahabat Ibnu Abbas
Radhiyallahuanhu adalah:
2. Menghalalkan apa yang
dihalalkan oleh Allah, dan mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah,
kemudian
3. Dia menjaga dan memelihara
tuntunan dan wasiat-Nya. Dia tidak memperkenalkan hal-hal baru di dalam agama
ini yang berasal dari selain Quran dan Sunah, tidak mengkotakkan Islam ke dalam
Islam Arab, Islam Amerika, Islam Afrika, maupun Islam Nusantara. Islamnya hanya
satu, seperti yang diyakini dan diamalkan oleh para sahabat dan umat terdahulu.
Dan kriteria ulama Rabbani yang terakhir adalah:
Dia meyakini bahwa Allah akan
menjumpai dan menghisab amal perbuatannya. Sehingga semua gerak-geriknya akan
senantiasa didasari oleh ketaatan kepada Allah, bukan ketaatan kepada sesama
makhluk atau hawa nafsu. (Tafsir Ibnu Katsir).
Inilah orang kedua yang
keberadaanya bisa menjadi sebab terjaganya suatu negeri dari bencana. Selanjutnya,
kelompok manusia ketiga yang disebutkan Imam Al-Qurtubi adalah:
، وَمَشَايِخُ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَيُحَرِّضُونَ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ وَالْقُرْآنِ
3. Para orang tuanya
menyeru pada kebaikan dan menolak kemungkaran, serta menghasung orang-orang di
sekitarnya yang lebih muda untuk menuntut ilmu dan Al-Quran
Ma’asyiral muslimin,
rakhimakumullah…
Satu dari sekian sebab
dilaknatnya Bani Israel oleh Allah adalah meninggalkan kebiasaan amar
ma’ruf nahi mungkar, menyeru pada kebaikan dan melarang dari kejahatan.
Allah berfirman:
لُعِنَ الَّذِيْنَ
كَفَرُوْا مِنْۢ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ
مَرْيَمَ   ؕ  ذٰ لِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا
يَعْتَدُوْنَ
“Orang-orang kafir
dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Daud dan ‘Isa putra
Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui
batas,” [QS. Al-Ma’idah: 78].
كَانُوْا لَا
يَتَـنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُ  
ؕ  لَبِئْسَ مَا كَانُوْا
يَفْعَلُوْنَ
“Mereka tidak
saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat
buruk apa yang mereka perbuat,” [QS. Al-Ma’idah: Ayat 79].
Syekh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:
الذين يأمرون
بالمعروف وينهون عن المنكر هم وجهة الأمة هم الذين يردون عنها أسباب العقاب
والعذاب
Orang-orang yang beramar
ma’ruf nahi mungkar, mereka adalah ujung tombak umat ini. Mereka adalah
orang-orang yang menghalau sebab-sebab turunnya azab dan hukuman dari Allah
kepada suatu kaum, (Al-Atsarul Ma’ashi alal Fardi Wal Mujtamai).
Oleh karena itu maasyiral
muslimin rahimakumullah..
Mari, kita selaku orang tua,
kita lazimi kebiasaan amar ma’ruf nahi mungkar. Kita ajak anak-anak kita yang
belum salat agar mau mendirikan salat. Kita cegah mereka apabila berbuat
maksiat. Kita seru mereka, para pemudi kita untuk menutup aurat, menjaga
kemaluan, dan menjauhi kemaksiatan. Kita hasut mereka agar mau belajar ilmu
agama, mendatangi pengajian-pengajian, mempelajari al-Quran, menghafalnya, dan
mengamalkannya.
Sungguh indah nasihat seorang
ulama dari kalangan salaf, Abdullah bin Isa Rahimahullah:
‏لا تَزَالُ هَذِهِ الأُمَّةُ بِخَيْرٍ مَا تَعَلَّمَ وِلْدَانُهَا
الْقُرْآنَ
Umat
ini akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih mengajarkan Al-Quran
kepada anak-anaknya,” (Mausuah Ibnu Abi Dunya: 8/75).
Dan yang terakhir, nasihat
Imam Al-Qurtubi Rahimahullah agar suatu kaum bisa terjaga, terhindar dari
bencana, adalah:
، وَنِسَاؤُهُمْ مَسْتُورَاتٌ لَا يَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ
الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
4. Para wanitanya
menutup aurat dan tidak bersolek seperti wanita jahiliah di zaman dulu.
Maasyiral Muslimin..
Rakhimakumullah..
Mencintai wanita, harta, dan
anak-anak adalah fitrah bagi para laki-laki sebagaimana firman Allah di dalam
Quran Surat Ali-Imran ayat 14. Tetapi Rasulullah secara khusus mengingatkan kaum pria tentang fitnah wanita:
مَا تَرَكْتُ
بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan fitnah
yang lebih berbahaya bagi para lelaki selain fitnah wanita,” (HR. Bukhari: 5096
dan  Muslim: 2740).
Saking besarnya fitnah wanita
ini, maka Allah secara khusus melarang wanita untuk berdandan seperti cara
berdandannya kaum wanita di zaman jahiliah:
وَقَرْنَ فِي
بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
”Hendaklah kalian (para
wanita) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dan seperti
tabarruj orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (QS. Al-Ahzab: 33)
Ibnul Jauzi Rahimahullah,
ketika menjelaskan makna Tabarruj, beliau berkata:
التبرُّج: أَنْ
يُبْرِزْنَ مَحَاسِنَهُنَّ
“Tabarruj: wanita menampakkan
kecantikannya (di depan lelaki yang bukan mahram),” (Sahih
Bukhari: 4508
), dan makna tabarruj, berdandan seperti orang jahiliah adalah:
التبرُّج:  إِظْهَارُ الزِّينَةِ وَمَا يُسْتَدْعَى بِهِ
شَهْوَةُ الرَّجُلِ
“Tabarruj: menampakkan bagian
yang indah (aurat) dan segala yang mengundang syahwat lelaki (non mahram),” (Lisanul
Arab: 2/50
)
أَقُوْلُ مَا
تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ
رَبِ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى
الظَّالِمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ،
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah,
كُلُّ بَلْدَةٍ
يَكُونُ فِيهَا أَرْبَعَةٌ فَأَهْلُهَا مَعْصُومُونَ مِنَ الْبَلَاءِ
Setiap bangsa yang di dalamnya ada empat golongan
ini, maka rakyatnya akan terjaga dari bencana:
، إِمَامٌ عَادِلٌ لَا يَظْلِمُ
Imam yang adil, tidak berbuat zalim
، وَعَالِمٌ عَلَى سَبِيلِ الْهُدَى
Orang-orang alimnya berada di atas jalan hidayah
، وَمَشَايِخُ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَيُحَرِّضُونَ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ وَالْقُرْآنِ
Orang-orang tuanya senantiasa memerintahkan kepada
kebaikan, mencegah kemungkaran, mengajak untuk belajar ilmu agama dan Al-Quran
، وَنِسَاؤُهُمْ مَسْتُورَاتٌ لَا يَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ
الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Para wanitanya senantiasa menutup aurat, tidak
berdandan atau tabaruj seperti berdandannya para wanita di zaman jahiliah
.
Inilah empat kelompok manusia,
yang jika terwujud di suatu kampung atau negara, maka kampung atau negara
tersebut, in sya Allah, akan terjaga dari malapetaka dan bencana.
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ
الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ
اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
.
رَبَّنَا اغْفِرْ
لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبِّنَا اجْعَلْنَا
مُقِيمَ الصَّلَاةَنَا وَمِنْ ذُرِّيَّتَنَا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
رَبِّنا
ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانا صَغِيرًا
رَبَّنَا اغْفِرْ
لنا وَلِوَالِديناَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا
محمد وعلى آله وصحبه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
.
وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
.