Pembaca situs mukminun.com yang semoga dirahmati Allah, sebagai orang Islam, ketika kita mendengar sumpah pocong, hendaknya kita harus bertanya dulu, apakah ada tuntunan seperti ini di dalam Islam? Kalau toh kita tidak tahu mengenai sumpah pocong, hendaknya kita bertanya kepada orang yang dikenal alim, pandai dalam masalah agama, syukur-syukur dia orang yang wara dalam urusan dunia. Sehingga dengan begitu kita bisa mendapat jawaban yang benar, sesuai sunnah. Allah ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada ahli zikir (ulama), jika kamu tidak mengetahuinya,” (Surat An Nahl 43).

Lalu jika tidak ada ulama, ustadz yang pandai dalam masalah agama dan memiliki sifat wara, silakan memakai Google. Tetapi ingat, ada banyak situs yang tidak bisa dipercaya dalam menyajikan informasi keislaman.

Sudah menjadi kebiasaan di situs mukminun.com untuk menyuguhkan fatwa atau tanya-jawab Islam dari para ulama timur tengah, yang insya Allah terkenal kealimannya dan kewaraannya. Hanya saja, untuk sumpah pocong, karena ini identik dengan kebiasaan beberapa masyarakat Indonesia, maka kali ini kami suguhkan jawaban Ustadz Khalid Basalamah ketika ditanya tentang sumpah pocong dalam Islam. Berikut kutipan fatwa beliau:

Sumpah pocong tidak ada dalam Islam. Saya sudah bilang, ada hukum li’an. Yaitu saling melaknat, dan sudah saya jelaskan pekan lalu masalah ini. Caranya:

1. Yang menuduh bersumpah empat (4) kali atas nama Allah kalau yang sedang dia tuduh betul-betul selingkuh atau berzina, ini dalam konteks suami istri, kemudian sumpahnya yang kelima (5) dia meminta murkanya Allah, laknatnya Allah datang kepada dia kalau dia dusta.

2. Yang dituduh menjawab dengan sumpah empat (4) kali atas nama Allah bahwa jika pasangannya bohong, dan yang kelima, murkanya Allah akan datang kepada dia kalau dia dusta.

Itu yang ada dalam Islam, li’an, bukan sumpah pocong. Lalu bagaimana kalau bukan suami istri?

Misal di kampung-kampung, banyak orang Indonesia begitu ya. Menuduh orang lain berzina, misalnya, tetangga misalkan. Maka untuk memastikan, lalu dipakaikan kain kafan, dibacakan surat Yasin.

Banyak teman-teman kita kaum muslimin, semoga Allah memberi hidayah kepada mereka, mereka berpendapat bahwa, “Yang penting ada zikirnya. Yang penting ada ayat Qurannya. Mau ada perintah, tidak ada perintah, terserah.”

Ini tidak boleh, teman-teman sekalian.

Datangkan satu riwayat buat kami kalau memang Nabi ﷺ pernah ikat sahabat dengan kain kafan, lalu dibacain surat Yasin. Ada tidak riwayatnya?

Kita punya syariat jelas. Mengapa harus berbuat apa-apa yang tidak ada perintahnya? Wallahu’alam bish shawwab.