Pembaca situs mukminun.com yang semoga dirahmati Allah, belum lama ini kita dapati Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Bu Risma) melakukan sujud kepada manusia, dalam hal ini pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Padahal ingat, sujud dalam Islam adalah tindakan yang sangat penting. Itulah mengapa kali ini kita akan membahas, apakah sujud kepada selain Allah termasuk syirik atau kekafiran?

Menjawab pertanyaan ini, kami ketengahkan fatwa seorang ulama dari Arab Saudi, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid, karena Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Ilmu itu agama, maka perhatikan dari siapa kalian mengambilnya.” Semoga pembaca tidak tersesat jika mendapati pembahasan serupa dari situs lain yang tidak kredibel. Teruskan membaca:

Pertanyaan:

Saya membaca di suatu situs bahwa sujud kepada selain Allah, jika dilakukan sebagai penghormatan, maka hal itu merupakan suatu bentuk kekafiran atau kesyirikan, karena sujud adalah bentuk ibadah dan tidak boleh diarahkan kepada selain Allah. Apakah ini benar?

Jawaban:

Alhamdulillah. Sujud dan rukuk ada dua macam:

1. Sujud Ibadah

Ini adalah jenis sujud yang dilakukan untuk menunjukkan kerendahan, ketundukan, dan peribadatan, dan tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Siapa saja yang sujud kepada selain Allah dengan niat menghamba (beribadah), maka dia telah melakukan salah satu bentuk syirik akbar.

2. Sujud penghormatan

Ini adalah jenis sujud yang dilakukan untuk menunjukkan penghormatan kepada seseorang yang kepadanya sujud itu dilakukan. Jenis sujud seperti ini perah dibolehkan dalam beberapa syariat yang dibawa oleh para nabi sebelum Islam (sebelum Nabi Muhammad ﷺ), tetapi kemudian dilarang oleh agama Islam. Jadi, siapa saja yang sujud kepada makhluk sebagai bentuk penghormatan, maka dia telah melakukan perbuatan yang terlarang. Meski demikian, pelakunya tidak otomatis jatuh ke dalam kesyirikan atau kekafiran.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah tentang sujud kepada selain Allah:

السُّجُودُ عَلَى ضَرْبَيْنِ : سُجُودُ عِبَادَةٍ مَحْضَةٍ ، وَسُجُودُ تَشْرِيفٍ ، فَأَمَّا الْأَوَّلُ فَلَا يَكُونُ إلَّا لِلَّهِ

“Sujud ada dua macam, sujud ibadah mahdhah, dan sujud penghormatan. Jenis yang pertama hanya tidak boleh diarahkan kecuali kepada Allah saja.”[i]

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى: أَنَّ السُّجُودَ لِغَيْرِ اللَّهِ مُحَرَّمٌ

“Dan umat Islam telah ijma (sepakat) bahwa sujud kepada selain Allah hukumnya haram.”[ii]

Beliau juga berkata:

فإن نصوص السنة ، وإجماع الأمة : تُحرِّم السجودَ لغير الله في شريعتنا ، تحيةً أو عبادةً ، كنهيه لمعاذ بن جبل أن يسجد لما قدمَ من الشام وسجدَ له سجود تحية

“Nas-nas yang terdapat dalam As-Sunnah, juga kesepakatan umat Islam, menunjukkan bahwa sujud kepada selain Allah hukumnya haram menurut syariat kita, baik itu sujud penghormatan atau sujud ibadah. Seperti dulu Nabi ﷺ pernah melarang Muadz bin Jabbal agar tidak bersujud  ketika beliau datang dari Syam dan bersujud kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi.”[iii]

Imam Al-Qurtubi tentang sujud kepada selain Allah

وَهَذَا السُّجُودُ الْمَنْهِيُّ عَنْهُ : قَدِ اتَّخَذَهُ جُهَّالُ الْمُتَصَوِّفَةِ عَادَةً فِي سَمَاعِهِمْ، وَعِنْدَ دُخُولِهِمْ عَلَى مَشَايِخِهِمْ وَاسْتِغْفَارِهِمْ ، فَيُرَى الْوَاحِدُ مِنْهُمْ إِذَا أَخَذَهُ الْحَالُ ـ بِزَعْمِهِ ـ يَسْجُدُ لِلْأَقْدَامِ ، لِجَهْلِهِ ؛ سَوَاءٌ أَكَانَ لِلْقِبْلَةِ أَمْ غَيْرِهَا ، جَهَالَةً مِنْهُ ، ضَلَّ سَعْيُهُمْ وَخَابَ عَمَلُهُمْ

“Sujud yang terlarang itu dijadikan suatu kebiasaan oleh orang-orang bodoh dari kalangan sufi ketika mereka mendengarkan dan menemui syaikh mereka, serta istighfar mereka. Salah seorang dari mereka mengaku bahwa jika kondisi menghendaki, maka dia bersujud ke telapak kaki (syaikh mereka), baik sujud ini menghadap kiblat atau yang lainnya. Sungguh, telah sesat jalan mereka dan sia-sialah perbuatan mereka.”[iv]

Sujud kepada selain Allah adalah Kesyirikan

Tentang pendapat bahwa sujud kepada selain Allah adalah mutlak (otomatis) syirik, karena sujud adalah amal ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, ini adalah pendapat yang lemah. Ada 6 alasan yang mendasarinya:

1. Sujudnya malaikat kepada Adam

Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam. Jika semata-mata sujud adalah suatu kesyirikan, tentu Allah tidak akan menyuruh mereka melakukannya.

Menjelaskan firman Allah Surat Al Hijr 29, Imam At-Tabari berkata, “Sujud di sini maksudnya sujud penghormatan, bukan sujud ibadah.”

Ibnul Arabi berkata, “Umat ini sepakat bahwa sujudnya malaikat kepada Adam bukanlah sujud ibadah.”[v]

Ibnu Hazm Az-Zahiri berkata:

وَلَا خلاف بَين أحد من أهل الْإِسْلَام فِي أَن سجودهم لله تَعَالَى سُجُود عبَادَة ، ولآدم سُجُود تَحِيَّة وإكرام

“Tidak ada perbedaan di antara pemeluk agama Islam bahwa sujud mereka kepada Allah ta’ala adalah sujud ibadah, dan bukan merupakan sujud penghormatan atau pemuliaan.”[vi]

2. Sujudnya Yaqub dan Anak-anaknya kepada Yusuf

Allah telah menjelaskan kepada kita tentang sujudnya Yaqub dan anak-anaknya kepada Yusuf alaihissalam. Jika itu kesyirikan, para nabi Allah tentu tidak akan melakukannya.

Kita tidak dapat mengatakan bahwa ini dulunya merupakan ajaran agama (syariat) sebelum kita, karena sejatinya, syirik tidak pernah diperbolehkan dalam ajaran semua nabi. Syariat dan syiar Tauhid tidak pernah berubah dari masa Nabi Adam sampai nabi kita Muhammad ﷺ.

At-Tabari mengutip penjelasan Ibnu Zaid tentang firman Allah, “…Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf,” yang berkata:

“Itu adalah sujud penghormatan atau pemuliaan, karena malaikat bersujud kepada Adam untuk menghormati Adab, bukan sujud ibadah. Tentang perkataan bahwa sujud mereka merupakan penghormatan di antara mereka, maka yang dimaksud adalah hal itu merupakan adat di kalangan mereka, dan bukan untuk saling menyembah. Yang mendukung pendapat ini adalah fakta bahwa adat ini terus dilakukan oleh manusia dalam waktu yang lama. Dan hal itu bukan merupakan bentuk saling beribadah.”[vii]

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

وَقَدْ كَانَ هَذَا سَائِغًا فِي شَرَائِعِهِمْ ؛ إِذَا سلَّموا عَلَى الْكَبِيرِ يَسْجُدُونَ لَهُ ، وَلَمْ يَزَلْ هَذَا جَائِزًا مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى شَرِيعَةِ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ ، فَحُرِّمَ هَذَا فِي هَذِهِ الْمِلَّةِ ، وجُعل السُّجُودُ مُخْتَصًّا بِجَنَابِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

“Hal ini masih diperbolehkan di dalam syariat mereka, bilamana memberikan salam penghormatan kepada orang besar, yakni boleh bersujud kepadanya. Hal ini diperbolehkan sejak zaman Nabi Adam sampai kepada syariat Nabi Isa alaihissalam. Kemudian dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ hal ini diharamkan, dan hanya dikhususkan kepada Allah Tuhan sekalian alam.”[viii]

Al-Qasimi berkata:

الذي لا شك فيه أنه لم يكن سجود عبادة ولا تذلل ، وإنما كان سجود كرامة فقط ؛ بلا شك

“Yang tidak diragukan lagi dalam perkara ini adalah bahwa tindakan tersebut bukan merupakan sujud ibadah, juga bukan sujud untuk menghinakan diri. Itu hanya semata sujud untuk memuliakan, tidak diragukan lagi.”

3. Sujudnya Muadz bin Jabal kepada Rasulullah ﷺ

Muadz bersujud kepada Nabi ﷺ ketika kembali dari Syam. Jika itu adalah kesyirikan, Rasulullah ﷺ pasti akan menjelaskannya kepada Muadz. Akan tetapi, yang banyak didapati dalam kejadian ini adalah bahwa beliau sekadar menjelaskan kepada Muadz bahwa sujud kepada Rasulullah ﷺ hukumnya tidak boleh.

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abi Aufa yang mengatakan bahwa ketika Muadz bin Jabal pulang dari negeri Syam, beliau bersujud kepada Nabi ﷺ. Lalu beliau bertanya, “Ini apa-apaan, Muadz?” Kemudian Muadz mengatakan bahwa dia pergi ke negeri Syam dan melihat mereka bersujud kepada rabi dan pendeta mereka, lalu aku ingin melakukannya kepada Anda.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ، لَأَمَرْتُ الزَّوْجَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظم حَقِّهِ عَلَيْهَا”

“Seandainya aku boleh memerintahkan kepada seseorang untuk bersujud kepada orang lain, tentu aku akan perintahkan kepada wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena hak suaminya atas dirinya sangatlah besar.”[ix]

Menanggapi hadis ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ لَمْ يَقُلْ: لَوْ كُنْت آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَعْبُدَ

Sudah diketahui bahwa beliau ﷺ TIDAK mengatakan, “Seandainya aku boleh memerintahkan kepada seseorang untuk BERIBADAH.”[x]

Imam Adz-Dzahabi berkata:

“Tidakkah Anda melihat bahwa para sahabat, dengan cinta mereka yang begitu besar kepada Nabi ﷺ, mereka mengatakan, ‘Apakah kami tidak boleh sujud kepada Anda (ya Rasulullah)?’ Kemudian beliau berkata tidak. Kalau saja mereka diizinkan untuk itu, mereka pasti akan bersujud kepada Rasulullah ﷺ sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan, bukan sebagai sujud ibadah, seperti yang dilakukan oleh saudara-saudaranya Yusuf Alaihissalam yang bersujud kepada Yusuf.”

“Hal serupa juga bisa dikatakan kepada orang Islam yang bersujud kepada kuburan Nabi ﷺ sebagai bentuk penghormatan atau salam. Hal itu bukan merupakan kekufuran, tetapi pelakunya berdosa. Sehingga dia harus dikasih tahu bahwa hal itu haram. Pun demikian dengan salat menghadap kuburan.”[xi]

4. Sujudnya Binatang kepada Nabi ﷺ

Terdapat di dalam beberapa hadis bahwa beberapa hewan bersujud kepada Nabi ﷺ. Jika semata sujud saja merupakan suatu kekafiran, tentu hal itu tidak akan terjadi kepada Nabi ﷺ.

Syaikhul Islam berkata:

وَقَدْ كَانَتْ الْبَهَائِمُ تَسْجُدُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَالْبَهَائِمُ لَا تَعْبُدُ إلا اللَّهَ ، فَكَيْفَ يُقَالُ : يَلْزَمُ مِنْ السُّجُودِ لِشَيْءِ عِبَادَتُهُ ؟!

“Binatang bersujud kepada Nabi ﷺ. Padahal binatang tidak menyembah kecuali hanya Allah semata. Lalu bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa semata sujud saja kepada sesuatu otomatis disebut ibadah?”[xii]

5. Sujud dan Tauhid

“Semata-mata sujud”, ia adalah satu dari sekian perkara syariat yang hukumnya bisa berubah dari syariat yang lainnya. Berbeda dengan perkara tauhid, yang ia tegak di dalam hati. Perkara tauhid ini akan selalu tetap, tidak berubah-ubah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

أمَّا الْخُضُوعُ وَالْقُنُوتُ بِالْقُلُوبِ ، وَالِاعْتِرَافُ بِالرُّبُوبِيَّةِ وَالْعُبُودِيَّةِ : فَهَذَا لَا يَكُونُ عَلَى الْإِطْلَاقِ إلَّا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَحْدَهُ ، وَهُوَ فِي غَيْرِهِ مُمْتَنِعٌ بَاطِلٌ.

“Tentang ketundukan dan menghinakan diri dengan hati, mengakui rububiyah dan uluhiyah, ini semua mutlak tidak boleh ditujukan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Jika ditujukan kepada selain Allah, itu dilarang dan tidak sah.”

وَأَمَّا السُّجُودُ : فَشَرِيعَةٌ مِنْ الشَّرَائِعِ ؛ إذْ أَمَرَنَا اللَّهُ تَعَالَى أَنْ نَسْجُدَ لَهُ ، وَلَوْ أَمَرَنَا أَنْ نَسْجُدَ لِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ غَيْرِهِ : لَسَجَدْنَا لِذَلِكَ الْغَيْرِ ، طَاعَةً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، إذْ أَحَبَّ أَنْ نُعَظِّمَ مَنْ سَجَدْنَا لَهُ،. وَلَوْ لَمْ يَفْرِضْ عَلَيْنَا السُّجُودَ لَمْ يَجِبْ أَلْبَتَّةَ فِعْلُهُ .

“Tentang sujud, ini erat kaitannya dengan syariat dan ketetapan, karena Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk bersujud kepadaNya. Jika Allah memerintahkan kita untuk bersujud kepada makhluk, atau apa pun selain Allah, kita tentu akan melakukannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah azza wa jalla, jika Allah menginginkan dari hal itu sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang kita disuruh bersujud kepadanya. Jika Allah tidak mewajibkan kita untuk bersujud, kita tidak boleh bersujud.”

فَسُجُودُ الْمَلَائِكَةِ لِآدَمَ : عِبَادَةٌ لِلَّهِ ، وَطَاعَةٌ لَهُ وَقُرْبَةٌ يَتَقَرَّبُونَ بِهَا إلَيْهِ ، وَهُوَ لِآدَمَ تَشْرِيفٌ وَتَكْرِيمٌ وَتَعْظِيمٌ.

“Tentang sujudnya malaikat kepada Adam, itu adalah bentuk ibadah kepada Allah, sebagai bentuk ketaatan kepadaNya, dan upaya untuk mendekatkan diri kepadaNya. Bagi Adam, itu merupakan suatu pemuliaan, penghormatan, dan pengagungan.”

وَسُجُودُ إخْوَةِ يُوسُفَ لَهُ : تَحِيَّةٌ وَسَلَامٌ ؛ أَلَا تَرَى أَنَّ يُوسُفَ لَوْ سَجَدَ لِأَبَوَيْهِ تَحِيَّةً ، لَمْ يُكْرَهْ لَهُ

“Tentang sujudnya saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, itu merupakan suatu penghormatan dan salam. Tidakkah Anda melihat bahwa ketika ayahnya bersujud kepada Yusuf sebagai bentuk penghormatan, Yusuf tenyata menunjukkan ketidaksukaan akan hal itu?”[xiii]

6. Membedakan Sujud Ibadah dan Sujud Penghormatan adalah Pendapat Mayoritas Ulama

Membedakan sujud ibadah dan sujud penghormatan adalah pendapat mayoritas ulama dari berbagai mazhab.

Fakhrudin Az-Zaila’i berkata:

“Apa yang mereka lakukan, yaitu mencium tanah di depan ulama, itu adalah haram. Orang yang melakukannya, dan orang yang menyetujuinya, mereka berdosa. Karena hal itu menyerupai peribadatan kepada berhala.”

“Di dalam As-Sadr Asy-Syahid tertulis bahwa pelakunya tidak menjadi kafir karena melakukan sujud seperti ini, karena niat mereka hanya sebagai bentuk penghormatan.”[xiv]

Ibnu Nujaim al-Hanafi berkata:

“Sujud kepada penguasa tirani adalah kekafiran, jika hal itu diniatkan untuk menghamba atau beribadah, tetapi bukan kekafiran jika diniatkan sebagai penghormatan. Ini adalah pendapat mayoritas.”[xv]

Imam An-Nawawi berkata:

“Apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang-orang jahil, yaitu bersujud kepada syaikh mereka, maka itu jelas haram, apa pun dasarnya, baik itu menghadap kiblat atau tidak, baik itu diniatkan untuk bersujud kepada Allah ta’ala atau dilakukan karena kebodohan. Di beberapa kasus, hal itu merupakan suatu kekafiran, atau lebih dekat dengan kekafiran. Semoga Allah Al-Karim mengampuni kita.”[xvi]

Syihabudin Ar-Ramli berkata, “Semata sujud di hadapan syaikh bukan berarti bahwa memuliakan syaikh tersebut seperti memuliakan Allah, subhanahu wa ta’ala, yakni bukan berarti mengibadahinya. Tindakan itu menjadi kekufuran jika ada niat.”[xvii]

Ar-Ruhaibani berkata:

السُّجُودُ لِلْحُكَّامِ وَالْمَوْتَى بِقَصْدِ الْعِبَادَةِ : كَفْرٌ ، قَوْلًا وَاحِدًا ، بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ . وَالتَّحِيَّةُ لِمَخْلُوقٍ بِالسُّجُودِ لَهُ : كَبِيرَةٌ مِنْ الْكَبَائِرِ الْعِظَامِ

“Sujud kepada penguasa, atau sujud kepada orang mati, dengan niat ibadah, ini adalah kekafiran. Ini adalah kesepakatan umat Islam. Penghormatan kepada makhluk dengan bersujud kepadanya adalah satu dari sekian dosa-dosa besar yang sangat besar.”[xviii]

Imam Asy-Syaukani berkata:

“Penting untuk dijelaskan di sini bahwa jika sujud dilakukan dengan niat untuk menegaskan rububiyah seseorang yang disujudi, maka sujud dalam hal ini adalah kesyirikan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Tindakan ini merupakan penegasan bahwa ada sesembahan selain Allah.”

“Tetapi jika niatnya hanya untuk menunjukkan penghormatan, seperti yang sering terjadi pada mereka yang mendatangi raja-raja non-Arab, mereka mencium lantai sebagai penghormatan kepada raja tersebut, hal ini bukan kekufuran sama sekali. Semua ulama sepakat bahwa takfir (menjatuhkan vonis bahwa seseorang kafir) adalah perkara yang sangat serius, tidak boleh main-main.”[xix]

Syekh Muhammad bin Ibrahim berkata:

الانحناء عند السلام حرام ، إذا قصد به التحية ، وأَما إن قصد به العبادة فكفر

“Menunduk sebagai bentuk salam adalah haram, jika diniatkan untuk menghormati seseorang. Jika diniatkan sebagai ibadah, maka itu kekafiran.”[xx]

Syaikh Abdul Aziz Abdul Latif berkata:

“Sudah dimaklumi bahwa sujud ibadah, ia tegak di atas sifat menghinakan diri, menundukkan diri, hormat kepada Allah semata. Ini adalah bagian dari tauhid yang diserukan oleh para Nabi. Jika ini ditujukan untuk selain Allah, maka ini syirik, mengadakan tandingan kepada Allah.”

“Tetapi jika seseorang bersujud kepada ayahnya, atau kepada seorang ulama dan yang semisal, dan niatnya untuk menghormati dan menunjukkan penghormatan, maka ini termasuk perkara yang haram, dilarang, bukan kesyirikan. Tetapi jika niatnya untuk menghamba dan tunduk, maka ini termasuk kesyirikan.”[xxi]

Ringkasan dan Penutup

Jadi, tentang fenomena Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Bu Risma) yang bersujud kepada selain Allah, yaitu kepada pengurus IDI, maka silakan gunakan ringkasan dari fatwa di atas, yaitu:

“Sujud kepada selain Allah bukan merupakan kekafiran, kecuali jika sujud itu dilakukan sebagai bentuk penghambaan atau ibadah. Jika sematan dilakukan sebagai penghormatan, ini termasuk DOSA BESAR, tetapi bukan kekafiran.” Wallahu’alam.

Fatwa No: 229780

Tanggal: 8 Juli 2016

Sumber: Islam Sual wa Jawab

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)


[i] Majmu fatawa: 4/361

[ii] Majmu fatawa: 4/358

[iii] Jami al-Masa’il: 1/25

[iv] Al-Jami li Ahkamil Quran: 1/294

[v] Ahkamul Quran: 1/27

[vi] Al-Fasli fil Milal wal Ahwa Wan Nihal: 2/129

[vii] Jamiul Bayan: 13/356

[viii] Tafsir Al-Quranil Azhim: 4/412

[ix] Sunan Ibnu Majah: 1835. Al-Albani: Hasan

[x] Majmu Fatawa: 4/360

[xi] Mu’jam Asy-Syuyuk Al-Kabir: 1/73

[xii] Majmu Fatawa: 4/360

[xiii] Majmu Fatawa: 4/360

[xiv] Tabyinul Haqaiq: 6/25

[xv] Al-Bahru Ar-Ra’iq: 5/134

[xvi] Majmu Syarah Al-Muhazab: 4/69

[xvii] Nihayatul Muhtaj ila Syarah al-Minhaj: 1/122

[xviii] Matalibulin Nuha: 6/278

[xix] As-Sail al-Jarar: 4/580

[xx] Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu Syaikh: 1/109

[xxi] Nawaqidul Iman Al-Qauliyah wal Amaliyah: 278