Latihan memanah gaya Jemparingan Mataraman tingkat nasional di Desa Karangasem, Kec. Bulu, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah | Photo: Teguh Samudera



Oleh: Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi
Sebenarnya, tujuan dari semua bentuk olahraga yang
dahulu pada permulaan islam dikenal dengan “furusiyah” (ketangkasan mengendarai
kuda) adalah untuk membantu mewujudkan al-haq, memenangkannya, serta membelanya,
bukan untuk memperoleh harga dan mengumpulkan kekayaan, bukan juga untuk meraih
popularitas dan cinta kemewahan (menarik perhatian), dan bukan juga untuk
hal-hal lain yang merupakan wujud dari adanya kesombongan dan kerusakan di muka
bumi, seperti kondisi mayoritas olahragawan saat ini.
Maksud yang sebenarnya dari semua bentuk olahraga
yang beraneka ragam ini adalah meningkatkan kekuatan dan kemampuan untuk
berjihad (berperang) di jalan Allah. Maka, kita wajib memahami makna olahraga
dalam Islam, dan orang yang memahaminya bukan dengan pemahaman yang telah
dijelaskan, maka dia akan memalingkan makna olahraga itu dari tujuan yang mulia
menjadi tujuan yang hina, seperti untuk main-main yang tidak berguna, dan untuk
perjudian yang telah diharamkan.
Dasar disyariatkannya olahraga adalah firman Allah
:
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk
menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki,” (QS Al-Anfal: 60).
Juga sabda Nabi :
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ
الضَّعِيفِ
“Orang mukmin yang kuat
itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah,” (Sahih
Muslim: 34).
Dan kekuatan dalam
Islam meliputi pedang, tombak, hujjah, dan dalil.
Wallahu’alam bish
shawwab.