Pertanyaan: Istri saya selingkuh. Dia memiliki hubungan dengan lelaki lain. Dia ingin meninggalkan saya demi pria tersebut. Kami memiliki dua orang anak. Saya sudah pernah memberinya kesempatan untuk mengakhiri hubungan tersebut, tetapi dia tidak bisa meninggalkannya. Apakah saya harus menceraikan istri saya? Atau, apakah saya harus menemui pria tersebut dan berusaha menyakinkan dia agar tidak meracuni kehidupan keluarga kami. Saya pikir ini tindakan yang gegabah, tetapi paling tidak saya bisa sedikit puas. Saya sudah berusaha melakukan berbagai cara sebelum mencapai keputusan final ini. Mohon nasihatnya. Apakah saya boleh menemui pria tersebut atau saya cukup menceraikan istri saya? Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

Jawaban oleh Tim Fatwa Asy-Syabakah Al-Islamiyah, Diketuai oleh Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti hafizahullah

Segala puji hanya milik Allah, Rab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusanNya.

Sikap Suami kepada Istri yang Selingkuh

Jika istri Anda selingkuh, memiliki hubungan dengan lelaki non-mahram, maka jelas ini adalah masalah yang sangat serius. Dengan berbuat seperti itu, istri Anda telah durhaka kepada Allah dan telah mengabaikan hak Anda sebagai suami.

Perkara yang sangat serius ini menuntut Anda sebagai suami untuk memiliki rasa cemburu. Suami harus bersikap tegas dan tidak boleh menghadapi perkara ini dengan sikap masa bodoh atau cuek. Orang yang beriman harus memiliki rasa cemburu, ghirah, atas kehormatannya, serta harus memiliki posisi yang kuat dan tidak boleh lemah hingga orang lain berani seenaknya sendiri berbuat apa-apa terhadap dirinya.

Pertama, kami nasihati Anda untuk berdoa kepada Allah, agar Allah menjadikan istri Anda mendapat hidayah lalu bertaubat. Hati manusia senantiasa di antara Tangan Allah. Allah yang membolak-balikkan hati manusia sesuai kehendakNya.

Kedua, Anda harus bersikap tegas kepada istri Anda, tetapi sikap tersebut harus diikuti dengan memberi nasihat kepadanya dengan cara yang lembut. Ingat, istri Anda adalah amanat bagi Anda, jadi Anda harus membimbing dia kepada kebaikan dan ketakwaan, serta menjaganya dari menuruti hawa nafsu yang buruk dan apa-apa yang bisa mengarah pada perbuatan menuruti hawa nafsu yang buruk tadi.

Allah ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS At Tahrim: 6).

Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam tafsirnya:

وِقَايَةُ الْأَهْلِ وَالْأَوْلَادِ ، بِتَأْدِيبِهِمْ وَتَعْلِيمِهِمْ، وَإِجْبَارِهِمْ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، فَلَا يَسْلَمُ الْعَبْدُ إِلَّا إِذَا قَامَ بِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ فِي نَفْسِهِ، وَفِيمَنْ تَحْتَ وِلَايَتِهِ مِنَ الزَّوْجَاتِ وَالْأَوْلَادِ وَغَيْرِهِمْ مِمَّنْ هُوَ تَحْتَ وِلَايَتِهِ وَتَصَرُّفِهِ

“Menjaga istri dan anak-anak dengan cara mendidik mereka, mengajari mereka, serta memaksa mereka untuk menunaikan perintah-perintah Allah. Seorang hamba tidak akan selamat hingga menunaikan perintah Allah terhadap dirinya sendiri dan orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya seperti istri dan anak, serta yang lainnya yang berada di bawah kekuasaannya.”

Jika istri Anda tidak merespons setelah diberi nasihat, hendaknya Anda memboikot dia di ranjang, tidak berhubungan badan dan tidak ngomong apa-apa di ranjang. (Tambahan penerjemah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid mengatakan boleh memboikot istri di ranjang dan mendiamkannya tanpa batas waktu, yaitu sampai istri bertaubat – Fatwa No: 218686).

Jika dia tidak bergeming, ancam dia bahwa Anda akan memberi tahu keluarga istri tentang hal tersebut, yaitu perselingkuhan istri Anda dengan orang lain.

Jika diancam seperti itu dia tidak menggubris, laporkan kepada keluarganya. Bukan lagi sekadar ancaman. Dengan demikian, semoga keluarga istri Anda bisa mengambil sikap tegas kepadanya.

Tetapi jika hal-hal di atas sudah Anda lakukan dan dia terus menjalin hubungan terlarang itu, maka itu artinya sudah tidak ada lagi kebaikan bagi Anda untuk mempertahankan dia sebagai istri. Ceraikan dia. Atau jika Anda mau, ketika dia mengajukan cerai, Anda berhak untuk menahan permintaan cerainya sampai dia membayar tebusan atas dirinya.

Hukum Menceraikan Istri Selingkuh

Anda sama sekali tidak zalim kepada istri Anda dengan menceraikannya. Sebaliknya, menceraikan dia karena sikap durhakanya dia kepada Allah dan kepada Anda adalah mandub hukumnya, atau sunnah.

Ibnu Qudamah berkata ketika menjelaskan masalah hukum cerai:

وَالرَّابِعُ ، مَنْدُوبٌ إلَيْهِ ، وَهُوَ عِنْد تَفْرِيطِ الْمَرْأَةِ فِي حُقُوقِ اللَّهِ الْوَاجِبَةِ عَلَيْهَا ، مِثْلُ الصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا ، وَلَا يُمْكِنُهُ إجْبَارُهَا عَلَيْهَا ، أَوْ تَكُونُ لَهُ امْرَأَةٌ غَيْرُ عَفِيفَةٍ

“Hukum cerai yang keempat adalah mandub (disukai), yakni ketika istri meremehkan hak-hak Allah yang telah diwajibkan atas sang istri, seperti salat dan yang semisal, serta sang istri tidak mau dipaksa oleh sang suami untuk menjalankan kewajibannya tadi, atau jika sang istri tidak bisa menjaga kesuciannya…” (Al-Mughni: 7/277).

Sikap Suami kepada Pria Selingkuhan Istri

Tentang laki-laki tadi, jika Anda merasa ada manfaat dari menemuinya dan berbicara kepadanya, maka beri dia nasihat dan bersikaplah kepadanya dengan sikap yang tegas. Ingatkan dia agar takut kepada Allah dan hukumanNya yang berat.

Sampaikan kepadanya bahwa apa yang dia lakukan itu termasuk takhbib, atau upaya memengaruhi istri orang agar istri tadi membeci suaminya, serta ancaman yang keras tentang takhbib ini seperti yang disebutkan di dalam hadis nabi.

Tambahan penerjemah:

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud).

Dalam hadits lain riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad). Akhir tambahan

Jika perlu, Anda bisa saja mengancam dia dengan akan melaporkan hal ini kepada pihak berwenang, atau benar-benar melaporkannya.

(Tambahan penerjemah: Tentu setelah melakukan upaya-upaya perbaikan pada pihak istri dan jika laki-laki tadi tidak mempan diberi nasihat. Juga jika masalah seperti ini bisa diproses laporannya oleh penegak hukum, misal di Indonesia yang tidak memakai hukum Islam, apa laporan kasus seperti ini ada deliknya atau apakah aparatnya sudi memproses laporan ini atau tidak).

Meremehkan perkara seperti ini, baik di pihak istri, suami, atau bahkan keduanya, adalah sebab atas apa yang terjadi seperti sekarang ini. Jadi, Anda harus sadar akan hal ini. Suami harus benar-benar mendidik keluarganya dalam kebaikan, dalam iman. Dia harus menjadi contoh bagi mereka dalam hal ini. Anda harus berdoa kepada Allah sebanyak mungkin dengan doa-doa seperti yang disebutkan di dalam Quran:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yuniw waj’alnā lil-muttaqīna imāmā

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS Al-Furqan 74).

Wallahu’alam bish shawwab

Fatwa No: 350365

Tanggal: 14 November 2017 (25 Safar 1439)

Sumber: Asy-Syabakah Al-Islamiyah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)