Pertanyaan:

Terima kasih atas pertanyaan nomor 2104268 (Fatwa No: 86990).
Anda bilang, “Puasa Hari Arafah tidak dikaitkan dengan tempat, tetapi ia
dikaitkan dengan waktu.” Bisa tolong Anda jelaskan hal ini? Karena Nabi Muhammad
menyebutkan “Puasa Hari
Arafah”, bukankah itu seharusnya dikaitkan dengan tempat dan waktu? Mengapa
Anda memisahkan keduanya? Padahal Nabi

tidak memberikan isyarat untuk memisahkannya.
Jawaban oleh Fatwa Center Asy-Syabakah Al-Islamiyah, diketuai oleh Syekh
Abdullah Faqih Asy-Syinqitti
Segala puji hanya milik Allah, Rab semesta alam. Saya bersaksi bahwa
tiada Ilah yang hak untuk diibadahi selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba
dan utusanNya. Selawat dan salam teruntuk keluarganya dan seluruh sahabatnya.
Kami berpendapat bahwa Puasa Hari Arafah dikaitkan dengan waktu, bukan
tempat. Artinya, Hari Arafah bisa saja berbeda di satu tempat dengan tempat yang
lainnya.
Para jemaah haji bisa saja berdiri di Bukit Arafah pada hari Jumat,
misalnya, tetapi hari itu bisa saja bukan Hari Arafah di negara lain. Bisa saja
Hari Arafah di negara lain jatuh di hari Sabtu, karena bulan di Mekah dimulai lebih
dulu daripada di negara lain tersebut.
Jadi jika mereka berpuasa di Hari Jumat, mereka pada sesungguhnya tidak
sedang melakukan Puasa Hari Arafah. Sunah Puasa Hari Arafah, dalam kasus ini,
adalah di Hari Sabtu.
Jadi, yang dipertimbangkan adalah waktu di masing-masing negara, bukan
tempat yang disebut Arafah, atau bukan waktu di negara yang di dalamnya para
jemaah haji wukuf di Arafah.
Wallahu’alam.
Fatwa No: 91940
Tanggal: 25 Rabiul Awal
1427 (23 April 2006)
Sumber: IslamWeb.Net
Penerjemah: Irfan
Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)
niat puasa arafah dan tarwiyah, baca niat puasa tarwiyah dan arafah, apa
makna puasa arafah, fiqih puasa arafah, puasa arafah rumaysho, perbedaan puasa
arafah dan tarwiyah, bahasa arab puasa arafah, pengertian puasa arafah, syarat
sah puasa arafah, cara mengerjakan puasa arafah