Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Allah telah menciptakan manusia dengan sempurna, kemudian Allah mengilhamkan kepada manusia dua jalan, jalan keburukan atau fujur dan jalan takwa. Allah ta’ala berfirman:

 وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), (QS Asy Syams 7)

 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (QS Asy Syams 8).

Hanya saja, dari dua jalan itu, manusia lebih cenderung ke mana? Ternyata manusia lebih cenderung pada keburukan, bukan ketakwaan. Allah ta’ala berfirman:

 إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ

Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku, (QS Yusuf 3).

Menjelaskan ayat ini, Syaikh Sulaiman Al-Asyqar berkata, “hawa nafsu manusia selalu memerintahkan untuk berbuat keburukan karena condong untuk memenuhi syahwat, dan sangat memengaruhi tabiat seseorang, serta sangat sulit untuk ditundukkan,” (Zubdatut Tafsir).

Mungkin itulah hikmah mengapa Allah menyebutkan fujur sebelum taqwa di Quran Surat Asy-Syams tersebut, karena kalau kata Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di rahimahullah, “Sesungguhnya jiwa adalah kendaraan, tunggangan setan. Dari situ setan menyusup kepada manusia.”

Allahu Akbar. Lalu bagaimana agar jiwa kita lebih cenderung pada kebaikan, ketakwaan?

Menafsirkan Quran Surat Asy-Syams ayat 8 tadi, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata,

“Jika tarbiyah seseorang itu baik, maka akan baik pula jiwanya. Tetapi jika tarbiyahnya rusak, maka akan rusak jiwanya… Oleh karena itu, perlu tarbiyah yang baik dari orang tua sejak anak usia dini, dan kesadaran dari diri sendiri untuk memperbaiki diri ketika usia telah dewasa dan berakal sehat.”

Kita sebagai para ayah, para calon ayah, diingatkan lagi untuk menekuni pekerjaan utama kita, mendidik anak-anak kita sedari dini.

Membiasakan mereka dalam kebaikan, bukan membiarkan saja yang penting kita bisa leluasa mencari uang menumpuk harta dengan dalih menafkahi keluarga. Nauzubillah.

Ma’asyiral muslim rahimakumullah..

Inilah pentingnya tarbiyah atau pembiasaan baik dari orang tua kepada anak. Agar jiwa anak di masa mendatang, mereka lebih cenderung pada kebaikan, bukan lebih cenderung pada keburukan, karena jiwa manusia lebih cenderung pada keburukan dan memperturutkan syahwat.

Satu contoh saja: Taruh anak-anak balita kita ke hajatan yang ada musik-musik di sana. Biarkan mereka mendekat menuju pengeras suara. Lalu lihat apa yang mereka lakukan. Mereka akan otomatis berjoget, merem melek, berlenggak-lenggok tanpa kita ajari.

Lalu coba ajak anak kita belajar membaca Quran. Berapa lama anak kita bisa konsentrasi, menekuni tarbiyah atau pendidikan atau pembiasaan kebaikan dari kita. Ajak mereka untuk salat tarawih 15 menit, apakah mereka bisa mengikutinya sampai selesai. Inilah bukti bahwa manusia itu lebih cenderung pada keburukan, kecuali jiwa yang dirahmati Allah.

 إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Inilah, fujur dan takwa.

 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (QS Asy Syams 8).

Harusnya manusia itu ketika dia memiliki akal, ketika dia melihat keburukan, dia menghindarinya, lalu ketika melihat kebaikan, dia mendekatinya. Tetapi jiwa manusia itu lebih cenderung pada keburukan, kecuali jiwa yang dirahmati Allah.

Maka salah satu ihtiar untuk memiliki jiwa yang dirahmati Allah, seorang anak butuh peran orang tua untuk mendidik anak-anaknya sedari dini, membiasakan dengan kebaikan-kebaikan, adab atau tata krama.

Sungguh, di masa pandemi ini, ketika pembelajaran tatap muka ditiadakan, ketika seorang murid tidak bisa lagi melihat tindak tanduk, tata krama dan adab guru-guru mereka di sekolah, peran orang tua sangat dibutuhkan.

Orang tua memberi teladan kepada anak, memberi nasihat kepada anak, membiasakan anak dengan melakukan amal-amal ketaatan, serta menghindarkan anak dari waktu-waktu kosong.

Syaikh Umar bin Abdullah Al-Muqbil berkata ketika menjelaskan kecenderungan jiwa manusia pada keburukan:

“Di antara perkara yang paling besar bahayanya bagi seorang hamba adalah waktu kosong, karena nafsu tidak mampu diam dengan kekosongannya. Ketika jiwa tidak disibukkan dengan hal positif, jiwa akan disibukkan dengan hal-hal yang membahayakannya, { إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ } “karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”