Oleh Ziyad
Abu Irsyad

Dunia dan segala macamnya memang jika dilihat secara kasat
mata seakan begitu enak dinikmati. Memiliki rumah megah dengan segala fasilitasnya,
seperti AC, kolam renang
pribadi, pembantu, taman dan semua perabotan mewah dan canggih, memiliki mobil
mewah dan mahal, yang spionnya saja bisa berharga jutaan, istri cantik jelita,
dan banyak hal lainnya, bisa jadi
merupakan tolak ukur kebahagiaan dan kesuksesan bagi sebagian kita
.
Namun yang perlu
kita
ketahui, semua hal duniawi
adalah
tipuan belaka, yang menikmati hanyalah fisik dan raganya, tidak dengan jiwa dan hatinya. Ya,
orang Jawa menyebutnya “wang sinawang atau saling memandang satu sama lain.
Seorang direktur dari dalam mobilnya melihat tukang becak
yang sedang terlelap tidur di atas becaknya, di tengah-tengah keramaian lalu lintas yang bising tanpa merasa
terganggu seakan meledek dirinya yang sekedar untuk tidur sejenak di mobilnya
yang ber-AC saja begitu sulit karena memikirkan
hutang perusahaan atau menghadapi berbagai saingan dan lain sebagainya.
Begitu juga suatu saat seorang tukang becak yang sedang
menanti pelanggang melihat ke sebuah mobil di mana seorang direktur
sedang duduk menikmati AC mobil
tanpa berkeringat dan kebisingan. Padahal, kedua
tokoh di atas
sama-sama merasakan
iri terhadap satu dengan yang lainnya. Keduanya sama-sama melihat orang lain
tengah hidup begitu nikmat, meski
yang berbeda adalah penilaiannya.
Jadi,
dunia itu sebenarnya menipu, nampak begitu hijau
menyegarkan dan enak untuk dinikmat, persis seperti sebuah hadits;
عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى
الله عليه وسلم قال إن الدنيا حلوة خضرة وإن الله مستخلفكم فيها فينظر كيف تعملون فاتقوا
الدنيا واتقوا النساء فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت
في النساء  (314)رواه مسلم.
Dari Abu Said al khudri dari Nabi Shallahu ‘Alaihi
Wasallam, ia
berkata, Sesungguhnya
dunia itu hijau dan manis dan sesungguhnya Allah menghamparkannya untuk kalian
lalu melihat apa yang kalian kerjakan, maka takutlah kalian dengan dunia dan
takutlah kalian dengan wanita, sesungguhnya awal fitnah pada bani israil adalah
tentang wanita
,(HR. Muslim).
Di dalam
hadits ini, dunia digambarkan
seakan manis dan hijau. Lalu beliau Shallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan
kita untuk berhati-hati dan takut terhadap
fitnah dunia dan disebutnya
fitnah wanita karena wanita
juga termasuk ke dalam nikmat
dunia karena besarnya fitnah wanita bagi laki-laki.
Takutlah kita akan tipu daya dunia, karena ia akan menyeret
kita dan memperdaya kita ke dalam kubangan nafsu syahwat terhadapnya, wanita,
harta, tahta, anak-anak, status sosial dan lain sebagainya. Allah berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga),” (QS Ali Imran: 14).
Dunia dijadikan indah bagi manusia agar manusia tertarik
dengannya, agar kita terlena dan tertipu dengan kemilauannya, padahal semua itu hanyalah kenikmatan yang sifatnya hanya sementara belaka. Mengapa dunia menipu kita?
Karena nikmat dunia itu begitu fana, merrusak
dan tak abadi, anak akan menjadi dewasa dan kadang menjadi pembangkang, istri yang
cantik akan mengeriput dan tua renta, badan yang sehat akan lemah tak berdaya,
harta akan hilang meski belum sempat untuk dinikmati,
mobil, rumah
dan lain sebagainya sebagus dan seindah apapun itu, sudah pasti akan rusak dan menjadi peninggalan. Semua yang ada
di dunia ini akan fana atau rusak.
Karena juga nikmat dunia ini kita mendapatkannya dengan
susah payah, kerja keras tanpa henti menguras tenaga dan pikiran kita, lalu
menjaganya pun dengan susah payah, khawatir dirampok, hilang, dimintai orang,
rusak dan lain sebagainya, namun belum tentu kita menikmatinya justru semakin
banyak harta semakin kita lelah menjaganya.
Karena juga nikmat dunia menjadikan kita lupa dengan nikmat
akhirat, menjadikan kita
berbuat maksiat dan menjauhi taat, dan inilah sebenar-benar orang yang tertipu.
Dan karena
juga nikmat dunia itu bersifat sementara,
sedikit dan hina. Janganlah kita,
janganlah dunia ini menipu kita dari tujuan akhirat. Mahabenar Allah yang berfirman;
Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan
,” (QS. Ali Imran; 185).
Memperdaya diri
kita
dari mencintai akhirat, memperdaya diri kita dari menjalankan ketaatan, memperdaya
diri kita agar lupa dengan
kampung akhirat, memperdaya
diri kita seakan kita akan hidup selamanya,
memperdaya diri kita sehingga
kita berani berbuat maksiat
dan hal-hal yang diharamkan. Waspadalah… waspadalah….