Oleh Syeikh Abdullah Azzam

وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ ١١

“Dan
janganlah kalian mencela diri (saudara) kalian sendiri
,”(QS. Al-Hujurat: 11). 
Kata Al Lumaz
(mencela) dan Al Humaz (mengumpat) banyak disebut oleh Rabbul ‘Izzati
dalam kitab-Nya.  Al Lumaz ialah
mencela seseorang dengan selain lesan, dengan isyarat atau dengan tangan atau
dengan yang lainnya. Atau mencela seseorang di depan matanya, sementara Al
Humaz
adalah mencela seseorang yang tidak ada atau di luar kehadirannya. 
Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman :
وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ١
“Kecelakaanlah
bagi setiap pengumpat lagi pencela
,” (QS. Al Humazah : 1).
وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠  هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ ١١  مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ ١٢ عُتُلِّۢ
بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ ١٣
“Dan
janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak
mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik,
yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang
terkenal kejahatannya
,” (QS. Al Qalam : 10-13).
“Wa laa
talmizuu anfusakum
”………Ta’bir Rabbani (ungkapan
Ilahi) yang tidak mungkin manusia mampu mengubahnya. Karena, jika engkau
mencela saudaramu dan mencacatnya, maka pada hakikatnya engkau mencela dirimu
sendiri.  Sebab orang beriman itu satu
sama lain adalah seperti bangunan. 
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ مَثَلُ
الْجَسَدِ ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ
وَالْحُمَّى
“Perumpamaan
orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih sayang dan kelemah-lembutan diantara
mereka itu bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota menderita maka
seluruh badanpun ikut merasakan panas dan tidak dapat tidur
,” (HR. Ahmad: 18005,
Muslim: 4691
)
.
Umat Islam itu
adalah satu tubuh, yang bekerja aktif secara keseluruhan. Yang satu adalah
matanya, yang kedua adalah telinganya, yang ketiga adalah jantungnya, yang
keempat adalah otaknya, yang kelima adalah kaki dan tangan.  Apabila ada salah satu anggota tubuh yang
tidak lengkap atau tidak berfungsi, maka hal itu akan mengurangi hasil
produksi, pemberian usaha dan pengorbanannya. Maka pada saat engkau mencela
salah seorang diantara kamu (kaum muslimin), sebenarnya engkau telah mencela
dirimu sendiri.
Sesungguhnya
orang-orang yang berpikiran dangkal tidak melihat Islam kecuali dari skala
masyarakatnya yang kecil, kecuali dari sudut kelompok mereka yang sedikit. Dan
pemahaman seperti itu, demi Allah, betul-betul berbahaya bagi Islam dan
berbahaya pula bagi manusia. Berbahaya bagi manusia yang menganggap bahwa
jari-jari kakinya jauh dari jari-jari tangannya. Apa engkau menganggap bahwa
engkau beserta kelompokmu atau engkau beserta organisasimu atau engkau beserta
partaimu mewakili Islam dan umat Islam??
Sesungguhnya
engkau mewakili sebagian kecil dari kepala semut. Lalu jika engkau ambil pisau
yang tajam atau pedang yang tajam kemudian engkau potong jari-jari kakimu
karena engkau menganggap bahwa jari-jari kaki jauh dari jari-jari tangan, maka
sesungguhnya engkau telah menjauhkan salah satu peran dari peran yang bekerja
secara aktif pada tubuhmu. Padahal jari-jari itu bermanfaat bagimu di waktu
senang dan susah, dalam masa kelapangan dan kesempitan. Engkau membutuhkannya. Jika
engkau memotong jari-jari kakimu, maka kuman dan rasa sakit mulai menyerang
tubuhmu dari bagian tubuh yang merupakan tempat yang dijaga oleh saudaramu,
karena kamu adalah satu tubuh. Lalu kuman-kuman itu masuk ke dalam darahmu
sehingga menjalar ke seluruh tubuh dan akhirnya merusak dan membinasakan.
Seorang muslim
dan umat muslim adalah saru kesatuan. Maka pantaskah bagimu memandang mereka
dengan pandangan sinis dan merendahkan? Atau engkau gunakan lesanmu untuk
mencela, mengumpat dan memfitnah saudaramu sendiri? Sesungguhnya engkau wahai
si miskin, telah memotong anggota tubuhmu sendiri.
مَن كَانَ يَظُنُّ أَن لَّن يَنصُرَهُ ٱللَّهُ فِي ٱلدُّنۡيَا
وَٱلۡأٓخِرَةِ فَلۡيَمۡدُدۡ بِسَبَبٍ إِلَى ٱلسَّمَآءِ ثُمَّ لۡيَقۡطَعۡ
فَلۡيَنظُرۡ هَلۡ يُذۡهِبَنَّ كَيۡدُهُۥ مَا يَغِيظُ ١٥ وَكَذَٰلِكَ أَنزَلۡنَٰهُ
ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖ وَأَنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يُرِيدُ ١٦
“Barangsiapa
yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia
dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah
ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat
melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya. Dan demikianlah Kami telah menurunkan
Al-Qur’an yang merupakan ayat-ayat yang nyata; dan bahwasanya Allah memberikan
petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki”. (QS. Al Hajj : 15-16)
Dalam Musnad
Ahmad disebutkan hadits sebagai berikut :
لَا تُؤْذُوا عِبَادَ
اللَّهِ ، وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ ، وَلَا تَطْلُبُوا عَوْرَاتِهِمْ ، فَإِنَّهُ
مَنْ طَلَبَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ ، طَلَبَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى
يَفْضَحَهُ فِي بَيْتِهِ
“Janganlah kalian menggunjing kaum muslimin, dan
janganlah kalian mencari–cari aurat mereka. Karena sesungguhnya, barangsiapa
yang mencari-cari aurat saudaranya sesama muslim, maka Allah akan mencari-cari
auratnya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari auratnya, Allah akan
menelanjangi auratnya walaupun di dalam rumahnya sendiri,” (HR Ahmad: 21814).
Mencari-cari aurat
kaum muslimin dengan cara Al-Lumaz (mencela) dan Al-Humaz (mengumpat) merupakan
tanda kemunafikan, bukan tanda keimanan.
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ ، وَلَا اللَّعَّانِ ، وَلَا الْفَاحِشِ
، وَلَا الْبَذِيءِ
“Bukanlah orang yang beriman itu yang suka mencela
atau sering melaknat atau kotor dan keji mulutnya atau jelek akhlaknya atau
suka berbicara kotor,” (HR Tirmizi: 1896).
Oleh karena itu,
ketika orang-orang Yahudi datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,
dan mengucapkan salam: 
“As-Saamu’alaika
ya Abal Qasim” (artinya : “Semoga kebinasaan menimpa dirimu wahai Abal Qasim”).
A’isyah
mendengar ucapan tersebut maka ia segera menjawab ucapan mereka, “Dan semoga
kebinasaan, celaan, dan laknat menimpa kalian”. 
Maka berkatalah
beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kepada A’isyah, “Wahai A’isyah,
sesunguhnya Allah sangat benci dengan kata-kata keji dan kotor. Tidakkah engkau
mendengar jawabanku tadi? Sungguh tadi aku katakan kepada mereka : “Wa’alaikum”
(Bagimu atas apa yang kalian ucapkan). Mereka mengatakan : “As-Saamu’alaika”,
maka aku menjawab : “Wa’alaikum”.
Beliau tidak
menyetujui jika A’isyah menjawab ucapan mereka dengan kata-kata yang keji
pula.  Sabdanya : “Sesungguhnya Allah
sangat benci dengan kata-kata keji dan kotor”.
Aib itu ada dua
macam. Boleh jadi aib tersebut memang benar ada pada diri saudaramu saat engkau
mencelanya di depan matanya, dan boleh jadi aib tersebut tidak ada pada
dirinya, maka celakalah engkau dan celakalah engkau. Dengarkanlah apa yang
diucapkan Rasulullah SAW, dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ath
Thabrani :
مَنْ
ذَكَرَ امْرَأً بِمَا لَيْسَ فِيهِ لِيَعِيبَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ حَبَسَهُ
اللَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ , حَتَّى يَأْتِيَ بِنَفَاذِ مَا قَالَ فِيهِ

“Barangsiapa
membicarakan sesuatu yang tidak benar atas diri seseorang, untuk mencemarkan
kehormatannya dengan perkataan itu, maka Allah akan menahannya di neraka
jahanam sampai dia dapat mendatangkan / membuktikan kebenaran apa yang dia
katakan mengenainya,”
(HR At-Thabrani: 9169)
Sehingga dia
dapat membuktikan apa yang dikatakan mengenainya, dan sekali-kali dia tidak
akan dapat membuktikannya, bagaimana dapat kalau dia sendiri berdusta ?
Wahai saudaraku
yang tercinta, berhati-hatilah dengan lesanmu.
//Berhati-hatilah
dengan lesanmu wahai insan. 
Jangan sampai
mematuk dirimu, karena ia adalah ular. 
Berapa banyak
orang mati di kuburan gara-gara lidahnya.
Adalah para
ksatria pemberani takut menemuinya//
Luka karena
lidah itu lebih menyakitkan daripada luka karena tusukan lembing. Karena luka
akibat tusukan lembing dapat sembuh sebab luka itu di kulit. Adapun luka karena
lidah tak dapat sembuh, sebab luka itu meremukan hati. Sungguh sulit sekali
hati yang telah remuk dapat pulih kembali.
Dengarlah isi
hadits riwayat Bukhari dan Bilal bin Al Harits ra, dia berkata; Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda :
نَّ
أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا
يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ ، فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ
بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ ، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ الَّذِي بَلَغَتْ
فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ
“Sesungguhnya
ada seseorang yang berbicara dengan suatu perkataan yang diridlai Allah ‘Azza
wa Jalla dan tak sekalipun ia menyangka perkataannya itu akan membawa akibat
sedemikian jauhnya, yakni Allah menetapkan baginya dengan perkataannya itu
keridlaan sampai hari kiamat. Dan ada seseorang yang berbicara dengan suatu
perkataan yang dimurkai Alah ‘Azza wa Jalla dan tak sekalipun ia menyangka
perkataannya itu akan membawa akibat sedemikian jauhnya, yakni menetapkan
baginya dengan perkataannya itu kemurkaan-Nya sampai hari kiamat”. (HR. At
Tirmidzi
).

Alqamah  berkata : “Hadits Bilal bin Al Harits telah
mencegahku dari beberapa banyak perkataan yang hendak aku ucapkan.” Hadits itu
ada dalam riwayat Bukhari dan Ahmad. Maknanya hadits tersebut shahih tidak
perlu diragukan lagi dan tidak perlu didebat lagi. Wallahu’alam bish shawwab.