Ust. Eman Badru Tamam

Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah bin Mas’ud radiyallahuanhu
katanya: “Seakan-akan saya melihat kepada Rasulullah salallahu alaihi
wasallam sedang  menceriterakan tentang seorang Nabi dari sekian banyak
Nabi-nabi shalawatuliah wa salamuhu ‘alaihim. Beliau dipukuli oleh
kaumnya, sehingga menyebabkan keluar darahnya dan Nabi tersebut mengusap
darah dari wajahnya sambil mengucapkan: “Ya Allah ampunilah kaum hamba
itu, sebab mereka itu memang tidak mengerti.” (Muttafaq ‘alaih).

Hadist ini mengandung pelajaran bahwa siapapun yang menjalankan
tugas dakwah, pasti akan diberi ujian, akan diberi cobaan, termasuk para
Nabi dan Rasul.

Hal ini merupakan sebuah sunatullah dimana
kronologi dari tugas dakwah bisa digambarkan seperti berikut: dimulai
dengan belajar, kemudian ilmu tersebut diamalkan, setelah ilmu tersebut
diamalkan maka harus ditindaklanjuti dengan dakwah, dan bersabar di atas
jalan dakwah sesuai urutan seperti tersebut di atas.

Salah satu bentuk sabar dalam tugas dakwah adalah bersabar atas penolakan, cacian, umpatan dan pertentangan dari masyarakat.

Hal
tersebut persis seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad salallahu
‘alaihi wasallam dimana beliau menuturkan bahwa para nabi terdahulu pun
juga dilempari batu oleh kaumnya dan mereka bersabar, dengan mengusap
wajah mereka dan justru mendoakan mereka dengan sebuah doa yang mulia,
“Ya Allah… Ampunilah kaum hamba itu, sebab mereka itu memang tidak
mengerti.”

Ada indikasi bahwa yang dimaksud dengan para nabi dalam redaksi hadist tersebut adalah Nabi Muhammad itu sendiri.

Hal ini diketahui ketika melihat ujian beliau ketika harus dilempari oleh penduduk Thaif hingga beliau berdarah.

Namun
beliau tidak marah, dan menaruh dendam terhadap penduduk Thaif, padahal
Malaikat Jibril telah bersedia untuk menimpakan Gunung Uhud kepada kaum
tersebut.

Sikap yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul seperti dalam hadist tersebut bisa dikatakan sebagai puncak kesabaran.

Bagaimana
tidak, umumnya manusia akan marah jika ia dipukul karena urusan dunia.
Rasul dan para nabi dipukul bukan lantaran urusan dunia, melainkan
urusan dakwah yang dilakukan tanpa pamrih apa pun.

Dan beliau
tidak menaruh dendam dan tidak marah atas sikap mereka. Maka salah satu
pelajaran yang bisa diambil dari hadist di atas adalah hendaknya seorang
Mukmin, terkhusus juru dakwah, tidak mendendam dan bersabar di atas
jalan dakwah.

Namun juga perlu diingat bahwa kesabaran ada
batasnya. Jika pertama kali kita dipukul oleh seseorang lantaran dakwah
kita, maka dalam hal tersebut sabar adalah lebih baik. Dengan harapan
bahwa sang pemukul tersebut akan menyadari bahwa ia melakukan kesalahan.

Namun
jika hal tersebut berulan-ulang, maka bisa disimpulkan bahwa sang
pemukul tadi tidak bisa mengambil pelajaran dari sikap sabar kita. Di
sini kita kemudian tidak boleh tinggal diam.

Ada pun juga
kesabaran seperti ini tidak berlaku jika objek dakwah melakukan
penghinaan terhadap Islam, dan menghujat Allah, Rasul, dan Syariat
Islam. Maka kita tidak bisa tinggal diam dan bersabar terhadap hal
tersebut. Kita musti melakukan perlawanan semampu kita.

Perlu
diingat bahwa hadist tersebut di Mekkah, yakni fase dimana belum turun
ayat-ayat Jihad, atau perang, atau perlawanan secara fisik.

Selain
itu, fase Mekkah adalah dimana Rasulullah dan Islam belum memiliki
kekuatan yang memadai seperti ketika fase Madinah sehingga justru akan
menimbulkan kemudharatan jika melakukan perlawanan ketika umat belum
memiliki kekuatan yang memadai.

Hikmah Di Balik Ujian Yang Diberikan Allah Kepada Hamba Yang Dicintai-Nya
Perlu
diketahu bahwa ujian bukan semata diberika kepada mereka yang dzhalim
dan memusuhi Islam. Allah juga menurunkan ujian kepada orang-orang yang
Ia sayangi dan kasihi, termasuk di dalamnya para Nabi dan Rasul.

Ada
hikmah di balik ujian yang diturunkan oleh Allah kepada orang-orang
yang dicintai Allah, termasuk di dalamnya para Nabi dan Rasul.
1. Ujian diberikan untuk mengangkat derajat mereka
2. Ujian diturunkan agar menghapus dosa mereka (jika ada)

Tentu
saja hikmah yang kedua tidak berlaku untuk para Nabi dan Rasul,
terutama Rasulullah Muhammad isalallahu ‘alaihi wasalam. Maka ujian yang
diberikan oleh Allah kepada para Rasul adalah bertujuan untuk
mengangkat derajat para nabi dan Rasul.

Hikmah ujian yang nomor
dua, bisa saja berlaku pada para juru dakwah. Bisa jadi ujian tersebut
sebagai penghapus dosa mereka juru dakwah yang kurang ikhlas dalam
berdakwah, atau sebab dosa yang lain. Wallahu ‘alam bish shawab.