KHUTBAH PERTAMA:

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah

Ketaatan seseorang kepada sesama makhluk, tunduknya seseorang kepada selain Allah, atau kepada sesama ciptaan Allah, baik itu dari kalangan manusia maupun jin, bisa berubah menjadi syirik akbar, syirik yang menjadikan pelakunya keluar dari Islam, otomatis cerai dari istrinya yang masih muslim, otomatis terputus hubungan waris antara dia dengan ayahnya atau anaknya, dan tidak boleh dimakamkan dengan proses islami.

Inilah yang disebut dengan syirku to’ah atau syirik dalam urusan ketaatan, setelah sebelumnya kita bahas mengenai syirku dakwah atau syirik dalam urusan berdoa atau meminta.

Kapan suatu ketaatan berubah menjadi syirik?

Tentang hal ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid hafizahullah menjelaskan:

Ketaatan kepada sesama ciptaan Allah bisa menjadi syirik akbar pada situasi sebagai berikut:

1. Seseorang menaati orang lain, padahal orang yang ditaati tersebut mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, atau sebaliknya, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah

2. Seseorang menaati orang lain, padahal orang yang ditaati tersebut membuat suatu peraturan atau undang-undang atau hukum yang bertentangan dengan hukum atau undang-undang Islam, kemudian orang yang menaatinya itu:

– meyakini bahwa undang-undang buatan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah itu lebih komplit dan lebih baik daripada hukum atau undang-undang Allah, ATAU

– meyakini bahwa undang-undang buatan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah itu kualitasnya sama dengan undang-undang atau hukum Allah, ATAU

– meyakini bahwa hukum Allah atau undang-undang Islam tetap lebih baik daripada undang-undang buatan manusia, TETAPI dia menganggap BOLEH bagi manusia untuk menaati undang-undang buatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang Islam.

Dalil Syirik Ketaatan

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah

Imam Ath-Thabari meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya bahwa sahabat Adi bin Hatim yang dulunya seorang Kristen kemudian masuk islam, beliau pernah mendatangi Nabi ﷺ dan ketika itu di leher sahabat Adi bin Hatim ini terdapat sebuah kalung emas berbentuk salib. Melihat hal itu, Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Adi, buang berhala yang ada di lehermu itu.”

Setelah membuangnya, Adi bin Hatim kemudian mendatangi Nabi ﷺ yang saat itu beliau sedang membaca firman Allah:

إتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰه

“Mereka menjadikan orang-orang pintar dari kalangan bani israil atau Yahudi, juga menjadikan orang-orang pintar dari kalangan rahib (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah,” (QS At Taubah 31).

Adi bin Hatim, yang dulunya seorang penganut agama Kristen, beliau berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, dulu kami tidak menyembah pendeta-pendeta kami.” Lalu Rasulullah ﷺ menimpali:

أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَتُحَرِّمُونَهُ ، وَيُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَتُحِلُّونَهُ؟

“Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, sehingga kalian pun mengharamkannya. Dan bukankah mereka juga menghalalkan apa yang diharamkan Allah, sehingga kalian pun menghalalkannya?”

“Iya, benar, ya Rasul!” kata Adi bin Hatim. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ!

“Ya seperti itulah ibadah mereka, penyembahan mereka terhadap pendeta-pendeta mereka.”

Contoh syirik ketaatan

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.

Ketaatan orang-orang nasrani kepada pendeta-pendeta mereka dalam perbuatan dosa, serta kemauan mereka untuk menerima apa yang dikatakan oleh pendeta-pendeta mereka tentang mana yang halal dan mana yang haram, ini adalah bentuk peribadatan, penyembahan kepada selain Allah, dan ini adalah syirik akbar. (Akhir kutipan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid)

Jadi, syirik akbar bisa terjadi jika seseorang keliru menempatkan ketaatan. Taat yang tidak tepat, bisa menjadikan pelakunya murtad.

Yang pertama, seseorang menaati orang lain, padahal orang yang ditaati tersebut mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, atau sebaliknya, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Contoh kongkrit dalam hal ini antara lain:

– zina, hubungan badan oleh dua orang yang belum menikah. Undang-undang Islam jelas menyebutnya haram, tetapi halal menurut undang-undang “positif” jika didasarkan pada asas “suka sama suka,” (hukumonline, 27 Februari 2020)

– minuman keras, jelas dilarang oleh undang-undang Islam, tetapi undang-undang buatan manusia belum ada yang melarangnya, meski sekarang sudah ada RUU minuman beralkohol, tetapi perdebatan di DPR masih alot sekali (CNN Indonesia: 20201112113649-32-568922).

– perjudian, jelas haram menurut Islam, tetapi menjadi legal atau halal menurut undang-undang buatan manusia, jika dilakukan di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan atau setelah mendapat izin dari penguasa yang berwenang, (Pasal 303 Bis ayat 1 KUHP).

– cadar, yang di dalam agama islam merupakan sunah, atau anjuran menurut beberapa pendapat, lalu dilarang atau diharamkan di kantor-kantor atau universitas-universitas oleh undang-undang buatan manusia.

Contoh yang demikian ini banyak sekali di negeri ini. Semoga kita tidak membenarkannya, tidak mendukungnya, tidak menganggap bahwa undang-undang buatan manusia yang bertentangan dengan syariat Islam itu lebih baik, lebih komplit daripada hukum Islam. Semoga kita juga tidak menganggap kualitasnya sama dengan undang-undang Allah, atau tidak menganggap boleh menerapkan undang-undang buatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang Allah. Aaamiin

KHUTBAH KEDUA

Pembuka, pujian kepada Allah, selawat kepada Nabi, wasiat takwa, membaca satu ayat, doa.