Di suatu grup
Whatsapp, seorang ikhwan mengirim artikel singkat tentang lelucon “islami.” Ada
yang tertawa, ada yang mengirim “jempol,” ada pula yang menanyakan kesahihan
cerita tersebut.

Dari sinilah perbincangan
di grup tersebut menjadi ramai. Ada yang setuju dengan pertanyaan di atas, ada
pula yang berkilah, “Apa salahnya? Selama niat si penulis baik, in sya Allah
tidak masalah, kan?
Meski tidak seluruhnya bertentangan dengan syariat, tetapi yang menjadi rancu adalah pemakaian kisah yang belum
tentu “sahih” untuk keperluan dakwah.
Saya sendiri belum
mengetahui hukumnya, serta perbedaan di kalangan ulama tentang hal tersebut, tetapi menurut kami
pribadi, ada yang janggal dengan ungkapan semisal, “Selama niat si penulis
baik, in sya Allah tidak masalah, kan?
Ungkapan seperti ini sering dipakai oleh
mereka yang membuat inovasi dalam peribadatan. Bisa saja niat mereka baik, niat
mereka ikhlas karena Allah, tetapi caranya yang kadang menyimpang dari tuntunan
sunnah yang sahih.
Coba tanyakan kepada mereka, “Kenapa berbuat
demikian, Mas
?” Niscaya sebagian ada yang menjawab, “Kan niatnya baik, Mas?
Emang salah
?”
Padahal, Allah meminta
dua syarat dalam peribadatan, satu ikhlas karena Allah, dua benar tuntunannya
dari Nabi Muhammad
.
Coba, mari kita
renungkan kembali firman Allah :
بَلَىٰۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ
مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ
يَحۡزَنُونَ ١١٢
(Tidak
demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia
berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati
,” (QS Al-Baqarah: 112).
Yang dimaksud dengan, أسلم وجهه لله adalah mengikhlaskan niat,
semata untuk Allah
, tanpa ada upaya untuk menyekutukannya, sedangkan وهو محسن berarti
mengikuti tuntutan Nabi
dalam pelaksanaannya.
Jika kita rujuk ungkapan di atas dengan dua
syarat diterimanya ibadah di atas, maka benar bahwa si penulis telah memenuhi
syarat pertama, yaitu niat yang baik karena Allah
. Akan tetapi, bagaimana
dengan syarat kedua?
Di sinilah letak permasalahannya. Perlu
dikaji ulang, apakah cerita itu sahih, atau rekayasa? Jika memang sahih, maka
itu baik, lalu bagaimana jika kisah itu hanya rekayasa?
Mari kita ingat kembali ajaran Rasulullah
tentang kaidah bercanda. Kala itu beliau bercanda dengan
para sahabat, termasuk Abu Hurairah Radhiyallahuanhu. Mereka berkata, “Ya
Rasulullah, Anda telah mencandai kami!”
Maka beliau bersabda:
إني
لا أقول إلا حقا
“Sesungguhnya
aku, tidak akan berkata kecuali yang benar,
” (HR Bukhari dalam Shahih Adabul Mufrad:
200/265
).
Ada pula kisah candaan beliau
lainnya, yakni ketika beliau dimintai tunggangan, beliau mempersilakan orang
yang meminta tunggangan tadi dengan menaiki unta beliau

sembari bersabda:
أنا
حاملك على ولد ناقة
“’Saya
menaikkanmu di atas anak unta betina!”
Orang itu
keheranan. Ia mengira bahwa dirinya akan menunggangi seekor unta kecil yang
masih “anak-anak”. Wajar jika kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang
bisa saya lakukan dengan seekor anak unta betina
?”
Maka
Rasulullah
menjawab:
وهل
تلد الإبل إلا النوق
“Emang ada unta yang melahirkan selain anak unta?” (HR
Bukhari dalam Sahih Adabul Mufrad: 202/268
).
Para sahabat pun juga bercanda. Bakar bin Abdullah berkata,
“Para sahabat Nabi
pernah saling melempar semangka. Padahal, mereka
adalah tokoh,” (HR Bukhari dalam Sahih Adabul Mufrad: 201/206).
Abu Darda Radhiyallahuanhu berkata,
اللَّهْوُ
فِي ثَلاَثٍ: تَأْدِيبِ فَرَسِكَ وَرَمْيِكَ بِقَوْسِكَ وَمُلاَعَبَتِكَ أَهْلَكَ
Permainan
ada pada tiga hal; melatih kudamu; memanah dengan busurmu; bercanda dengan
istrimu
,” (dalam Al-Qurab fi Fadhlir Ramyi, dan dinilai sahih oleh Syeikh
Al-Albani dalam Shahih Jami Ash-Shaghir: 5498).
Iya, kan? Meski Rasulullah bercanda, dan para sahabat pun juga bercanda, tetapi
candaan mereka tidak mengandung dusta. Islam itu agama yang sempurna, sehingga
urusan bercanda pun ada aturan “fikihnya.”
Akan tetapi, tulisan ini juga bukan penegasan bahwa
kami adalah ahli fikih. Seperti yang kami sampaikan di atas, kami belum
mengetahui tentang bolehnya menyampaikan kisah “maudhu” (palsu) untuk kepentingan
dakwah. Kiranya ada pembaca yang mengetahuinya, silakan berkomentar santun di
bawah ini.
Akhukum fillah,

Irfan Nugroho