Pembaca situs mukminun.com yang budiman, hari ini banyak pertanyaan tentang “Hukum menyukai Kpop.” Pertanyaan serupa jarang didapati dari fatwa ulama Timur Tengah. Itulah mengapa kali ini redaksi mukminun.com mengangkat fatwa Ustadz Abdul Somad – semoga Allah menjaga beliau, juga komentar Ustadz Oemar Mita – semoga Allah merahmati beliau. Teruskan membaca.

Pertanyaan:

Bagaimana menurut akidah kita jika kita menyukai Kpop? Walau hanya sekadar suka saja.

Jawaban oleh Ustadz Abdul Somad

Ada seorang bapak sedang koma di ruang ICU. Dia dalam keadaan koma. Kata dokter di Cipto Mangunkusomo, “Bawa bapak pulang ke rumah, karena sudah tak lama lagi mati.”

Akhirnya pas mau dibawa pulang ke rumah, tiba-tiba bapak itu terbangun. Sehat, sadar. Doker heran, lalu bapak itu ditanya:

“Anda tadi pingsan, koma. Kenapa tiba-tiba bangun? Apa yang Anda lihat?”

Bapak tadi menjawab:

“Ketika aku sedang koma tadi tiba-tiba ada seseorang datang dan bertanya, ‘Kapan tabligh akbar?!’

‘Siapa yang datang?’

‘Ustadz Somad.’

Ketika bapak itu jumpa saya langsung, bapak itu mengaku bahwa ketika beliau koma ustadz Somad datang dan bertanya, ‘Kapan tabligh akbar?’ Habis itu dia terbangun, terkejut, lalu beliau menyimak kajian tabligh akbar.

Lama saya berpikir, “Kok bisa saya datang ketika bapak itu lagi koma?” Saya tanya:

“Bapak selalu dengar saya ceramah?”

“Selalu. Habis 4 giga untuk ustadz saja.”

“Bapak kalau mau tidur lihat apa?”

“Ceramah ustadz.”

“Kalau pagi lihat apa?”

“Ceramah ustadz.”

“Di kantor lihat apa?”

“Ceramah ustadz.”

Baru saya paham. Apa yang paling sering kita lihat, kita tonton, itulah yang akan datang waktu kita koma dan sakaratul maut.

Paham jawabannya?

Apa maksudnya?

Kalau Anda sering menyukai Kpop, ketika Anda koma, Kpop pula yang datang.

Kalau Anda suka nonton Bolywood India, ketika Anda koma, nantilah datang Amita Bachan.

Demikain tadi jawaban Ustadz Abdul Somad tentang hukum menyukai Kpop dalam Islam.

Komentar Ustadz Oemar Mita

Sebelum mengakhiri pembahasan ini, mari simak juga bagaimana pendapat Ustadz Oemar Mita tentang fenomena banyaknya muslimah yang menyukai Kpop. Berikut kutipan nasihat beliau:

Ketika mereka ingin merusak Islam, maka di antara cara atau metode yang mereka lakukan yaitu bagaimana mereka merusak kehidupan kaum muslimah, karena mereka mengerti, tidaklah peradaban itu rusak kecuali dimulai dari bagaimana mereka merusak kaum wanita.

Makanya di sini kita paham, kenapa Islam menempatkan urusan wanita dalam syariatnya begitu detail, begitu lengkap, begitu agung, karena sesungguhnya Islam mengerti betul di mana keberuntungan itu adalah dimiliki setiap orang yang memiliki wanita-wanita salihah ketika ada di sekitarnya.

Makanya gak perlu kita kagum sama kehidupan orang kafir. Gak usah kagum. Romantis, bawa bunga. Alah, itu bukan romantis.

Romantis itu ketika seorang laki-laki membangunkan istrinya ketika salat. Kalau gak bangun diguyur air. Nah, itu romahtis!

Salat berduaan. Nah, itulah romantis.

Penutup

Baik, demikian pembaca mukminun.com yang budiman. Pesan Nabi ﷺ:

لَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

“Tidaklah seseorang itu menyukai, mengidolakan, mencintai suatu kaum, kecuali dia akan dibangkitkan bersama kaum tersebut.”

Hadits ini sahih, diriwayatkan oleh Imam At-Tabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath: 6/293, juga di dalam Al-Mu’jam Ash-Shagir: 2/114.

Imam Al-Mundziri mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid, didukung pendapat Syekh Al-Albani yang menyatakannya sebagai hadis sahih di dalam Sahih At-Targib wa Tarhib: 3/86.

Inilah mungkin yang menjadi dasar bagi Ustadz Abdul Somad mengatakan hal seperti di atas. Bahwa “Apa yang paling sering kita lihat, kita tonton, itulah yang akan datang waktu kita koma dan sakaratul maut.”

Semoga kita bisa berhenti dari kebiasaan suka Kpop, bertaubat dari mengidolakan artis-artis Korea. Aamiin

Baarakallahu fiikum