Simak khutbah Jumat ini dalam video. Mohon subscribe, ya. Jazaakumullah khair

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Dipertemuan sebelumnya telah kita bahas bersama bahwa syirik adalah dosa besar yang paling besar. Orang yang melakukan perbuatan syirik, lalu dia meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat dari syirik, maka dia kekal abadi di dalam neraka. Tetapi orang yang berbuat syirik ketika hidup, lalu dia bertaubat dari kesyirikannya sebelum sakaratul maut, maka dia diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala jika dia bertaubat dengan memenuhi syarat-syarat taubat.

Di pertemuan sebelumnya juga telah kita bahas bahwa yang dimaksud dengan syirik adalah menurunkan levelnya Allah sehingga setara dengan levelnya makhluk atau ciptaan Allah, bahkan hingga di bawah levelnya makhluk atau ciptaan Allah. Syirik juga terjadi jika tindakan kita terdapat unsur menaikkan levelnya makluk atau ciptaan Allah sehingga setara tingginya dengan levelnya Allah atau bahkan melebihi, di atas levelnya Allah. Nauzubillah.

BACA JUGA:

Khutbah Jumat: Syirik dan Kaidah memahaminya

Syirik ada banyak macamnya. Ada syirik dakwah atau doa atau permintaan, ada syirik toah atau syirik dalam hal ketaatan, ketundukan, kepatuhan, ada syirik niat dan irodah, ada syirik mahabbah atau syirik yang terjadi karena unsur rasa cinta. Dan kali ini kita akan fokus pada syirik dakwah atau syirik dalam hal doa atau permintaan.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah…

Diminta, didoai, dimohon, ini semua adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berdoa hanya kepada Allah. Kita meminta hanya kepada Allah. Syirik terjadi jika seseorang berdoa kepada Allah, lalu di lain waktu dia juga berdoa kepada selain Allah. Syirik juga terjadi jika seseorang tidak berdoa kepada Allah, dan hanya berdoa kepada selain Allah. Tentang hal ini, Allah ta’ala berfirman:

فَاِذَا رَكِبُوْا فِى الْفُلْكِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ فَلَمَّا نَجّٰىهُمْ اِلَى الْبَرِّ اِذَا هُمْ يُشْرِكُوْنَۙ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah de-ngan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menye-lamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mem-persekutukan (Allah).” (Al-Ankabut: 65).

Syirik dalam urusan doa atau meminta akan terjadi dalam kondisi sebagai berikut:

1. Berdoa atau meminta kepada jin atau makhluk gaib

Orang yang meminta sesuatu kepada jin atau makhluk gaib, baik itu sesuatu yang diminta itu sifatnya hanya bisa dilakukan oleh Allah , seperti memperpanjang umur, memberi rezeki, memberi keturunan, dan yang semisal, atau sesuatu yang diminta itu sifatnya bisa dilakukan oleh manusia, seperti seorang anak yang meminta uang saku kepada orang tuanya yang masih hidup, maka meminta apa pun kepada jin atau makhluk gaib akan mutlak jatuh ke dalam syirik besar.

Tentang hal ini, Allah berfirman:

وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ

“dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat,” (QS Al Jin 6).

2. Berdoa atau meminta dari orang mati

Berdoa kepada orang mati termasuk syirik dakwah atau syirik doa, yang ia merupakan syirik akbar, membatalkan keislaman pelakunya. Meminta atau berdoa kepada orang mati, hal ini bisa terjadi dalam dua keadaan:

– Meminta sesuatu dari orang yang sudah mati

Baik itu meminta sesuatu yang sifatnya hanya bisa dilakukan oleh Allah, maupun sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang hidup, meminta apa pun dari orang yang sudah mati adalah kesyirikan. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ﴿١٣﴾إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ

“Dan orang-orang yang kamu berdoa (menyeru/sembah) selain Allâh tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu berdoa atau menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. [Fathir 13-14]

– Meminta kepada orang mati agar berdoa kepada Allah

Skenario kedua ini adalah menjadikan orang yang sudah mati sebagai wasilah atau perantara, antara orang yang meminta dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Ini termasuk kesyirikan berdasarkan firman Allah:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu),” (QS Yunus 18).

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah..

3. Berdoa atau meminta kepada benda mati

Benda mati inilah yang sering disebut berhala. Meminta kepada benda mati, baik itu batu, kayu, bulan, bintang, matahari, api, ini adalah model kesyirikan zaman dahulu, dan bahkan masih ada hingga sekarang. Manusia mengira bahwa benda mati bisa memberi manfaat atau bahaya, padahal tidak. Itulah mengapa Allah berfirman:

وَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ لَهُمْ نَصْرًا وَّلَآ اَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُوْنَ

“Dan (berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun mereka tidak dapat memberi pertolongan,” (QS Al A’raf 192)

4. Berdoa atau meminta kepada orang yang masih hidup

Tentang meminta kepada orang yang masih hidup, ini ada tiga pembagian:

– Meminta kepada orang hidup yang ada di hadapannya, untuk sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, seperti meminta dipanjangkan umurnya, meminta diberi rezeki yang melimpah, meminta diberi kesembuhan, maka ini termasuk contoh syirik doa.

– Meminta kepada orang hidup yang ada di hadapannya, untuk sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia, atau di mana manusia bisa menjadi perantara bagi Allah untuk mengabulkan permintaannya. Hal ini bisa berupa seseorang meminta berdoa meminta kesembuhan kepada Allah, lalu dia mendatangi dokter. Juga ketika seorang anak meminta kepada Allah agar diberi uang, lalu dia datang kepada orang tuanya agar untuk meminta uang. Hal ini TIDAK termasuk kesyirikan.

– Meminta kepada orang hidup yang TIDAK ada di hadapannya, baik untuk sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, maupun untuk sesuatu yang manusia bisa menjadi perantaranya. Jika hal ini dilakukan karena ada keyakinan bahwa orang yang dimintai itu bisa mengetahui dari jarak jauh tentang keadaan orang yang meminta, maka ini termasuk kesyirikan. Lalu jika perbuatan ini tidak didasari adanya keyakinan bahwa orang yang diminta bisa mengetahui yang gaib, maka jelas ini perbuatan yang konyol, sia-sia.

أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

 أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ! اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ. وَذَرُو الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنْ. وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا  اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا اغْفِرْ لنا وَلِوَالِديناَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.