Pertanyaan:

Saya mengenal seorang janda yang memiliki beberapa anak dan saya ingin menikah. Saya penasaran, apakah saya harus menikahinya atau apakah saya hendaknya menikah dengan wanita yang masih perawan atau belum menikah sebelumnya?

Jawaban oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid

Alhamdulillah.

Hal itu tergantung situasi pihak laki-laki. Bisa saja menikah dengan janda adalah lebih cocok dengannya, bahkan mungkin lebih baik.

Janda tersebut bisa saja seorang wanita yang bertakwa dan berakhlak baik, sehingga Anda tidak ingin menyia-nyiakan peluang tersebut untuk menikahinya, dan Anda kesulitan menemui wanita perawan yang bertakwa dan baik akhlaknya.

Tetapi secara umum, Rasulullah ﷺ mendorong umatnya untuk menikah dengan perawan.

Ada kisah di mana sahabat Jabir radhiyallahuanhu, yang ayahnya meninggal karena berjihad. Ayahnya meninggalkan beberapa anak perempuan yang setelah itu menjadi tanggung jawab Jabir radhiyallahuanhu. Dalam hal ini, akan kurang pas jika Jabir menikah dengan seorang perawan yang seusia dengan adik-adik perempuannya. Itulah mengapa dia menikah dengan seorang janda, yang bisa merawat mereka. Nabi ﷺ pun menyetujui keputusan tersebut.

Diriwayatkan bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahuanhuma berkata, “Rasulullah ﷺ bertanya kepada saya, ‘Apakah kamu sudah menikah?’ Saya jawab, ‘Iya.’ Kemudian beliau bertanya, ‘Dengan perawan atau janda?’ Saya jawab, ‘Dengan janda.’ Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

فَهَلَّا بكْرًا تُلَاعِبُهَا وتُلَاعِبُكَ

‘Mengapa tidak dengan perawan sehingga kamu bisa gojekan dengan dia dan dia pun bisa gojekan dengan kamu?’

Jabir pun menjawab,

إنَّ لي أخَوَاتٍ، فأحْبَبْتُ أنْ أتَزَوَّجَ امْرَأَةً تَجْمَعُهُنَّ، وتَمْشُطُهُنَّ، وتَقُومُ عليهنَّ

‘Saya punya beberapa saudara perempuan, dan saya ingin menikahi seorang wanita yang bisa membersamai mereka, menyisir rambut mereka dan merawat mereka.’

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

أمَّا إنَّكَ قَادِمٌ، فَإِذَا قَدِمْتَ، فَالكَيْسَ الكَيْسَ

‘Sekarang kembalilah. Jika kamu sudah sampai rumah, maka berjimaklah dengan istrimu,’” (Sahih Bukhari: 2097, Sahih Muslim: 715).

Menurut riwayat lain dari al-Bukhari (nomor 2229), Jabir berkata:

تُعَلِّمُهُنَّ وَتُؤَدِّبُهُنَّ

‘Sehingga dia bisa mengajari mereka dan mengajari mereka adab atau tata krama).’

Menurut riwayat lain dari al-Bukhari 2967 dan Muslim 715, Jabir menjawab,

يَا رَسُولَ اللَّهِ تُوُفِّيَ وَالِدِي أَوْ اسْتُشْهِدَ وَلِي أَخَوَاتٌ صِغَارٌ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَزَوَّجَ مِثْلَهُنَّ فَلَا تُؤَدِّبُهُنَّ وَلَا تَقُومُ عَلَيْهِنَّ فَتَزَوَّجْتُ ثَيِّبًا لِتَقُومَ عَلَيْهِنَّ وَتُؤَدِّبَهُنَّ

“Wahai Rasulullah, bapakku telah meninggal dunia atau mati syahid dan aku memiliki saudara-saudara perempuan yang masih kecil-kecil dan aku khawatir bila aku menikahi gadis yang usianya sebaya dengan mereka dia tidak dapat mengajari mereka adab/tata krama dan tidak dapat bersikap tegas terhadap mereka hingga akhirnya aku menikahi seorang janda agar dia dapat bersikap tegas dan mengajari mereka tata krama mereka.”

Diriwayatkan bahwa Jabir radhiyallahuanhu berkata:

هَلَكَ أَبِي وَتَرَكَ سَبْعَ بَنَاتٍ أَوْ تِسْعَ بَنَاتٍ فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً ثَيِّبًا

“Bapakku wafat dan ia meninggalkan tujuh atau sembilan orang anak wanita, maka aku pun menikah dengan seorang janda,” (Sahih Bukhari: 5367).

Kemudian Nabi ﷺ bertanya kepada Jabir, “Apakah kamu sudah menikah?” “Iya,” jawabnya. “Dengan gadis atau janda?” tanya Rasulullah. “Dengan janda,” jawab Jabir. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

فَهَلَّا جَارِيَةً تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ وَتُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ

“Mengapa tidak dengan perawan? Jadi kamu bisa main-main dengannya, dia pun bisa main-main denganmu. Kamu bisa bercanda dengannya, dia pun bisa bercanda denganmu.”

Jabir menjawab:

إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ هَلَكَ وَتَرَكَ بَنَاتٍ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَجِيئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُومُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ

“Sesungguhnya Abdullah meninggal, dan ia meninggalkan banyak anak wanita. Dan aku tak suka bila melahirkan anak-anak (yang tak terurus) seperti mereka. Karena itulah, aku menikahi seorang wanita agar dapat mengurus mereka.”

Rasulullah ﷺ pun menimpali:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ أَوْ قَالَ خَيْرًا

“Semoga Allah memberkati kamu,” atau “Bagus.” (Sahih Bukhari: 5367).

Syaikh Mustafa Al-Ruhaibani berkata:

“Sunah bagi seseorang yang ingin menikah agar dia menikah dengan perawan, karena Nabi ﷺ bersabda kepada Jabir, ‘Mengapa tidak menikah dengan perawan sehingga kamu bisa bermain-main dengannya dan dia pun bisa bermain-main denganmu,’ (Muttafaq Alaih). Kecuali jika ada alasan yang karenanya menikah dengan janda adalah lebih baik. Kalau memang begitu keadaannya, hendaknya dia menikah dengan janda daripada perawan. Hal ini agar dia bisa mencapai tujuannya tersebut,” (Matalib Ulin Nuha: 5/9-10).

Wallahu’alam bish shawwab