Oleh Syekh Abdullah
Azzam Rahimahullah
Allah berfirman:
وَلَا
تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِ ١١
“Dan janganlah suka
mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung
ejekan,” (QS Al-Hujurat: 11).
Ayat ini turun karena sebab
Bani Salamah. Ketika Rasulullah tiba
di Madinah Munawarah, beliau mendapati para sahabat Anshar mempunyai sejumlah
nama. Suatu saat beliau memanggil salah seorang sahabat Anshar dengan namanya.
Lantas para sahabat yang lain berkata:
“Ya Rasulullah,
sesungguhnya gelaran itu tidak disukai saudara ini.”
Maka turunlah ayat yang
melarang mereka memanggil dengan gelaran yang dibenci.
Apa kerugianmu jika engkau
bicara dengan kata-kata yang baik?
Berkata kotor itu menandakan
hatimu penuh dengan perasaan hasad, dengki, kebencian, dan denda, terhadap kaum
muslimin. Lidahmu, tidak engkau gunakan untuk berbicara yang baik. Wajahmu,
senantiasa cemberut, tertutup sama sekali dari kebaikan.
Apa sih yang memberatimu
sekiranya engkau memanggil saudaramu dengan nama yang paling disukainya? Untuk
memasukkan rasa gembira ke dalam hatinya yang mungkin sedang terluka, lalu
engkau menawarkannya dengan kata-kata yang baik itu.
Apa yang memberatimu? Sehingga
engkau sangat bakhil, sampai bakhil berbicara baik, sampai bakhil mengucapkan
salam!
يا
أيُّها الناسُ، أفْشُوا السَّلام، وأطْعِموا الطَّعام، وصِلُوا الأرحام، وصَلُّوا
باللَّيلِ والناسُ نِيام، تَدخلوا الجَنَّةَ بسَلام
“Wahai sekalian
manusia! Sebarkanlah salah, salinglah memberi makan, sambunglah tali
silaturahim, lakukan salat malam ketika manusia pada tidur, niscaya kalian akan
masuk surga dengan salam,”
(HR Tirmizi: 2485, Ahmad: 23784, Ibnu Majah: 3251. Al-Albani: Sahih)
Tidak ada yang menambah umur kalian kecuali
kebajikan, kecuali perbuatan baik. Untuk itu, penuhilah hatimu dengan
mahabbbah, sesungguhnya dengan mahabbbah ini engkau dapat membantu dirimu untuk
memperoleh sumber kebaikan yang sangat jernih dan tidak akan pernah keruh.
Kebaikan itu akan senantiasa mengalir kepada dirimu meski engkau ada di rumah,
tidak bergerak dan tidak beramal, lantara kecintaan (mahabbahmu) kepada seorang
mukmin.
Di dalam hadis disebutkan:
ما
تحابَّ رجلان في اللهِ إلا كان أحبُّهما إلى اللهِ عزَّ وجلَّ أشدَّهما حُبًّا
لصاحبِه
“Jika ada seorang yang mencintai saudaranya, maka
yang paling dicintai oleh Allah di antara mereka adalah yang paling besar
cintanya kepada saudaranya,”
(Sahih Targhib: 3014. Al-Albani: Hasan Sahih).
يا
محمدُ عِشْ ما شئتَ فإنك ميِّتٌ ، وأحبِبْ ما شئتَ ، فإنك مُفارِقُه ، واعملْ ما
شئتَ فإنك مَجزِيٌّ به
(Allah berfirman): “Wahai Muhammad!
Hiduplah kamu sesuka hatimu, sesungguhnya kamu akan mati jua. Cintailah sesiapa
yang kamu cintai, toh akhirnya kamu akan berpisah dengannya. Dan beramallah
sesukamu, sesungguhnya amalanmu akan mendapat balasan,”
(Silsilah Sahihah: 831. Al-Albani:
Hasan).
اتَّقِ
المحارمَ تكن أعبدَ الناسِ ، و ارْضَ بما قسم اللهُ لك تكن أغنى الناسِ و أَحْسِنْ
الى جارِك تكن مؤمنًا ، و أَحِبَّ للناسِ ما تُحبُّ لنفسِك تكن مسلمًا ، و لا
تُكثِرِ الضحكَ ، فإنَّ كثرةَ الضحكِ تُميتُ القلبَ
“Jauhilah perkara-perkara yang haram, niscaya
engkau akan menjadi manusia yang paling berbakti. Dan ridalah engkau terhadap
apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau jadi manusia yang paling kaya.
Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin. Dan
cintailah untuk manusia apa-apa yang engkau mencintai untuk dirimu sendiri, niscaya
engkau menjadi seorang muslim. Dan janganlah banyak tertawa, karena banyak
tertawa itu akan mematikan hati,”
(Silsilah Sahihah: 930. Al-Albani: Hasan).
Tiga perkara yang semuanya haram: 1) As-Sukhriyah
(menghina), 2) Lamzu (mencela), dan 3) At-Tanabazu bil Alqab (panggil memanggil
dengan gelar yang buruk).
Akibat dari melanggar salah satu dari ketiga
perkara haram tersebut adalah balasan dari sisi Allah berupa dua gelar yang
buruk. Engkau menerima dari Allah dua nama buruk dan kehilangan sebuah gelar
yang agung.
Padahal sebelum itu, namamu di sisi Allah adalah
mukmin, lalu Allah memberikan kepadamu gantinya dengan nama fasik dan fusuq.
Dan jika engkau tidak cepat-cepat bertaubat, maka Allah akan menambah dengan
gelar lain, yakni fasik dan zalim.
بِئۡسَ
ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
١١
“Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang
buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim,” (QS Al-Hujurat: 11).
Adakah engkau suka menukar nama mukminmu di sisi
Allah dengan nama fasik? Engkau jual nama mukminmu kemudian engkau beli sebagai
gantinya nama fasik dan zalim.
Dengan apa? Dengan umpatan lisan atau engkau
gunakan kedua bibirmu untuk mencela saudaramu atau dengan gerakan hati yang
serupa dengannya. Celaka dan celakalah orang yang menukar nama mukmin dari
Rabbul Izzati dengan nama fasik dan zalim. Sungguh jelek sekali jual beli
tersebut.