SUBSCRIBE GRATIS:

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Saya ada satu pertanyaan tentang situasi pernikahan saya yang sangat parah. Suami saya keluar sepanjang malam bersama temannya. Dia pulang ke rumah sekitar jam 4 atau 5 di pagi hari. Habis itu dia minum obat tidur lalu tidur sepanjang siang.

Saya tidak suka hal ini. Saya bilang ke dia, tetapi dia cuek. Dia terus melakukannya. Hal ini jelas membuat saya kesepian di malam dan siang hari karena dia tidak pernah ada waktu untuk bersama kami.

Dia tidur sampai jam 4 atau 5 sore. Saya yang antar anak ke sekolah, dan butuh 40 menit pulang pergi ke sekolah. Saya yang masak. Saya yang beres-beres rumah. Saya yang belanja makanan. Dan jelas ini berat sekali.

Saya yang mendampingi anak mengerjakan PR. Saya yang antar dia berangkat dan pulang ke masjid. Saya yang ajak anak-anak bermain. Saya yang mendidik mereka. Menghabiskan waktu bersama mereka, sedang suami tidak melakukan apa-apa kecuali menjalani hidup seperti bujangan yang tidak punya tanggung jawab.

Kadang saya dan anak-anak harus pergi ke sekolah ketika hujan. Padahal suami di rumah tidur sepanjang hari.

Pekan lalu, saya sakit dan harus ke dokter. Itu pun dia tidak mau mengantar saya. Padahal kalau dia mau antar naik mobil, hanya butuh waktu 30 menit berangkat dan pulang. Tetapi waktu itu habis 4 jam dengan naik bus dan pulang dalam keadaan basah karena hujan. Kami tinggal di Inggris dan di sini sering hujan.

Saya pulang ke rumah dan mendapati rumah dalam keadaan berantakan. Dia taruh apa-apa sembarangan. Kotor di mana-mana.

Saya pernah pergi keluar negeri beberapa pekan yang lalu. Ketika saya pulang, saya harus membersihkan rumah, dan butuh waktu hampir satu pekan untuk memberesinya. Mengapa? Karena dia cuman melempar apa-apa sembarangan, baju sembarangan, lalu piring dan gelas bekas dia tidak dicuci, hanya ditumpuk di wastafel.

Situasi ini bikin saya jengkel. Saya merasa bukan seperti istri. Saya seperti babu, tidak lebih. Dia tidak pernah punya waktu untuk saya, apalagi jalan-jalan. Saya selalu sendiri, atau bersama anak-anak.

Jawaban oleh Tim Fatwa Asy-Syabakah Al-Islamiya, diketuai oleh Syaikh Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqitti hafizahullah

Segala puji hanya milik Allah, Rab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Pertama-tama, kami memohon kepada Allah agar mengangkat masalah Anda, memberi Anda jalan keluar atas segala kesusahan Anda, serta memperbaiki perilaku suami Anda. Kami memohon kepada Allah agar menganugerahi Anda sifat sabar atas perilaku suami Anda, karena buah dari sifat sabar sangatlah besar.

Tidak diragukan lagi bahwa perilaku suami ini sangat keliru – jika memang begitu keadaannya. Hal ini bertentangan dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala agar seorang suami menjaga keharmonisan hubungan pernikahan dengan sang istri.

Interaksi Suami Istri dalam Keluarga

Allah berfirman:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

wa ‘āsyirụhunna bil-ma’rụf, fa ing karihtumụhunna fa ‘asā an takrahụ syai`aw wa yaj’alallāhu fīhi khairang kaṡīrā

“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya,” (QS An Nisa 19).

Menjelaskan ayat tersebut, Imam Al-Jashaash Rahimahullah di dalam kitabnya Ahkamul Quran berkata:

“Ayat ini adalah perintah kepada suami untuk bergaul dengan istri-istri mereka dengan baik. Kebaikan di sini termasuk mencukupi hak-haknya, seperti memberinya perhiasan, menafkahinya, adil dalam pembagian jadwal bermalam (di antara istri-istri), tidak berbuat zalim pada mereka dengan kata-kata yang kasar, tidak meninggalkan mereka, tidak condong pada istri-istri yang lain daripada satu istri tertentu, tidak cemberut, jutek atau cuek pada mereka tanpa alasan, dan lain sebagainya. Ini mirip dengan firman Allah:

فَاِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌۢ بِاِحْسَانٍ ۗ

fa imsākum bima’rụfin au tasrīḥum bi`iḥsān,

“(Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik,” (QS Al Baqarah 229).

Akhir kutipan dari Ahkamul Quran Lil Jashaash

Arti Berkeluarga

Sepertinya suami Anda tidak paham betul makna yang sesungguhnya dari kehidupan setelah menikah, yaitu rasa cinta, kasih sayang, saling menghormati, saling memahami, solidaritas, dan bekerja sama.

Suami Anda punya suri teladan terbaik, yaitu Rasulullah . Beliau pernah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرَكُمْ لأهلِهِ وأنا خَيْرُكُمْ لأهلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik pada keluargaku,” (Sunan At-Tirmizi: 3895).

Beginilah Nabi terhadap istri-istri beliau. Beliau terbiasa duduk, berkomunikasi dengan istri-istri beliau, berkasih sayang kepada mereka, serta membantu mereka dalam mengerjakan urusan rumah tangga.

Aisyah Radhiyallahuanha pernah ditanya, “Apa yang Rasulullah biasa lakukan di rumahnya?” Lalu Ibunda Aisyah berkata:

كَانَ يُرَقِّعُ الثَّوْبَ وَيَخْصِفُ النَّعْلَ أَوْ نَحْوَ هَذَا

“Beliau menambal bajunya, mengesol sandalnya, atau yang semisalnya,” [Musnad Ahmad: 26048].

 

BACA JUGA: Penjelasan Hadis Sebaik-baik Kalian adalah yang Paling Baik pada Keluarganya

 

Pembagian Pekerjaan antara Suami – Istri

Bekerja di luar rumah adalah tugas suami. Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Ali dan Fatimah Radhiyallahuanhum. Ibnul Qayyim Rahimahullah menulis di dalam kitabnya Zaadul Ma’ad “Bab Perintah Rasul tentang Istri yang Melayani Suaminya:”

“Ibnu Habib berkata di dalam Al-Wadhihah bahwa Rasulullah memutuskan antara Ali dan istrinya Fatimah ketika mereka mengeluh tentang Fatimah yang kecapekan akibat mengurusi rumah. Maka Rasulullah memutuskan agar Fatimah bekerja mengurusi rumah, bekerja di rumah, lalu Ali melakukan pekerjaan yang wajar, yaitu pekerjaan yang dilakukan di luar rumah. Kemudian Ibnu Habib berkata, ‘Pekerjaan dalam rumah mencakup pekerjaan seperti membuat adonan roti, memasak, merapikan ranjang, menyapu, dan membersihkan rumah, mengisi air, dan yang semisalnya.” Akhir kutipan

 

Langkah Praktis

Kami menasihati Anda untuk berdoa kepada Allah, karena hanya Allah yang bisa mengubah sikap suami Anda, karena Allah adalah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Coba nasihati dia dengan cara yang paling baik, sesuai dengan apa yang kami jelaskan di atas. Atau, coba minta tolong kepada teman dekatnya – jika perlu, karena nasihat dari teman dekat biasanya bisa memberi pengaruh. Jika hal ini terwujud, alhamdulillah. Kalau tidak, Anda punya hak untuk membawa masalah ini ke orang-orang yang berkompeten di pusat-pusat keislaman, Islamic Center, lembaga dakwah, atau yang semisal. Jika menurut Anda hal itu ada gunanya, semoga mereka bisa membantu mengatasi masalah Anda.

Wallahu’alam bish shawwab.

 

Fatwa No: 389404

Tanggal: 1 Januari 2019 (24 Rabiul Akhir 1440)

Sumber: Asy-Syabakah Al-Islamiyah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)