Irfan Nugroho
Sungguh indah menyimak dan mengikuti perkembangan para Mujahidin melalui forum-forum jihad internasional.

Kesan yang muncul dari melihat konten-konten “threads” yang diposting di
forum-forum tersebut adalah sebuah bentuk nyata dari “Barisan yang teratur
seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang kokoh,” (Ash-Shaaf: 04).



Terlebih dari itu, inilah suatu bentuk nyata dari firman Allah,
Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara,” (Al-Hujurat: 10).

Mari kita lihat bagaimana para Mujahid ini bereaksi atas penderitaan kaum
Muslimin di Palestina, Afghanistan, Iraq, Somalia, Kashmir, dan di
berbagai belahan dunia lainnya yang disebabkan oleh penjajahan kaum
kafir.
Sehingga lingkup “saudara” di benak mereka bukan lagi hanya terbatas
oleh partai, kelompok pengajian, pengikut sheikh ini sheikh itu, Jawa
atau bukan jawa, atau pun batas-batas negara.

Sungguh amat sayang, hal tersebut ‘jarang’ terlihat di Indonesia – meski
memang harus diakui bahwa telah muncul kesadaran di antara umat
Islam bahwa persaudaraan dalam Islam tidak terbatas oleh sekat-sekat
negara.

Di kalangan orang awam, kita pasti sering menyaksikan bagaimana
perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama terus menerus
dieksploitasi sehingga menjadi sebuah tema diskusi yang tak pernah
pudar.

Lihatlah pula kenyataan (dan juga di dunia maya) bahwa memang ada sebuah
komunitas yang mengklaim sebagai suatu komunitas yang paling “salaf” ataupun yang 
paling “ahlus sunnah wal jamaah” sehingga menganggap kelompok-kelompok
lain “tidak bermanhaj salaf.”

Pernah pula kami mengikuti suatu acara di mana ada seorang ‘ulama’ yang
terus menerus ‘mendzhalimi’ saudara sesama Muslim. Ungkapan yang masih
terekam jelas di memori otak kami dari perkataan ‘ulama’ itu adalah:

Pokoknya nanti kalau bertemu orang yang celananya ngatung, jenggotnya
lebat, dahinya hitam bekas sujud, dan pakai jubah panjang, segera telpon
nomer ini (sambil mengangkat kertas bertuliskan nomer polisi setempat).
Sudah jelas sekali mereka itu teroris! Maka cepat-cepat laporkan saja
!”

Baru-baru ini, sebuah instansi pemerintahan daerah di Indonesia melarang
peredaran beberapa buku-buku Islami, seperti Fii Dhilalil Quran
karangan Sayyid Quthb, Al-Wala wal Bara tulisan DR. Said Al-Qhahthani,
Dakwah Muqawwamah karya Abu Musab As-Suri, dan Daulah Islamiyah Sebuah
Relita tulisan DR. Yusuf Al-Qardhawi.

Yang mengherankan bahwa ada seorang teman – dan juga seorang Muslim –
yang jelas-jelas menyatakan bahwa bentuk “kedzhaliman” ini tidak apa-apa
selama yang dibredel bukan kitab-kitab karya sheikh-sheikh sang teman
ini.

Lantas, di manakah pemahaman pihak-pihak tersebut tentang firman Allah,
Sesungguh orang-orang Mukmin adalah bersaudara,” (Al-Hujurat: 10)?

Tidakkah kita juga telah menghafal Surat Al-Humazah yang jelas-jelas
di ayat pertama Allah menjanjikan kecelakaan kepada mereka para
pengumpat dan pencela(Al-Humazah: 01)?


Ingatlah pula bahwa Rasulullah telah bersabda, “Cukuplah seseorang itu
memperoleh kejelekan apabila ia menghinakan saudaranya sesama Muslim,

(Hadist Riwayat Imam Muslim).

Wahai saudaraku sesama Muslim, kami pun mengetahui bahwa ada beberapa
hal yang tidak kami setujui dari sosok DR. Yusuf Al-Qardhawi, namun
bukan berarti kami menolak semua ajaran beliau apalagi sampai ‘memakan
daging beliau yang beracun’ karena Rasulullah pernah berkata bahwa
daging para ulama adalah beracun.’

Wahai saudaraku yang Muslim, bukan hanya karena kita tidak setuju
dengan pandangan Jihad beberapa Mujahidin di Indonesia lantas kita
menghina habis-habisan mereka dengan mengatakan mereka adalah khawarij,
mereka anjing-anjing neraka, ataupun dengan menyebut mereka ‘teroris.’

Jika memang demikian pandangan kita, maka mari kita renungi pertanyaan ini, “Apa
pengorbanan kita untuk Islam, sedang mereka telah mengorbankan nyawa mereka
untuk Islam meski memang ada beberapa kejadian yang secara fikih kurang
tepat?”

Kita bisa saja menganggap remeh kitab tafsir Fii Dhilalil Quran karya
Sayyid Quthb karena nama beliau sering dicatut oleh saudara-saudara kita
yang berpendapat bahwa penegakan Islam adalah dengan berdakwah di
parlemen (mencampur kebathilan dengan kebaikan).

Jika memang seperti itu pandangan kita maka, “Bisakah kita membuat karya
yang lebih bagus atau minimal serupa dengan kitab Fii Dhilalil Quran
yang keabsahannya telah diakui bahkan oleh sheikh-sheikh kelompok ‘salafiyun’ sendiri
dan ulama-ulama dari kalangan Mujahidin?”

Wahai saudaraku sesama Muslim, kita bisa saja mencela seorang Muslim namun bisa
jadi mereka yang kita hina adalah lebih baik daripada kita. Ingatkah kita
bahwa akan firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki
merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih
baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan
kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”



“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu
menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu
memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang,” (Al-Hujurat: 11-12)
.

Wahai saudaraku, mereka para Muslimin ahlus sunnah wal jamaah, mereka adalah saudara kita… (22 Dzulqa’dah 1432 H).