Pembaca yang budiman, kali ini kita akan melanjutkan materi aqidah yang kita ambil dari kitab At-Tauhid Li Shaff al-Awal Al-‘Ali karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Tema kali ini adalah ‘Hukum meminta bantuan orang kafir di bidang ekonomi dan peperangan.’ Teruskan membaca:

Klik Video untuk Mendengar Pembacaan Artikel Ini

Di Bidang Ekonomi

Allah ﷻ berfirman di QS Ali Imran 118:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُ ۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ

Latin: yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattakhiżụ biṭānatam min dụnikum lā ya`lụnakum khabālā, waddụ mā ‘anittum, qad badatil-bagḍā`u min afwāhihim wa mā tukhfī ṣudụruhum akbar, qad bayyannā lakumul-āyāti ing kuntum ta’qilụn

Arti: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti, (Surat Ali Imran 118).

Imam Al-Baghawi Rahimahullah, dalam tafsirnya terhadap Surat Ali Imran 118 ini beliau menjelaskan:

“Janganlah engkau menjadikan orang-orang kafir sebagai wali, orang kepercayaan, atau orang-orang pilihan, karena mereka tidak segan-segan melakukan apa-apa yang membahayakanmu.”

Syaikhul Islam Ibnul Taimiyah rahimahullah berkata:

“Para peneliti telah mengetahui bahwa orang-orang ahli dzimmah dari Yahudi dan Nasrani mengirim berita kepada saudara-saudara seagama mereka tentang rahasia-rahasia orang Islam. Di antara bait-baik yang terkenal adalah:

“Setiap permusuhan dapat diharapkan kasih sayangnya,”

“Kecuali permusuhan dari orang yang memusuhimu karena agama.”

Karena itulah, mereka dilarang memegang jabatan sebagai atasan, sedang orang-orang Islam sebagai bawahannya. Bahkan, mempekerjakan orang Islam yang kemampuannya masih di bawah orang kafir adalah lebih baik dan lebih bermanfaat bagi umat Islam dalam agama dan dunia mereka. Sedikit tapi dari yang halal itu diberkahi Allah, sedang banyak tetapi dari yang haram, dimurkai Allah.”

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan:

1. Untuk Posisi Strategis

Tidak boleh mengangkat orang kafir sebagai atasan bagi orang-orang Islam, atau yang memungkinkan dia mengetahui rahasia-rahasia orang Islam. Jabatan ini seperti menteri, penasihat (atau kalau di Indonesia seperti Ahok laknatullah yang justru dijadikan Komisaris Utama Pertamina).

Allah ta’ala berfirman:

“Janganlah kamu mengambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan bagimu,” (Surat Ali Imran ayat 118).

Atau, tidak boleh mengangkat mereka sebagai pegawai di lembaga pemerintahan suatu negara Islam.

2. Untuk Posisi yang Tidak Strategis

Boleh menggaji mereka, orang-orang kafir, untuk melakukan pekerjaan sampingan yang tidak menimbulkan bahaya dalam urusan politik negara Islam. Posisi ini meliputi guide atau penunjuk jalan, pemborong konstruksi bangunan, proyek perbaikan jalan, dan semisalnya. Dengan syarat, tidak ada lagi orang Islam yang mampu mengerjakannya. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah membayar orang musryik dari Bani Ad-Dil sebagai penunjuk jalan ketika keduanya hijrah ke Madinah. Kisah ini terdapat dalam Sahih Bukhari.

Dalam Urusan Peperangan

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Yang benar adalah boleh hukumnya meminta bantuan dari orang kafir dalam urusan jihad atau peperangan, dengan dua syarat:

1. Orang kafir itu dapat dipercaya

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang manfaat perjanjian Hudaibiyah:

“Di antaranya bahwa meminta bantuan kepada orang musyrik yang dapat dipercaya dalam hal jihad adalah boleh, ketika benar-benar diperlukan dan para orang musyrik itu juga terdapat maslahat, yaitu kedekatan mereka dan kemudahan mereka untuk bercampur dengan musuh dan dapat mengambil rahasia dari mereka.”

BACA:
Al-Qalam 8 – 9: Larangan Mematuhi Orang yang Menolak Syariat Allah

2. Dalam keadaan darurat

Imam Az-Zuhri rahimahullah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ meminta pertolongan kepada orang Yahudi dalam perang Khaibar (tahun 7 H). Dan Shafwan bin Umayyah ikut serta dalam perang Hunain padahal saat itu dia masih musyrik.

Termasuk darurat adalah jumlah orang-orang kafir lebih banyak dan sangat ditakuti. Dengan syarat, dia berpandangan baik terhadap kaum muslimin. Adapun jika tidak diperlukan, maka tidak boleh meminta bantuan kepada mereka, karena orang kafir itu sangat mungkin untuk berkhianat atau menjadi senjata makan tuan, karena buruknya hati mereka. Tetapi yang tampak dari ucapan Syaikh Ibnu Taimiyah adalah boleh hukumnya meminta pertolongan kepada orang kafir (dalam urusan peperangan) secara mutlak.

Wallahu’alam bish shawwab

Demikian pelajaran agama kita hari ini tentang akidah, dengan tema meminta bantuan orang kafir dalam urusan ekonomi dan peperangan. Insya Allah setiap senin kita akan melanjutkan materi akidah ini. Semoga Allah memberi kemudahan. Silakan dishare, dengan tetap mencantumkan link ke artikel ini. Baarakallahu fiikum